Kupi Beungoh
Post-Holiday Blues: Keseimbangan Antara Liburan dan Rutinitas
Fenomena ini dikenal dengan sebutan post-holiday blues, yang semakin sering dibicarakan menjelang dan pasca-Lebaran.
Oleh: Siti Hajar Sri Hidayati
Lebaran atau Idul Fitri adalah momen yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak orang di Indonesia. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, umat Muslim merayakan hari kemenangan dengan suka cita bersama keluarga, teman, dan kerabat.
Tradisi mudik, berkumpul, dan saling berbagi kebahagiaan menciptakan momen yang seakan sempurna. Namun, tak jarang, setelah perayaan berakhir, muncul perasaan yang sulit dijelaskan perasaan sepi, kehilangan semangat, atau bahkan kecemasan.
Fenomena ini dikenal dengan sebutan post-holiday blues, yang semakin sering dibicarakan menjelang dan pasca-Lebaran.
Fenomena ini bukan hanya tentang rasa enggan kembali ke rutinitas sehari-hari. Lebih dari itu, ini adalah cerminan psikologis dari peralihan antara euforia liburan yang menyenangkan menuju kewajiban yang menanti.
Ketika kenyataan tak sejalan dengan harapan, perasaan kesedihan yang timbul menjadi lebih kompleks dan bisa mempengaruhi kesejahteraan mental individu.
Kehilangan Makna Kebersamaan
Secara alami, post-holiday blues sering muncul setelah periode kegembiraan yang penuh dengan interaksi sosial. Selama Lebaran, banyak orang merasa terhubung dengan keluarga dan kerabat, menciptakan momen yang penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Mudik menjadi waktu yang sangat emosional kembali ke kampung halaman, bertemu dengan keluarga besar, saling berbagi cerita, dan menikmati hidangan bersama.
Ada dorongan emosional untuk berbagi, memaafkan, dan berkumpul bersama orang-orang yang kita cintai. Namun, setelah kebahagiaan itu berlalu, kita kembali menghadapi kenyataan kehidupan yang penuh rutinitas dan tuntutan pekerjaan yang tak kunjung habis.
Perasaan ini lebih dari sekadar rasa malas untuk kembali bekerja atau belajar. Ini adalah reaksi terhadap perubahan mendalam yang kita alami. Pikiran kita terbiasa dengan kenyamanan dan kebersamaan yang hadir selama liburan, namun begitu momen itu berakhir, muncul perasaan sepi yang tak terhindarkan. Keberadaan kebersamaan yang menyenangkan dan penuh makna dalam liburan membuat kita merindukan momen tersebut setelahnya.
Ketika kembali ke rutinitas yang monoton, kita merasa kehilangan kedamaian dan kebahagiaan yang dirasakan selama liburan.
Perubahan mendadak ini bisa membuat seseorang merasa kehilangan kendali, terutama jika mereka belum sepenuhnya siap menghadapi realitas pasca liburan.
Tantangan Transisi Kehidupan
Transisi dari suasana liburan yang penuh keceriaan ke rutinitas yang lebih monoton adalah tantangan besar bagi banyak orang. Hari yang penuh perayaan dan kebersamaan dengan orang terdekat tiba-tiba berganti dengan tuntutan pekerjaan yang terkadang terasa membosankan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Hajar-Sri-Hidayati-MA-Dosen-Fakultas-Psikologi-UIN-Ar-Raniry.jpg)