RAMADHAN MUBARAK

Jangan Sampai Ramadhan Hanya Jadi Seremonial

Perjalanan Ramadhan sudah sampai di pertengahan, bahkan agak ke ujung. Semangat menyambut Ramadhan pun tak pernah kendur.

Editor: mufti
IST
Tgk Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I,. Ketua Umum DPP ISAD Aceh 

Oleh Tgk Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I,. Ketua Umum DPP ISAD Aceh

Perjalanan Ramadhan sudah sampai di pertengahan, bahkan agak ke ujung. Semangat menyambut Ramadhan pun tak pernah kendur. Al-Qur'an dibuka lagi. Tapi seperti biasa, semangat itu sering kali hanya bertahan di awal.  Hari pertama, mushaf masih di tangan. Hari ketiga, ayat-ayat masih dilantunkan. Minggu pertama, jadwal khatam masih terpampang. Tapi memasuki pertengahan bulan? Lemas. Target mulai bergeser. Prioritas mulai berganti.

Begitu setiap tahun. Seakan Ramadhan hanya tentang banyaknya halaman yang dibaca. Seakan Al-Qur'an hanya untuk dikejar dalam jumlah, bukan dalam pemahaman. Padahal, Al-Qur'an turun bukan sekadar untuk dibaca. Ia adalah petunjuk. Ia adalah kompas hidup.

Tapi mari jujur. Seberapa banyak dari kita yang membaca Al-Qur'an dan benar-benar paham apa yang kita baca? Seberapa banyak yang tadabburnya sampai menyentuh hati? Seberapa banyak yang selesai membaca satu ayat, lalu berpikir: "Apa yang harus saya lakukan setelah ini?"

Ramadhan memang bulan Al-Qur'an. Tapi Ramadhan juga bulan implementasi. Kita berpuasa karena Al-Qur'an memerintahkannya. Kita shalat tarawih karena meneladani Rasulullah yang mengamalkan perintah Allah. Kita bersedekah lebih banyak, karena tahu bahwa di dalamnya ada keberkahan.

Tapi lihat juga realitanya. Al-Qur'an menyuruh kita untuk menahan diri. Tapi lihat meja makan kita saat berbuka. Berlimpah. Berlebihan. Padahal, Al-Isra:26-27 sudah mengingatkan soal pemborosan. Kita membaca surat Al-Ma'un yang mencela orang yang menghardik anak yatim. Tapi seberapa banyak anak yatim yang benar-benar kita perhatikan bulan ini?

Kita membaca Al-Baqarah 2:183 tentang puasa yang bertujuan membentuk ketakwaan. Tapi apakah puasa kita benar-benar menjadikan kita lebih bertakwa? Atau hanya sekadar menahan lapar tanpa makna?

Ini bukan sekadar refleksi pribadi. Ini pola yang terus berulang. Setiap tahun. Ramadhan datang. Al-Qur'an dibaca. Tapi isinya jarang diamalkan. Maka Ramadhan ini harus berbeda. Ramadhan ini harus menjadi momentum perubahan. Jangan berhenti di jumlah halaman yang dikejar. Jangan puas dengan target khatam yang selesai. Ramadhan ini, setiap ayat yang dibaca harus punya dampak. Harus ada aksi setelahnya.

Bukan sekadar bacaan. Tapi pegangan hidup. Cobalah mulai dari yang kecil. Satu ayat, satu tindakan. Bacalah ayat tentang sabar, lalu latih diri untuk lebih sabar hari itu. Bacalah ayat tentang kejujuran, lalu pastikan tidak ada kebohongan yang keluar dari mulut kita. Bacalah ayat tentang zakat, lalu segera cari siapa yang bisa kita bantu.

Jika setiap hari ada satu ayat yang benar-benar kita amalkan, maka Ramadhan ini akan menjadi Ramadhan yang benar-benar mengubah kita. Bukan sekadar Ramadhan yang lewat begitu saja.

Jangan biarkan Ramadhan kali ini berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan ini harus menjadi Ramadhan yang membawa perubahan. Ramadhan yang menjadikan Al-Qur'an bukan hanya dibaca, tapi benar-benar dijadikan pegangan hidup.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved