Kupi Beungoh
Idul Fitri di Aceh, Menjaga Tradisi yang Sehat
Aceh, yang dikenal dengan “Serambi Mekkah” merupakan daerah di mana masyarakatnya mengenal Idul Fitri bukan hanya sebagai peristiwa religius.
Oleh: Ns Ernita, SKep *)
Idul Fitri merupakan moment istimewa bagi umat Islam, termasuk masyarakat Aceh yang memiliki tradisi khas dalam menyambut hari kemenangan.
Aceh, yang dikenal dengan “Serambi Mekkah” merupakan daerah di mana masyarakatnya mengenal Idul Fitri bukan hanya sebagai peristiwa religius.
Tetapi juga sebagai budaya yang sarat dengan tradisi khas seperti takbiran, silaturahmi, ziarah kubur, dan menikmati hidangan khas seperti kuah beulangong, sie reuboh, mie Aceh, timphan, dan lainnya.
Namun terdapat berbagai tantangan kesehatan yang dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Pola makan yang tidak seimbang, peningkatan mobilitas yang signifikan, serta kurangnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan menjadi faktor utama yang memicu berbagai masalah kesehatan.
Hal ini harus menjadi perhatian masyarakat agar tradisi tetap berjalan dengan baik tanpa menimbulkan dampak negatif.
Baca juga: Termasuk Mandi Sebelum Shalat Ied, Berikut Ini Amalan Sunnah di Pagi Hari Raya Idul Fitri
Manajemen promosi kesehatan yang baik memegang peran penting dalam menjaga tradisi yang sehat selama merayakan Idul Fitri.
Tradisi Idul Fitri di Aceh dan Dampaknya terhadap Kesehatan
Aceh memiliki budaya yang erat dengan nilai-nilai Islam, yang juga berpengaruh terhadap pola hidup masyarakatnya.
Beberapa kebiasaan perlu diperhatikan dari perspektif kesehatan selama merayakan Idul Fitri. “Meugang” yaitu tradisi memasak dan mengonsumsi daging dalam jumlah besar biasanya dilakukan sebelum merayakan Idul Fitri.
Perayaan Idul Fitri seringkali diawali dengan gema takbir yang bergema di seluruh masjid dan meunasah.
Malam takbiran diwarnai dengan pawai obor dan bedug yang menambah semarak suasana. Keesokan harinya, masyarakat berbondong-bondong melaksanakan Shalat Id di mesjid-mesjid atau lapangan terbuka.
Baca juga: Prof Syahrizal Abbas di Masjid Taqwa Lhong Raya, Ini Daftar Khatib Shalat Ied di Banda Aceh Besok
Dilanjutkan tradisi “ziarah kubur” untuk mendoakan sanak saudara yang telah meninggal dunia.
Masyarakat juga saling bersilaturrahmi sambil menikmati hidangan khas seperti kuah beulangong, timpan dan aneka kue manis lainnya yang disajikan.
Konsumsi hidangan khas yang berlebihan selama Idul Fitri berisiko dapat meningkatkan kadar gula dan kolesterol.
Berdasarkan data Federasi Diabetes Internasional (IDF) 2021, Indonesia menempati peringkat kelima negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia, sebanyak 19,5 juta penderita.
Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 28,6 juta pada tahun 2045 bila tidak segera ditangani.
Menurut catatan Kemenkes, prevalensi diabetes di Indonesia pada tahun 2023 adalah 11,7 persen.
Baca juga: Lafaz Takbir di Malam Idul Fitri, Ini Waktu Mulai Mengumandangkan Takbir, Termasuk di Pagi Hari Raya
Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2018 yang tercatat 10,9 persen.
Masyarakat Aceh merayakan Idul Fitri dengan berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini mencerminkan eratnya nilai kebersamaan dan gotong royong di dalam masyarakat.
Namun, tradisi meugang, ziarah kubur, berkunjung ke rumah sanak saudara dan perjalanan mudik juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit tidak menular dan penyebaran penyakit menular.
Selain itu, peningkatan jumlah konsumsi makanan dalam kemasan plastik sering kali menyebabkan lonjakan banyaknya sampah di lingkungan sekitar.
Penyakit yang Rentan Muncul saat Idul Fitri.
Baca juga: Melodi Takbiran Ustaz Jefri Al Buchori Meriahkan Malam Idul Fitri Nanti Malam, Ini Lirik dan Artinya
Beberapa penyakit yang sering muncul atau meningkat jumlah kasusnya selama Idul Fitri antara lain:
Pertama, hipertensi dan penyakit jantung yang terjadi karena konsumsi makanan tinggi garam dan lemak.
