Jurnalisme Warga
Kenangan di Malam Hari Saat Gempa Nias
kenangan saya tentang peristiwa gempa pada malam hari yang saya dan kakak saya alami dahulu dan hingga saat ini masih teringat namanya, gempa Nias
Dalam keraguan, saya tetap berjalan di malam bersejarah tersebut. Jika keluarga saya berhenti, berarti di situlah tempatnya kami mengungsi.
Dusun Kauman ini tidak jauh dari desa kami. Ruas jalan saat itu dipenuhi orang banyak dan kendaraan sehingga harus berjalan lambat.
Kami sampai di bukit pertama dan berhenti. Banyak rumah penduduk di situ. Tempat ini sudah tak asing bagi saya karena hari-hari biasa saya sering pergi ke sini. Jalannya juga sering saya lalui saat pergi ke rumah ayah sambung saya. Rumah teman sekolah saya pun adanya di situ.
Malam tersebut terasa sangat berbeda. Saya seperti pengungsi sesungguhnya. Tempat itu juga seperti pertama kali saya datangi. Kami berhenti di depan rumah orang yang masih saudara juga. Duduk di atas batu yang tersusun rapi sambil memperhatikan sekeliling dengan saksama, tak bersuara.
Saat ada orang menyapa dan bertanya, saya hanya tersenyum serta memberikan jawaban singkat saja.
Kalau tak salah, teman saya mengajak masuk ke rumahnya, tetapi saya menolak. Keluarga sambung pun mengajak ke rumahnya, tapi saya menolak juga dengan sopan. Saya berpikir, waktu mengungsi sama-sama susah, maka susah dan senang pun harus dirasakan bersama.
Saya lupa mengapa dari mulut saya bisa terucap pertanyaaan, "Sampai kapan kita duduk di sini dan menunggu sesuatu yang tidak pasti?"
Ada seseorang yang menjawab, tetapi saya tidak ingat siapa. Katanya, "Sampai situasi aman." Setelah mendengar jawaban itu, saya kembali diam sambil memperhatikan kerumunan orang. Udara semakin dingin, untungnya kain panjang masih saya pakai. Namun, akibat kelamaan menunggu, saya akhirnya bosan.
Lalu saya pergi ke kios di bawah bukit di seberang jalan yang masih buka. Tampak banyak orang membeli kue kering, kemudian saya bertemu dengan guru saya. Beliau awalnya menyapa, selanjutnya bertanya, "Mengungsi juga, Na?" sambil tersenyum.
Bapak tersebut sering memanggil saya "Husna" yang disingkatnya lagi menjadi dua huruf saja: Na. Saya menjawab, "Ya Pak, karena disuruh ikut mengungsi." Beliau tertawa. Saya hanya tersenyum ke arahnya.
Setelah membayar kue tersebut, saya pamitan pada guru saya, lalu ke luar dari kios. Ketika hendak menyeberang terlihat keluarga saya sedang menuruni bukit, pertanda kami akan kembali ke rumah. Kami pun akhirnya pulang dengan berjalan kaki juga.
Orang-orang yang pulang ke rumah masing-masing desanya dekat dengan Dusun Kauman, sehingga bisa berjalan cepat sampai ke rumah.
Waktu di kamar, Kak Ika menyuruh saya agar tetap waspada. Saya pun menjawab “ya” dan memintanya supaya tidak lagi menarik tangan saya. Kenapa nggak bagunkan saja saya dengan cara baik-baik atau panggil nama saja seandainya gempa susulan terjadi. Alhamdulillah, beliau paham dan menyetujuinya.
Kami kembali tidur dengan lampu menyala dan saya benar-benar tidur tanpa memedulikan situasi apa pun. Seolah-olah tak pernah terjadi hal buruk dan saya baru terbangun waktu azan subuh berkumandang.
Saya dan Kak Ika memiliki pola pikir yang berbeda seperti adik kakak kandung pada umumnya. Kami pernah berselisah pendapat, berdebat, kemudian akur lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HUSNA-OKE-BARU.jpg)