Jumat, 5 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Kenangan di Malam Hari Saat Gempa Nias

kenangan saya tentang peristiwa gempa pada malam hari yang saya dan kakak saya alami dahulu dan hingga saat ini masih teringat namanya, gempa Nias

Tayang:
Editor: mufti
IST
NURUL HUSNA, S.Pd., alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG)  Banda Aceh dan Anggota FAMe, melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan 

NURUL HUSNA, S.Pd., alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG)  Banda Aceh dan Anggota FAMe, melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan

Reportase ini berisi kenangan saya tentang peristiwa gempa pada malam hari yang saya dan kakak saya alami dahulu dan hingga saat ini masih teringat namanya, yakni gempa Nias. Terjadinya pada 28 Maret 2025 malam, persis 20 tahun pada hari ini.

Pada malam itu, saya dan kakak saya tidur di kamar pertama. Di kamar kedua kakak ibu saya dan suaminya yang kami panggil Mak Sayang dan Pak Sayang. Sedangkan kakak sepupu dan adik saya tidur di kamar keempat.

Setiap ingin tidur, lampu dimatikan dan saya tidur nyenyak. Namun, kakak saya tidak demikian. Kak Ika namanya, dia malah terbangun karena bunyi derit tempat tidur besi akibat goyangan gempa.

Waktu terjadi gempa, bukannya dia membangunkan saya, tetapi tangan saya malah langsung ditariknya sehingga dengan gerak refleks saya pun berdiri sendiri. Beliau mencari pintu dalam kegelapan tanpa melepaskan tangan saya. Terus ditariknya.

Alhadil, kami ke luar kamar menuju halaman melalui pintu depan dalam keadaan tangan saya tetap dipegangnya.

Kain panjang yang saya jadikan selimut bahkan terbawa sekalian baju tidur lengan pendek dan celana panjang yang saya pakai saat itu. Sesudah melepaskan tangan saya, diajaknya saya duduk di jembatan depan pagar rumah kami. Saya menurutinya saja. Untung ada selimut, sehingga bisa dipakai untuk menutupi kepala, pengganti jilbab.

Kami melihat orang berbondong-bondong mengungsi ke dataran tinggi Dusun Kauman, Labuhanhaji, dengan kendaraan roda dua dan tiga, ada juga yang berjalan kaki. Saat itu, kakak saya berujar, "Ayo kita mengungsi juga."

Jujur, saya sangat kaget mendengarnya dan berkata, "Mengungsi dengan kain panjang sebagai penutup kepala? Tidak bisa saya lakukan. Tunggu saya ambil jilbab dahulu." Lantas saya meninggalkannya dan buru-buru menuju rumah. Entah apa yang diucapkan kakak saya waktu itu, saya tak begitu mendengarnya. Yang ada di pikiran saya adalah segera mengambil jilbab. Itu saja.

Dari pintu keluar Pak Sayang yang akan mengunci pintu rumah. Saya minta ditunggu karena mau mengambil jilbab. Beliau akhirnya menunggu dan menyuruh saya supaya cepat-cepat keluar rumah.

Tak ada pula jilbab yang tampak di kamar sehingga harus saya ambil yang di lemari. Kemudian, masih sempat saya ambil uang untuk modal membeli kue.

Saat itu di pikiran saya tidak tahu mengungsinya sampai kapan, bisa lama atau sebentar saja. Kalau lama, tentu saya akan bosan dan kelaparan.

Setelah itu, baru saya bergegas ke luar rumah dan bergabung dengan para kakak dan adik saya. Kami pun mengungsi ke Kauman, mengikuti orang banyak dengan berjalan kaki.

Seingat saya, Mak Sayang dan Pak Sayang saat itu pergi dengan mengendarai sepeda motor.

Saya sudah terbiasa berjalan kaki. Namun, pada malam itu menyedihkan dan membingungkan sekali, mengikuti orang-orang yang tidak tahu ke mana tujuannya, sebab di Kauman ada tiga bukit yang ada rumah penduduknya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved