Sabtu, 25 April 2026

Kupi Beungoh

Post-Holiday Blues: Keseimbangan Antara Liburan dan Rutinitas

Fenomena ini dikenal dengan sebutan post-holiday blues, yang semakin sering dibicarakan menjelang dan pasca-Lebaran.

Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Siti Hajar Sri Hidayati, M.A., Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry 

Setiap orang pasti ingin merasakan kenikmatan dan kedamaian yang dirasakan selama liburan lebih lama, namun kenyataannya, kehidupan kembali ke ritme yang biasa.

Psikologi manusia cenderung menghindari perubahan tiba-tiba, apalagi yang melibatkan perasaan kuat seperti kebahagiaan yang sudah dirasakan selama liburan. Ketika semuanya berakhir, perasaan post-holiday blues pun muncul sebagai respons alami terhadap perubahan tersebut.

Bagi banyak orang, Lebaran adalah waktu untuk refleksi diri dan rekoneksi dengan orang-orang terdekat.

Namun, setelah kembali ke kehidupan sehari-hari, banyak yang merasa terasingkan dari perasaan damai yang sempat mereka rasakan. Kehilangan kedamaian ini, ditambah dengan kembali pada rutinitas yang tak selalu menyenangkan, memunculkan perasaan cemas, stres, dan frustrasi. 

Tidak jarang, perasaan ini juga disertai dengan penurunan motivasi dan energi yang mengganggu produktivitas. Aktivitas yang tadinya mengisi liburan kita dengan penuh semangat kini terasa membosankan, dan ini menambah beban mental yang tak terucapkan.

Fenomena ini tidak hanya dialami oleh mereka yang bekerja, tetapi juga oleh individu yang kembali ke aktivitas pendidikan atau rumah tangga, yang mungkin mengalami rasa terputus dari ikatan sosial yang kuat selama liburan.

Menyikapi Post-Holiday Blues dengan Bijak

Menyikapi post-holiday blues tidak hanya sekadar mengakui adanya fenomena ini, tetapi juga bagaimana kita menghadapinya dengan cara yang lebih bijaksana. Dalam banyak kasus, perasaan ini adalah bagian dari proses adaptasi yang alami.

Kita harus memahami bahwa post-holiday blues adalah hal yang wajar dan terjadi pada banyak orang setelah periode liburan yang penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan. Alih-alih melihatnya sebagai masalah yang perlu segera diatasi, kita bisa menghadapinya dengan lebih positif dan konstruktif.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan merencanakan tujuan hidup atau pekerjaan dengan pendekatan yang lebih realistis dan manusiawi setelah liburan. Setiap individu tentunya ingin memanfaatkan waktu pasca liburan untuk melanjutkan hidupnya dengan semangat dan produktivitas yang lebih baik.

Namun, penting untuk memberi diri waktu untuk beradaptasi. 

Perubahan dari suasana liburan yang penuh kebahagiaan menuju rutinitas yang lebih monoton memang tak mudah, tetapi dengan memberi diri waktu untuk kembali menata kehidupan, kita dapat menjalani proses ini dengan lebih lancar.

Mengenali perasaan ini sebagai bagian dari proses adaptasi adalah langkah pertama. Perubahan adalah bagian dari kehidupan, dan setiap individu pasti akan mengalami masa transisi ini dengan cara yang berbeda. Hal terpenting adalah memberikan waktu pada diri sendiri untuk beradaptasi, tanpa memberi tekanan berlebihan.

Menata ulang ekspektasi terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar, serta memberi diri waktu untuk beristirahat, sangat penting. 

Dukungan sosial yang kuat juga memainkan peran besar dalam mengatasi post-holiday blues. Berbagi perasaan dengan teman dekat, keluarga, atau bahkan seorang profesional dapat membantu kita memahami lebih dalam tentang perasaan yang dialami. Percakapan yang terbuka mengenai tantangan pasca liburan bisa menjadi cara yang efektif untuk meredakan perasaan cemas atau stres.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved