Kupi Beungoh
Kepemimpinan Pendidikan: Antara Slogan dan Aksi Nyata
Banda Aceh sebagai barometer pendidikan untuk daerah lain, serasa biasa saja. Belum terlihat adanya keseriusan dalam membangun pendidikan.
*) Oleh: Dr. Aishah, M.Pd
ADALAH baik memiliki pimpinan yang memiliki visi, sehingga jelas kemana arah Pendidikan akan bermuara.
Sekian lama jalannya Pendidikan di Aceh pada tahap Pendidikan dasar, menengah dan atas serta kejuruan dengan harapan adanya peningkatan, namun belum adanya perubahan yang nyata dan signifikan.
Banda Aceh sebagai barometer pendidikan untuk daerah lain, serasa biasa saja. Belum terlihat adanya keseriusan dalam membangun hakikat Pendidikan yang sebenarnya.
Jika pun ada harapan dan kesempatan yang digunakan oleh orang awam ini untuk sekedar memberikan argument tentang jalannya Pendidikan, maka akan terasa sulit karena “orang awam bukan orang dalam.”
Fenomena ini mendapat jawaban adalah “anda tidak paham”, “bahwa kenyataan tidak seperti yang tampak”
Ini adalah pernyataan yang sering digunakan oleh beberapa pihak dalam dunia Pendidikan, terutama oleh para pemimpin Pendidikan, untuk mengelak dari saran atau pertanyaan yang diajukan.
Fakta lain juga, pelayan masyarakat yang sepatutnya melayani masyarakat, seringkali menjawab dengan intimidasi dan dangkal, tanpa rasa empati dan mendengarkan permasalahan yang sebenarnya.
Jika Masyarakat datang, tentu ada hal yang mendesak untuk diselesaikan, di tahap ini tentu harapannya mendapatkan layanan yang solutif, namun seringkali fakta di lapangan bukannya memberikan solusi namun dikembalikan dengan alasan yang kadang tidak logis, dari pada mencari solusi yang memerlukan proses berpikir mendalam dan empati.
Dalam banyak kasus, ini mengindikasikan bahwa adanya kerancuan dalam menjalankan fungsi kepemimpinan dan manjerial di dunia Pendidikan dan dunia pelayanan.
Keterputusan antara kebijakan dan realitas di lapangan mencerminkan adanya perbedaan besar antara kebijakan yang diterapkan di tingkat atas dan kondisi nyata di lapangan.
Para pejabat atau pemimpin Pendidikan sering kali membuat kebijakan atau menetapkan tujuan yag ideal, namun kondisi dan tantangan di lapangan, seperti keterbatasan anggaran, fasilitas yang buruk, atau kekurangan tenaga pengajar yang berkualitas, sering kali tidak diperhitungkan dengan matang.
Dalam situasi seperti ini, kebijakan yang diambil mungkin sangat bagus di atas kertas, tetapi terlalu idealis atau tidak realistis ketika dihadapkan pada keterbatasan sumber daya yang ada.
Contohnya adalah ketika para pemimpin pendidikan atau pemangku kebijakan lain mendekati masalah Pendidikan dengan visi yang baik, namun tidak menyadari kesulitan operasional yang dihadapi oleh sekolah-sekolah, seperti kurangnya fasilitas atau bahkan masalah social-ekonomi di komunitas yang berpengaruh pada keberhasilan Pendidikan.
Fenomena lainnya adalah pembenaran atas ketidakberdayaan dan stagnasi dalam mengambil keputusan.
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
| Duka dan Air Mata Rakyat Aceh Dibalik Usaha Membersihkan Rumah Pasca Banjir Bandang |
|
|---|
| Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh |
|
|---|
| Diaspora Aceh di Malaysia, Cahaya Persatuan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Relawan, Ajang Anak Muda Mengabdi untuk Negeri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pegawai-di-Dinas-Pendidikan-dan-Kebudayaan-Kota-Banda-Aceh-Dr-Aishah-MPd.jpg)