RAMADHAN MUBARAK

Meneguhkan Nilai-nilai Syariah dalam Hidup

Ramadhan sejatinya menjadi momentum istimewa untuk merefleksikan dan memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai agama dalam segala aspek kehidupan.

Editor: mufti
IST
Dr M Gaussyah, SH, MH,. Komisaris Independen Bank Aceh 

Oleh Dr M Gaussyah, SH, MH,. Komisaris Independen Bank Aceh

Ramadhan, bulan penuh berkah, selain sebagai madrasah bagi umat Islam untuk menempa diri, meningkatkan ketakwaan, seyogyanya juga meneguhkan nilai-nilai syariah dalam kehidupan sehari-hari. 

Di Aceh yang dikenal dengan penerapan syariat Islam, Ramadhan sejatinya menjadi momentum istimewa untuk merefleksikan dan memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai agama dalam segala aspek kehidupan.

Puasa, sebagai rukun Islam yang wajib dilaksanakan, bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Lebih dari itu, puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, melatih kesabaran, dan meningkatkan empati terhadap sesama. 

Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip-prinsip syariah yang menekankan pentingnya pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian sosial. Lebih jauh, puasa melatih kepekaan kita terhadap penderitaan sesama, membangkitkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, dan mendorong kita untuk berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. 

Dalam konteks Aceh, di mana solidaritas dan kebersamaan menjadi bagian dari budaya, puasa menjadi momentum untuk memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa saling peduli.

Sementara dalam konteks perbankan, Ramadhan menjadi momentum untuk memperkuat penerapan pronsip-prinsip syariah dalam operasional perbankan. 

Bank Aceh, sebagai bank syariah yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh, memiliki peran penting dalam mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk bertransaksi secara syariah. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah Aceh dalam mewujudkan ekonomi syariah yang kuat dan berkelanjutan.

Di kehidupan sehari-hari, Ramadhan menjadi mementum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak sedekah, dan mempererat tali silaturahmi. Masyarakat Aceh dikenal dengan tradisi-tradisi Islami yang kuat, seperti meugang, buka puasa bersama, dan tadarus Al-Qur’an. Tradisi-tradisi ini bukan hanya memperkuat nilai-nilai agama, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar masyarakat.

Penerapan syariat Islam di Aceh memberikan landasan yang kuat bagi masyarakat untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai agama. Namun, penerapan syariat Islam bukan hanya tentang hukum dan aturan, tetapi juga tentang pembiasaan diri dengan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. 

Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat pembiasaan diri ini, sehingga nilai-nilai syariah tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Aceh.

Dalam konteks yang lebih luas, para ahli fikih, seperti Imam Al-Ghazali, menekankan bahwa puasa bukan hanya tentang menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik, tetapi juga tentang menjaga hati dan pikiran dari segala bentuk dosa dan maksiat. Puasa yang hakiki adalah puasa yang mampu membersihkan jiwa dan meningkatkan kualitas spiritual seseorang.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi batin yang sangat penting, yaitu puasa hati dari segala bentuk penyakit hati seperti riya, sombong, dan dengki. Puasa yang demikian akan membawa seseorang pada derajat takwa yang lebih tinggi. 

Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan kita, meneguhkan nilai-nilai syariah dalam hidup kita, dan menjadikan Aceh sebagai contoh bagi daerah lain dalam penerapan syariat Islam.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved