Kupi Beungoh
Kepemimpinan Pendidikan: Antara Slogan dan Aksi Nyata
Banda Aceh sebagai barometer pendidikan untuk daerah lain, serasa biasa saja. Belum terlihat adanya keseriusan dalam membangun pendidikan.
Ini merupakan bentuk keengganan untuk belajar dan beradaptasi dengan realitas yang ada.
Akibat dari system yang kaku dan birokratis. Aturan dan regulasi yang terlalu banyak dan diperumit dapat menghambat inovasi dan kreativitas dalam mengatasi masalah Pendidikan.
Para pemimpin Pendidikan yang lebih banyak mengandalkan prosedur dari pada solusi praktis sering kali merasa terbebani oleh aturan yang tidak fleksibel dan cenderung menghindari perubahan yang memerlukan kesediaan untuk mengambil resiko.
Diharapkan pemimpin Pendidikan tidak melakukan kesenjangan atara kebijakan yang dibuat di atas meja dan realitas yang ada di lapangan.
Oleh karena itu, dibutuhkan pemimpin Pendidikan yang lebih terbuka, berani mengambil keputusan yang berani dan responsive terhadap perubahan untuk membawa system Pendidikan yang lebih baik di masa depan. (*)
*) PENULIS adalah pegawai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pegawai-di-Dinas-Pendidikan-dan-Kebudayaan-Kota-Banda-Aceh-Dr-Aishah-MPd.jpg)