Kedua, diabetes dan gangguan pencernaan akibat dari konsumsi berlebihan makanan manis seperti kue khas Idul Fitri dan konsumsi makanan berlemak dan pedas secara berlebihan.
Ketiga, infeksi saluran pernapasan yang muncul dari interaksi sosial yang tinggi sehingga meningkatkan risiko penularan virus dan bakteri penyebab flu dan batuk serta polusi udara dari asap kendaraan selama mudik.
Keempat, keracunan makanan dikarenakan penyajian makanan dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu lama sehingga meningkatkan risiko makanan terkontaminasi bakteri dan kurangnya kesadaran terhadap kebersihan dalam pengolahan makanan serta.
Kelima, penyakit kulit dan alergi karena peningkatan konsumsi makanan tertentu yang memicu reaksi alergi serta interaksi fisik yang tinggi selama perayaan Idul Fitri.
Manajemen Promosi Kesehatan dalam Menjaga Tradisi yang Sehat
Agar tradisi Idul Fitri tetap berlangsung dengan sehat dan aman, diperlukan manajemen promosi kesehatan yang efektif.
Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan.
- Edukasi Pola Makan Sehat. Pemerintah dan tenaga kesehatan dapat memberikan sosialisasi mengenai pola makan sehat saat Idul Fitri. Selain itu, kampanye melalui media sosial, selebaran, atau ceramah di masjid juga dapat membantu masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi makanan khas Lebaran.
- Kampanye Pengurangan Polusi Udara. Larangan atau pembatasan penggunaan petasan dan kembang api dapat diterapkan untuk mengurangi dampak buruknya terhadap kesehatan masyarakat. Sebagai alternatif, dapat diselenggarakan pawai budaya yang lebih ramah lingkungan.
- Promosi Aktivitas Fisik. Masyarakat dapat didorong untuk tetap aktif dengan melakukan aktivitas seperti berjalan kaki saat mengunjungi sanak saudara atau mengikuti kegiatan olahraga bersama setelah Lebaran.
- Pencegahan Penyebaran Penyakit. Masyarakat perlu diingatkan untuk selalu menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan sebelum dan setelah berjabat tangan. Selain itu, penggunaan masker dalam kondisi tertentu juga dapat membantu mencegah penyebaran penyakit.
- Pengelolaan Kesehatan Mental. Meskipun Idul Fitri identik dengan kebahagiaan, beberapa orang mengalami stres karena tekanan ekonomi atau ekspektasi sosial. Oleh karena itu, promosi kesehatan mental juga perlu dilakukan agar masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan lebih tenang dan bahagia.
Implementasi Manajemen Promosi Kesehatan oleh Pemerintah dan Masyarakat
Untuk menerapkan manajemen promosi kesehatan yang efektif, diperlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Pemerintah daerah dapat mengeluarkan regulasi atau kebijakan tentang pembatasan penggunaan petasan, melakukan kampanye kesehatan melalui media cetak, elektronik, dan media sosial, serta menyediakan layanan kesehatan di pusat-pusat perayaan Idul Fitri untuk memberikan pertolongan pertama bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.
Peran tenaga kesehatan di antaranya dengan mengadakan penyuluhan di masjid dan pusat kegiatan masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat dan kebersihan diri, memberikan layanan konsultasi kesehatan sebelum dan sesudah Idul Fitri untuk memastikan masyarakat dalam kondisi yang prima.
Sedangkan masyarakat sangatlah penting untuk selalu mengikuti anjuran kesehatan yang diberikan oleh pemerintah dan tenaga kesehatan, mampu menjaga pola makan yang seimbang dan mengurangi konsumsi makanan berlemak dan manis secara berlebihan, serta menghormati dan mendukung kebijakan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan bersama.
Idul Fitri di Aceh merupakan momen penuh kebahagiaan, perayaan yang kaya akan tradisi dan nilai kebersamaan.
Namun, perayaan ini juga memiliki tantangan kesehatan yang perlu diatasi agar masyarakat dapat merayakan dengan aman dan nyaman.
Perubahan pola makan, meningkatnya interaksi sosial, dan kurangnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit.
Manajemen promosi kesehatan memainkan peran penting dalam menjaga tradisi yang sehat, baik melalui edukasi pola makan, kampanye lingkungan sehat, hingga pencegahan penyakit menular.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan adanya peningkatan kesadaran sehingga Idul Fitri dapat dirayakan dengan lebih sehat tanpa mengurangi esensi dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Mari jadikan momentum Idul Fitri ini bersama-sama “Rayakan Kemenangan, Lestarikan Tradisi Sehat di Bumi Serambi Mekkah”. (*)
*) PENULIS adalah Mahasiswi Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ns-Ernita-soal-Idul-Fitri.jpg)