Opini
Aceh Butuh Pemimpin, bukan Sultan Manja
Yayasan ini bertujuan membentuk generasi unggul dengan meningkatkan kualitas pendidikan serta membuka akses yang lebih luas bagi anak-anak Indonesia.
Frida Pigny SIP MCom, Home Education Specialist, Advokat Keberagaman, Publik Speaker, Anggota Aceh Australian Alumni (AAA), dan Founder SuperSchool.ing
PADA 10 Februari kemarin, saya diundang untuk bergabung dengan Yayasan Pendidikan Kader Bangsa Indonesia (YPKBI), sebuah wadah nasional yang berdedikasi mempersiapkan generasi muda Indonesia menjadi pemimpin global yang berintegritas, berkarakter, dan memiliki keunggulan kompetitif. Yayasan ini bertujuan membentuk generasi unggul dengan meningkatkan kualitas pendidikan serta membuka akses yang lebih luas bagi anak-anak Indonesia.
Namun, ketika saya melihat kondisi di Aceh, ada sebuah fenomena yang kerap menggelitik pemikiran saya. Tidak sedikit anak muda di daerah ini yang tumbuh dalam pola asuh yang membuat mereka kurang mandiri. Masih banyak orang tua yang tanpa sadar menanamkan anggapan bahwa pekerjaan tanpa seragam bukanlah pekerjaan yang layak. Mereka juga sering kali terlalu cepat turun tangan membantu anak menyelesaikan kesulitan, tanpa memberi ruang bagi mereka untuk belajar menghadapi tantangan sendiri. Akibatnya, banyak generasi muda yang tidak terbiasa menghadapi tekanan dan sulit berkembang dalam dunia yang semakin kompetitif.
Kondisi ini mungkin tidak lepas dari memori kejayaan Aceh di era Sultan. Label "gengsi tinggi" masih melekat kuat, membentuk mentalitas masyarakat yang mengutamakan status dan simbol dibandingkan esensi perjuangan. Padahal, zaman telah berubah. Dunia saat ini menuntut individu yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing, bukan mereka yang hanya menggantungkan diri pada status sosial atau nama besar leluhur. Jika kita terus terjebak dalam pola pikir ini, maka Aceh akan kehilangan kesempatan untuk melahirkan generasi yang mampu bersaing secara global.
Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum (WEF) menegaskan bahwa keterampilan yang paling dibutuhkan di masa depan mencakup analytical thinking, daya tahan, fleksibilitas, kelincahan, serta kepemimpinan dan pengaruh sosial. Sayangnya, banyak anak muda Aceh yang masih jauh dari karakter ini. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena lingkungan dan pola asuh yang mereka terima tidak membentuk karakter kepemimpinan yang kuat.
Dalam buku saya, Raising Future Leaders: A Parent’s Handbook, saya menguraikan bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari tiga aspek utama: sikap, perilaku, dan kepercayaan diri. Sikap atau attitude menentukan bagaimana seseorang memandang dunia dan merespons tantangan. Orang tua perlu menanamkan growth mindset—yakni keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan ketekunan. Sayangnya, masih banyak yang tanpa sadar memanjakan anak dengan cara melindungi mereka dari kesulitan, padahal yang seharusnya dilakukan adalah mendorong mereka untuk berani mencoba dan belajar dari kegagalan.
Selain sikap, perilaku juga memegang peranan penting. Anak-anak perlu diajarkan empati, rasa hormat, serta keterampilan komunikasi dan kerja sama. Adab dan sopan santun khas Aceh bisa menjadi modal kuat dalam membentuk karakter kepemimpinan. Namun, itu semua harus disertai dengan kebiasaan berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Kepercayaan diri juga tak kalah penting. Anak-anak yang diberi kesempatan untuk mengambil inisiatif, menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab atas keputusan mereka akan tumbuh menjadi pemimpin yang berani. Sebaliknya, jika mereka selalu berada di bawah perlindungan berlebih, mereka akan sulit berkembang dan cenderung takut mengambil risiko.
Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah lingkungan sosial. Saya banyak belajar dari perjalanan saya ke berbagai kota di pulau Jawa sepanjang tahun 2024, mengikuti seminar dan pelatihan pengembangan diri yang mempertemukan saya dengan individu-individu luar biasa dari berbagai latar belakang. Satu hal yang selalu membuat saya tercenung adalah betapa jarangnya saya menemukan perwakilan dari Aceh dalam forum-forum tersebut.
Padahal, lingkungan pergaulan sangat menentukan perkembangan diri seseorang. Sebuah pepatah mengatakan, "Anda adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering berinteraksi dengan Anda”. Jika lingkungan kita dipenuhi dengan individu yang hanya mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau merasa nyaman dalam keterbatasan tanpa berusaha berkembang, maka kita pun akan terjebak dalam mentalitas yang sama.
Menanam keyakinan
Dalam perjalanan tersebut, saya juga belajar tentang pentingnya menghindari lingkungan dengan pola pikir yang tidak berkembang, guru besar saya sebut itu sebagai lingkungan BEJ: Blaming (suka menyalahkan orang lain tanpa introspeksi), Excuses (penuh alasan untuk tidak berkembang), dan Justification (membenarkan kebiasaan buruk sebagai sesuatu yang wajar). Individu yang terus menerus berada dalam lingkungan seperti ini akan kesulitan maju, karena lingkungannya tidak mendukung pertumbuhan secara pribadi dan profesional. Menurut saya, ada dua cara utama untuk menghindari lingkungan BEJ, baik untuk diri sendiri maupun untuk anak-anak kita.
Pertama, dari dalam diri atau secara intrinsik. Kita bisa mulai dengan refleksi diri—misalnya melalui journaling—untuk menyadari apakah kita sedang berada di lingkungan yang tidak sehat. Jika iya, kita bisa membatasi interaksi dan mulai mencari komunitas yang lebih positif.
Kedua, dari faktor eksternal atau secara ekstrinsik. Ini bisa dilakukan dengan mencari lingkungan yang lebih baik, seperti pindah tempat tinggal, mengubah lingkaran pergaulan, atau aktif mengikuti kegiatan yang mengembangkan diri. Menghindari paparan terhadap tontonan negatif, gosip selebritis, lagu-lagu sendu patah hati dan media sosial receh yang tidak membangun juga dapat membantu meningkatkan kualitas diri.
Sebagai orang tua, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kepemimpinan anak-anak kita. Kita perlu memberi mereka kesempatan untuk berinteraksi dengan individu yang memiliki semangat belajar tinggi dan berpikir positif. Selain itu, kita sendiri harus menjadi contoh yang baik dengan terus meningkatkan kualitas diri dan berusaha menginspirasi. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang mendorong keberanian, kemandirian, dan kreativitas akan lebih siap menghadapi dunia yang semakin kompetitif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FRIDA-PIGNY-2025.jpg)