RAMADHAN MUBARAK
Ramadhan dan Keberkahan Ekonomi
Ramadhan adalah salah satu periode yang memengaruhi kehidupan masyarakat dalam banyak aspek, tidak hanya ritual ia juga menjadi momentum perputaran ek
Oleh Dr H Mohd. Heikal SE, MM. Dosen FEB Universitas Malikussaleh
Bulan kesembilan dalam kalender Hijriah yang dinamakan Ramadhan adalah salah satu periode yang memengaruhi kehidupan masyarakat dalam banyak aspek, tidak hanya ritual ia juga menjadi momentum perputaran ekonomi dan penguatan relasi sosial.
Di bulan ini pengeluaran rumah tangga dan perilaku konsumsi masyarakat muslim diperkirakan akan berubah karena puasa dan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengannya, sehingga perubahan-perubahan itu disebut sebagai Ramadhan Effect. Banyak kajian yang dilakukan terkait efek Ramadhan pada bidang ekonomi seperti perubahan harga dari variabel-variabel ekonomi, pengambilan keputusan di bidang keuangan, pengeluaran dan konsumsi makanan, peramalan permintaan dan pertumbuhan ekonomi bahkan juga terkait kebahagiaan dipelajari dan ditemukan banyak literatur, dan bagaimana kemudian efek Ramadhan membawa berkah utamanya bagi kondisi ekonomi.
Muhammad Nejatullah Siddiqi yang merupakan tokoh ekonomi Islam kontemporer, mengatakan bahwa sistem ekonomi Islam menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu, dan setiap orang idealnya harus mampu memenuhi kebutuhannya melalui apa yang dia usaha sendiri, akan halnya bagi mereka yang tidak mampu bekerja, maka harus ada jaminan kebutuhan dasar melalui zakat, infak, dan sedekah dari rezeki yang dimiliki oleh yang mampu.
Pernyataan Siddiqi ini sejalan dengan kondisi yang kita alami saat ini di tengah kompleksnya masalah yang dihadapi masyarakat sehingga membuat daya beli menjadi tertekan dan untuk itulah kemudian dibutuhkan semangat saling berbagi dan memberi karena salah satu karakteristik dari orang yang takwa sebagaimana yang menjadi ultimate goal dari pelaku ibadah shaum itu adalah …”orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit…” (Al-Qur’an surah Ali ‘Imran:134).
Ekonomi Islam menekankan kerjasama dan kebajikan sebagai norma utama dalam kehidupan ekonomi, bukan egoisme atau keserakahan. Orang-orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kemauan kuat untuk mengelola hawa nafsunya untuk tidak serakah serta mementingkan diri sendiri, karena dalam ekonomi Islam yang harus dicapai bukan hanya tentang kemajuan materi, tetapi juga tentang mencapai keseimbangan moral dan spiritual.
Keseimbangan ini menjadi penting disamping adanya elemen lain untuk melahirkan efek Ramadhan bagi keberkahan ekonomi dalam kehidupan yaitu iman dan takwa. Komponen ini justru menjadi prasyarat bagi hadirnya keberkahan yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepada setiap komunitas.
Yaitu, sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 96: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”
Kita harus membangun optimisme Ramadhan untuk menjadikan Aceh dan Indonesia meraih keberkahan ekonomi, sehingga kemiskinan sebagai realitas empiris bisa kita kendalikan agar lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty) meminjamistilah ekonom Ragnar Nurkse, semakin turun dan Aceh tidak lagi menjadi juara bertahan secara nasional dalam urusan itu.
Semangat untuk saling berbagi melalui zakat, infaq dan sedekah selama bulan Ramadhan sebagai instrumen yang dapat menciptakan perputaran uang di masyarakat guna mendorong daya beli juga munculnya lapangan kerja serta bergairahnya sektor usaha utamanya UMKM di masyarakat, sebagaimana Allah nyatakan, “(Demikian) agar harta itu tidak hanya beredardi antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (Q.S. Al-Hasyr:7).
Keberkahan yang secara bahasa berarti keberlanjutan dan bertambah bukan sekadar sebagai hasil akhir, tetapi ia merupakan proses mewujudkan kesejahteraan berkelanjutanyang diwariskan lintas generasi. Mari kita jemput keberkahan ekonomi melalui Ramadhan. Wallaahu a’lam bishshawab.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.