RAMADHAN MUBARAK
Filosofi Ramadhan Mubarak
Pengetahuan tentang hikmah berpuasa ini tentu menjadi hal penting bagi siapapun yang hendak berpuasa, karena kandungan nilai dan etika dalam ibadah in
Oleh: Prof. Dr. Mujiburrahman, MA. Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Harus diakui bahwa ibadah puasa pada bulan Ramadhan mengandung nilai-nilai hikmah serta makna filosofis di dalamnya. Filosofi puasa Ramadhan/ramadhan mubarak sudah seharusnya diketahui oleh umat Islam. Karena dengan mengetahui filosofi ramadhan maka hikmatus tasrik dan tujuan Ramadhan akan dapat digapai oleh setiap mukmin yang berpuasa selama satu bulan penuh. Pengetahuan tentang hikmah berpuasa ini tentu menjadi hal penting bagi siapapun yang hendak berpuasa, karena kandungan nilai dan etika dalam ibadah ini sangat luar biasa.
Secara filosofis dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan bahwa puasa hanya diwajibkan bagi orang yang beriman. Perintah ini mengindikasikan bahwa Ramadhan adalah sarana pengejewatahan ketauhidan dan keimanan seorang hamba Allah. Berpuasa merupakan bukti pengukuhan keislaman dan keimanan. Jangan mengaku sebagai orang yang beriman kalau tidak berpuasa pada bulan suci Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan.
Ikatan perintah hanya bagi yang beriman memperlihatkan bahwa mereka yang memiliki kekuatan akidah, melaksanakan syari‘ah, dan selalu memperbaiki perilakunya adalah sebagai titik keberangkatan dalam ibadah berpuasa menuju manusia yang bertakwa kepada Allah Swt.
Didasari pada pondasi keimanan kepada Allah yang kokoh, para mukmin akan mampu melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan dengan baik dan sempurna, sehingga ia mampu memetik hasilnya (pahala puasa dengan sempurna pula). Dalam kaitan ini, para ulama sering memberi perumpamaan bahwa bulan Ra’jab merupakan bulan menanam berbagai jenis tanaman (padi, sayuran, dll), bulan sya’ban adalah bulan merawat dan menyiramnya, dan bulan Ramadhan adalah bulan memetik atau memanennya.
Agar tidak gagal panen atau ibadah puasa kita diterima dan mendapat pahala di sisi Allah Swt maka kita harus memperhatikan tiga hal yang memiliki keterkaitan erat dalam ibadah puasa ramadhan, yaitu akidah, syariah dan akhlak. Ketiga aspek ini akan menentukan apakah ibadah kita akan diterima atau sebalikanya tidak diterima oleh Allah Swt.
Pertama, ditinjau dari aspek akidah, maka Ibadah puasa dan ibadah-ibadah yang lain tidak akan diterima Allah Swt bagi mereka yang dalam hati, pikiran dan perbuatannya mengandung syirik kepada Allah Swt. Pelaku syirik kecil sekalipun juga menggugurkan nilai pahala puasa, seperti orang yang berpuasa karena ria untuk mendapat sanjungan dan pujian dari manusia, bukan berpuasa karena memenuhi perintah Allah secara ikhlas.
Allah secara tegas mengingatkan hamba-Nya akan hal ini melalui firman-Nya:"Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabb-Nya maka amalkanlah amalan kebaikan dan jangan mempersekutukan Rabb-nya dengan sesuatu apapun” (QS. Al Kahfi: 110).
Kedua, diperlukan ilmu dalam melaksanakan amal ibadah kepada Allah. Seorang hamba yang beribadah puasa ramadhan yang tidak memiliki dasar keilmuan sebagaimana diajarkan oleh baginda Rasululah Saw maka ibadah puasa tersebut tidak diterima oleh Allah Swt. Agar ibadah Puasa ramadhan yang kita kerjakan diterima Allah, maka belajarlah dan pelajarilah tuntunan Rasul dalam berpuasa di bulan ramadhan (dimensi Syariah). Dalam Surah Alfurqan Allah mengatakan bahwa:” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
Sementara itu ada juga ungkapan bahwa barangsiapa beramal dengan sesuatu amalan yang tidak datangnya daripada perkara atau urusanku maka ditolak. Dalam konteks ini, Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata: “Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.”(Majmu’ Al Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2: 282). Semua pesan ini mengandaikan bahwa ilmu pengetahuan menjadi hal yang sangat penting dalam melaksanakan perintah Allah.
Ketiga, ditinjau dari dimensi akhlak, puasa ramadhan tidak diterima dan gugur pahala puasanya karena tidak memiliki hubungan dan etika sosial yang baik dengan manusia. Setiap penceramah di bulan Ramadhan akan sering mengutip hadist yang mengatakan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i). Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah bersabda: Ada lima perbuatan yang menghapus pahala puasa, yaitu: berbohong, menggunjing, mengadu orang, bersumpah palsu, dan memandang lain jenis dengan syahwat.
Dua pesan Rasulullah ini memberikan suatu ingatan bahwa berpuasa itu memiliki penjagaan yang sangat kuat ada etika sosial. Semakin etika sosial tidak dijaga, maka dapat dipastikan hanya kelaparan dan kedahagaan semata didapatkan seseorang yang berpuasa.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mujiburrahman-3.jpg)