Jurnalisme Warga
Kenangan di Malam Hari Saat Gempa Nias
kenangan saya tentang peristiwa gempa pada malam hari yang saya dan kakak saya alami dahulu dan hingga saat ini masih teringat namanya, gempa Nias
Dari kejadian itu saya mengetahui bahwa beliau menyayangi saya, tetapi tidak pernah dia ungkapkan dengan kata-kata. Saya memiliki banyak adik kandung: ada laki-laki dan perempuan, tetapi tidak punya abang kandung sehingga perasaan sayang terhadap kakak saya menjadi lebih.
Dahulu, Kak Ika hanya seorang kakak bagi saya dan sekarang sesudah ayah kandung kami meninggal, saya menganggapnya juga sebagai pengganti ayah, sebab saya melihat ada sosok ayah kami dalam dirinya.
Malam mengungsi tersebut menjadi sejarah untuk masyarakat Labuhanhaji, Aceh Selatan. Bagi yang mengalaminya kapan saja bisa teringat dan sulit untuk dilupakan.
Setelah malam gempa Nias itu orang-orang masih membahasnya pada pagi dan siang hari. Teman yang melihat saya mengungsi waktu berjumpa di sekolah dia berkata hal lucu, lantas dia tertawa, saya pun ikut tertawa mendengar guyonannya.
Seingat saya, ada orang bercerita bahwa warga desa kami ada yang tetap tinggal di rumah setelah gempa, tetapi ia tetap waspada. Hal yang dilakukannya adalah memperhatikan anak sungai di dekat rumahnya. Selama airnya tidak kering (surut) setelah terjadi gempa, berarti aman. Dia tak ikut lari ke dataran tinggi.
Dari peristiwa itu kita mendapat pelajaran berharga bahwa menyelamatkan diri saat bencana itu wajib. Di sisi lain, kita juga harus tetap tenang dan sabar saat gempa terjadi serta waspada di mana pun kita berada.
Mengurangi risiko bencana itu adalah kewajiban kita semua. Mari terus membangun kesadaran tentang itu, sebab yang namanya gempa, bahkan tsunami, cepat atau lambat pasti berulang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HUSNA-OKE-BARU.jpg)