Opini

Marhaban Ya Ramadhan 2025

Bulan Ramadhan merupakan bulan paling ditunggu oleh setiap pribadi mukmin, karena Ramadhan membawa kemuliaan, keberkahan, rahmat, dan ampunan Allah

Editor: mufti
For Serambinews.com
Prof Dr Syahrizal Abbas MA, Ketua Prodi S3 Fiqh Modern Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Prof Dr Syahrizal Abbas MA, Ketua Prodi S3 Fiqh Modern Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh

MARHABAN Ya Ramadhan, selamat datang Ramadhan. Alhamdulillah, kita sekarang berada di penghujung bulan Sya’ban 1446 H, dan tak lama lagi memasuki bulan suci Ramadan. Bulan Ramadhan merupakan bulan paling ditunggu oleh setiap pribadi mukmin, karena Ramadhan membawa kemuliaan, keberkahan, rahmat, dan ampunan Allah Swt bagi hamba-Nya.

Ramadhan adalah bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah, dan bulan ini mengandung kelebihan (fadhilah) luar biasa,  bila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Kelebihan Ramadhan sudah bisa dirasakan oleh setiap mukmin, ketika  masih berada di bulan Sya’ban, dan belum memasuki Ramadhan. Allah Swt sudah menjanjikan pahala yang besar berupa terbebas dari api neraka kepada setiap mukmin,  yang hatinya gembira ketika Ramadhan datang.

Janji Allah Swt ini termaktub dalam ungkapan Nabi Saw pada salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’iy, yang artinya: “Barang siapa yang hatinya bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikitpun dengan api neraka”. Hadis ini memberikan gambaran bahwa orang yang bergembira menyambut Ramadhan dengan ikhlas, hati bersih dan penuh harap  mendapatkan ampunan Allah Swt, maka orang tersebut akan terbebas dari jilatan api neraka.

Kegembiraan yang dimaksud hadis ini, bukanlah kegembiraan hura-hura, berleha-leha dan menyambut Ramadhan dengan kegiatan yang tidak bermanfaat (lagha), tetapi kegembiraan yang lahir karena keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt, demi menyongsong bulan suci Ramadhan.

Kegembiraan dan perayaan menyambut tamu agung Ramadhan sebagai sayyidussyuhur dan syahrun mubarak telah dipraktikkan  oleh Nabi Saw dan sahabat melalui sunnahnya. Sunnah Nabi Saw dan sahabat patut menjadi referensi bagi kita hari ini, dalam menyambut Ramadan 1446 H. Sunnah Nabi Saw dan sahabat terekam dengan baik dalam sejumlah kitab hadis, baik kitab hadis Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Kitab Sunan Abu Daud, Nas’iy, Tirmizi, Ibn Majah dan Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.

Sunnah Nabi Saw dan sahabat dalam menyambut Ramadhan antara lain; berdoa di akhir bulan Sya’ban, menggelar majelis ilmu, memberitahu anak, istri, dan tetangga tentang akan tibanya Ramadhan, berpuasa sunnah di bulan Sya’ban dan saling memaafkan satu sama lain. Nabi Saw dan sahabat senantiasa berdoa di akhir bulan Sya’ban. Doa Nabi Saw pada akhir bulan Sya’ban dan memasuki Ramadhan terekam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan”.

Nabi dan sahabat sering berdoa di akhir Sya’ban, dengan harapan agar Allah Swt mempertemukannya dengan Ramadhan. Kadang-kadang  muncul kekhawatiran dalam benak pribadi mukmin, apakah kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun ini, walaupun kita sudah berada di penghujung Sya’ban. Setiap mukmin pasti berharap dapat membersamai Ramadhan, bulan agung nan mulia yang membawa kewajiban puasa satu bulan penuh, bulan rahmat dan ampunan, sekaligus bulan yang  mengantarkan orang berpuasa pada derajat takwa. Kekhawatiran dan harapan ini wajar, mengingat tidak ada satu kekuatan pun yang dapat memastikan seseorang bertemu dengan  Ramadhan, kecuali Allah Swt. Hanya Allah-lah yang menentukan seseorang bisa bertemu atau tidak dengan Ramadhan tahun ini.

Memaksimalkan ibadah

Pada penghujung bulan Sya’ban Nabi Saw dan sahabat sangat sering menggelar majelis ilmu dengan fokus puasa dan fadhilah amal Ramadhan. Praktik atau sunnah ini dimaksudkan untuk memberikan bekal ilmu terkait puasa berupa rukun, syarat, sunah dalam berpuasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain. Majelis ilmu memberikan motivasi agar setiap mukmin memiliki semangat sungguh-sungguh dalam beribadah dan memanfaatkan hari-hari Ramadhan penuh dengan puasa, shalat wajib dan sunnah, zikir, iktikaf, membaca al-Qur’an bersedekah, infak dan amalan kebaikan lainnya. Amat rugi kiranya, bila Ramadhan berlalu, sedangkan kita tidak tergolong orang bertakwa dengan kehadiran Ramadhan.

Sunnah atau tradisi Nabi Saw yang lain di bulan Sya’ban adalah berpuasa sunnah. Tradisi ini diungkapkan oleh Siti  ‘Aisyah dalam salah satu riwayatnya. Aisyah berkata ; “Bahwa saya tidak pernah melihat Nabi Saw berpuasa sebulan penuh kecuali puasa di bulan Ramadan, dan saya tidak pernah melihat Nabi Saw berpuasa paling sering (intens), kecuali puasa sunah di bulan Sya’ban”. Sunnah Nabi Saw ini memberikan pelajaran bahwa  Nabi Saw sangat sering berpuasa sunnah di bulan  Sya’ban sebagai bentuk persiapan fisik dan mental menghadapi puasa Ramadan satu bulan penuh. Nabi Saw, lebih banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban dengan pertimbangan bahwa malaikat turun ke bumi di Bulan Sya’ban, guna mengumpulkan amalan hamba untuk disampaikan kepada Allah Swt. Nabi Saw amat senang, ketika malaikat menyampaikan amalan hamba kepada Allah Swt dan kondisi Nabi Saw dalam keadaan berpuasa.

Pada hari-hari terakhir bulan Sya’ban, Nabi Saw sering menginformasikan kepada sahabat akan kedatangan saidussyuhur, bulan Ramadhan mulia dan penuh berkah. Tradisi Nabi Saw ini terekam dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’iy yang artinya:”Telah datang kepadamu bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah Swt telah mewajibkan kepadamu  berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu pula, Allah Swt bukakan pintu surga dan Allah Swt tutup rapat pintu neraka serta dibelenggunya syaitan-syaitan. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang  nilainya lebih baik dari seribu bulan, dan itulah yang disebut malam qadar.

Tujuan Nabi Saw menginformasikan kedatangan Ramadhan kepada para sahabat dan keluarga, agar mereka mempersiapkan diri menyambut Ramadhan sekaligus menyusun perencanaan untuk memaksimalkan ibadah di bulan suci nan berkah. Mengingat, ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba di bulan Ramadhan, baik berupa ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah amat jauh berbeda nilainya, bila amalan tersebut dikerjakan pada bulan lain di luar Ramadhan. Bahkan puasa Ramadhan seorang hamba  memiliki nilai istimewa di sisi Allah Swt, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,  yang artinya: “Setiap amal ibadah anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa Ramadhan. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”.

Hadis ini menggambarkan keistimewaan ibadah puasa Ramadhan di sisi Allah Swt, karena Allah Swt sendiri yang membalas dan memberikan pahala terhadap ibadah tersebut. Dalam hadis lain, Nabi Saw menegaskan, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan penuh keimanan dan ihtisab (perhitungan), maka Allah Swt akan mengampuni dosanya yang telah lalu”.

Mengingat besarnya nilai ibadah di bulan Ramadhan, mari kita mempersiapkan diri baik fisik maupun mental, serta menyusun perencanaan ibadah di bulan mulia yang penuh barakah. Kita tidak tahu apakah Allah Swt masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadhan yang akan datang. Kita berdoa kepada Allah Swt, agar diberikan kekuatan iman, kesehatan dan kesempatan untuk mengisi hari-hari Ramadhan penuh dengan ibadah ritual dan ibadah sosial, yang pada akhir kita berharap agar Allah Swt menggolongkan kita ke dalam hamba-Nya yang muttaqin…Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1446 H. Amin..Ya Rabbal ‘Alamin.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved