Breaking News
Jumat, 5 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Konsumsi Manis Bikin Bahagia atau Malah Bahaya?

Menurut survei, anak muda zaman sekarang lebih memilih makanan yang manis sebagai wujud pelampiasan stres yang dialaminya.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Mirda Mastura, Staf Unit Laboratorium dan Praktik Klinik (ULPK) Keperawatan Universitas Bina Bangsa Getsempena. 

Kadar glukosa yang meningkat membuat insulin bekerja berkali lipat untuk memasukkan gula-gula di darah ke dalam inti sel agar diubah menjadi sumber energi.

Hal inilah yang membuat tubuh merasa berenergi setelah mengonsumsi yang manis.
Insulin dihasilkan di organ pangkreas.

Ketika kadar gula darah meningkat menyebabkan jumlah insulin yang diproduksi tidak sebanding dengan jumlah gula di dalam darah sehingga tidak mampu mengorganisasi glukosa untuk masuk ke dalam inti sel sebagai energi. Kondisi ini disebut resistensi insulin.

Menurut salah satu akademisi keperawatan, Ns Mahruri Saputra SKep, MKep, kondisi resistensi insulin terjadi karena menurunnya fungsi pangkreas dalam memproduksi insulin.

“Yang seharusnya insulin mengunci glukosa dan membawanya ke dalam inti sel kemudian mengubahnya menjadi energi, malah karena glukosa terlalu banyak dan insulin yang diproduksi kurang dari glukosa dalam darah sehingga tidak mampu meng-cover semua glukosa untuk masuk dalam inti sel.

Hal ini yang menyebabkan kebanyakan penderita diabetes melitus sering merasakan lemas, karena kekurangan energi,” ungkap  Mahruri.

Apabila resistensi insulin terjadi berlarut-larut, dapat menyebabkan berbagai komplikasi jika tidak cepat diatasai.

Cara mengatasinya dapat dilakukan dengan hal yang paling sederhana dulu, seperti menjaga pola makan, mengontrol makanan manis, dan melakukan konsultasi dengan dokter.

Kondisi ketika insulin mulai tidak normal disebut sebagai diabetes melitus tipe 2.
Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2021, terdapat sekitar 19,5 juta penyandang diabetes melitus (DM)  di Indonesia, dengan prevalensi 10,8 persen pada rentang usia 20-79 tahun.

Peningkatan prevalensi DM ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak dan remaja. Hal ini dibuktikan dengan laporan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang mencatat peningkatan prevalensi DM tipe 1 pada anak di bawah 18 tahun sebesar 70 kali lipat dari 2010 hingga 2023.

Pada usia dewasa, kadar glukosa dikatakan normal jika kadar gula darah saat puasa / sebelum makan dalam rentang 70-100 mg/dL, kadar gula darah normal sewaktu < 200>125 mg/dL.

Penderita diabetes perlu mengontrol kadar glukosa darah normal untuk mengurangi gejala dan komplikasi penyakit. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengatur pola makan dengan memperhatikan jenis makanan dan indeks glikemiknya.

Indeks glikemik (GI) merupakan angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan. Makanan yang mengandung karbohidrat dapat memengaruhi kadar glukosa darah.

Adapun rekomendasi makanan yang dapat membantu penderita DM dalam mengatur kadar gula darah, di antaranya, sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan brokoli kaya serat dan rendah karbohidrat.

Serat membantu memperlambat penyerapan gula dalam darah sehingga mencegah lonjakan kadar gula darah secara tiba-tiba.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved