Kupi Beungoh
Orang Beriman Itu: Bersegera Memenuhi Panggilan Shalat
Jika azan sedang berkumandang, gerak langkah itu kita lihat semakin cepat, bahkan ada yang berlari-lari kecil agar tidak terlambat.
Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
Kita melihat satu jam, 2 jam sebelum waktu shalat tiba, para jama'ah sudah berlomba-lomba menuju Masjid Nabawi, seolah-olah tidak ingin ketinggalan jama'ah shalat. Ada yang sehat jalannya gagah dengan dua kaki, yang tidak sehat jalannya menggunakan tongkat atau kursi roda.
Jika azan sedang berkumandang, gerak langkah itu kita lihat semakin cepat, bahkan ada yang berlari-lari kecil agar tidak terlambat.
Yang sudah terlambat karena sudah terdengar suara iqamat, atau terdengar suara imam sudah membaca Takbiratul Ihram, maka pada tempat ia sedang berdiri, dilangkah terakhir menuju Masjid, maka di tempat tersebut ia membentangkan sajadah berdiri shalat. Inilah ukuran keimanan seorang muslim, tidak ada yang lebih utama, selain bersegera memenuhi panggilan Rabbnya.
Realita Umat Islam Di Aceh
Lalu bagaimana di negeri kita, Aceh? Azan berkumandang orang-orang masih tetap bekerja, dan beraktifitas seperti biasa, seolah-olah azan itu tidak bermakna, hanya sedikit yang bersegera shalat, sebagai tanda ia patuh pada panggilan Rabbnya. Yang lainnya? Mereka ada urusan yang lebih penting dan utama dari Rabb-Nya (Penciptanya, pemberi rezeki dan kehidupan baginya) memanggilnya untuk menghadap.
Lebih prihatin lagi ketika azan Shalat Magrib berkumandang dari mesjid-mesjid. Warkop kafe ditutup, lampu dimatikan, tapi orang-orang di dalamnya banyak yang tidak bergerak untuk shalat, baik itu untuk shalat sendiri-sendiri atau melangkah ke mesjid untuk berjama'ah.
Meski mesjid nya sangat dekat, sangat mudah dijangkau. Apa yang mereka lakukan? Ada yang sibuk rapat, sibuk bekerja, sibuk mengajar, atau sedang melakukan kegiatan lainnya, shalat bukan prioritas utama, padahal itulah jalan mendidik yang utama, mendidik ta'at kepada Rabb penciptanya.
Hasil penelitian Ainal Mardhiah tahun 2023 bersama Boby Syahfitra, Alil Aulia Syahfitra, Ar Rayyan Syahfitra, Alfin Ali Syahfitra di 26 warkop dan kafe di Aceh. Ditemukan bahwa 80 persen dari jumlah pengunjung kafe dan warkop, termasuk kasir dan pelayan tidak melaksanakan shalat magrib, meski di warkop dan kefe tersebut terdapat mushalla atau tempat shalat. Meski di dekat warkop atau kefe tersebut terdapat Mesjid yang fasilitasnya sangat memadai.
Lalu apa yang mereka lakukan pada saat azan shalat magrib tersebut? Mereka main handphone, gadged. Dalam gelap lampu warkop dan kafe, yang dimatikan pada sa'at azan Magrib berkumandang di Mesjid-Mesjid terdekat, saya melihat mereka (pengunjung itu) main game, nonton youtube, nonton tiktok, judi online atau lainnya, sedangkan pelayan duduk istirahat dan merokok. Ketika saya tanyakan kenapa tidak shalat magrib? Mereka diam, hanya memandang saya, namun tidak bergerak dari tempat duduk semula.
Mereka itu ada yang masih muda, kira-kira sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi (PT), ada juga yang sudah tua.
Revitalisasi Kurikulum Pendidikan Islam
Generasi sepertini ini, adalah sebuah generasi yang sangat memprihatinkan, yang perlu perhatian serius dari berbagai pihak. Pihak orang tua dan sekolah untuk mengutamakan pendidikan Agama semenjak dini, semenjak anak memasuki sekolah Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi.
Mengutamakan pembelajaran membaca, menulis agar anak bisa membaca berbagai buku pelajaran, sehinggga tidak sibuk dengan gedget tanpa diawasi. Mengutamakan pembelajaran Bahasa Arab agar dapat memahami Al-Qur'an dan Hadits. Selanjutnya mengajarkan cara membaca Al-Qur'an dan Hadits dengan baik dan benar beserta keutamaan dan kewajiban menta'ati semua perintah yang ada di dalamnya.
Mengutamakan mengajarkan berbagai pengetahuan dan praktek yang berkaitan dengan ibadah, dan syari'at Islam, berkaitan dengan Al-Qur'an dan Hadis sebagai bekal bagi anak didik di dunia dan akhirat. Hal ini wajib dilakukan oleh guru dan orang tua, sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan umum lainnnya untuk bekalan dunia.
| Meugang di Persimpangan Tradisi dan Modernitas: Antara Kearifan Lokal dan Gaya Hidup Kontemporer |
|
|---|
| Remaja Aceh dan Rokok: Ancaman Nyata yang Dianggap Biasa |
|
|---|
| Perang dan Damai : Bagian 1 |
|
|---|
| Ketika Ilmu Pengetahuan Menjadi Senjata: Pelajaran dari Iran |
|
|---|
| Mineral dan Universitas: Dari Kampus Ke Industri Tambang Masa Depan : Bagian 4 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-Dosen-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh-18-2.jpg)