RAMADHAN MUBARAK
Ramadhan, Media Pengampunan
Selama masih hidup manusia akan selalu berjumpa dengan masalah dan kesukaran. Tapi bagi orang yang membiasakan diri membaca istihgfar, memohon ampunan
Oleh Dr. Munawar A Djalil, MA, Pegiat Dakwah/Kadisdik Dayah Aceh
Dunia adalah agenda persoalan hidup, manusia berusaha dan berjalan menapaki persoalan. Makin hari usia manusia makin bertambah, makin banyak persoalan yang harus diatasi, makin jauh kaki melangkah makin banyak problema yang dihadapi. Makin tinggi status sosial, makin tinggi tingkat kesulitan yang mesti dihadapi dan mesti diselesaikan.
Selama masih hidup manusia akan selalu berjumpa dengan masalah dan kesukaran. Tapi bagi orang yang membiasakan diri membaca istihgfar, memohon ampunan Allah akan memberikan jalan keluar bagi berbagai kesulitan yang dihadapinya.
Rasul bersabda: “Barang siapa yang memperbanyak istighfar, maka Allah akan membebaskannya dari kedukaan dan memberikan jalan keluar dari kesempitan dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (Riwayat Abu Daud).
Salah satu misi utama Ramadhan adalah sebagai bulanuntuk beribadah dan media meminta ampun kepada Allah. Sekaligus menunjukan tanda kepemurahan Allah yaitu walaupun seorang hambanya sudah melakukan perbuatan salah dan dosa tapi tidak seketika itu juga dijatuhkan siksa atau balasan. Semua pembalasan ditangguhkan sampai dalam kehidupan akhirat nanti.
Selama dalam kehidupan dunia diberikannya kesempatan kepada setiap orang yang melakukan dosa untuk memohon ampunan dan kembali kepada kesucian yang dalam istilah A-Qur’an disebut dengan “Taubat nashuha” yaitu taubat yang sungguh-sungguh serius dan ikhlas.
Imam Al-ghazali menyatakan bahwa hakikat taubat ituialah meninggalkan dosa dengan niat tidak akan kembali lagimelakukan dosa pada waktu yang lain. Lebih jauh Imam Al-Ghzali menguraikan bahwa taubat itu mengandung tiga unsur: Ilmu, keadaan, dan Perbuatan.
Taubat itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan ilmu artinya, disadari sepenuh hati bahwa perbuatan yang sudah dilakukan itu adalah satu perbuatan dosa. Sesudah hal itu diketahui hendaklah timbul satu situasi jeritan hati nurani yang membuat diri sendiri menyesal melakukan perbuatan dosa itu.
Para ulama memperinci bahwa syarat taubat itu ada tiga perkara yaitu: Mencabut akar-akar maksiat yang sudah dilakukan, menyesali perbuatan itu dengan sungguh-sungguh dan berniat tidak akan mengulangi perbuatan tersebut.
Syarat-syarat ini mengenai kejahatan yang berhubungan antara manusia dengan Allah. Adapun jika bersangkut paut dengan manusia, ditambah lagi satu syarat yang keempat, yaitu harus ada satu tindak penyelesaian dengan orang yang bersangkutan, dengan meminta maaf dan sebagainya.
Setiap dosa yang dilakukan, Allah masih memberikan kesempatan bertaubat kepada kita asal dilakukan dengan penuh penyesalan, jangan punya mentalitas bahwa kalau sudah tua nanti baru bertaubat, mental seperti ini adalah sesat dan menyesatkan.
Siapakah yang dapat memastikan bahwa orang baru akan meninggal di usia tua? Bukankah banyak yang sudah meninggal dalam usia yang sangat muda?
Orang-orang yang melakukan taubat nasuha yaitu didasarkan kepada kesadaran dan kesungguhan pada umumnya akan membentuk wataknya menjadi seorang yang suka mengerjakan amal kebaikan. Susunan ayat yang berkenaan dengan taubat, kerap kali dirangkaikan dengan kata-kata amal baik.
Diantaranya Surat Thaha 82: “Dan sesungguhnya Aku maha pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal salih kemudian dia tetap pada jalan yang benar.”
Sepanjang nafas belum tiba di tenggorokan, selagi matahari masih terbit di timur, Allah akan menerima taubat hambanya. Rasullullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hambanya sebelum nyawa sampai ke tenggorokan”. Oleh karenanya, pastikan Ramadhan tahun ini menjadi media terbaik membersihkan jiwa dan mendapat ampunan Allah Swt.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/munawar-a-djalil-78.jpg)