Banda Aceh
Pasangan Gay Meningkat, Lesbi pun Ada, Aceh Terancam Dilanda Tsunami AIDS
Saat digerebek warga pada 7 November 2024 malam, kedua terdakwa dalam keadaan bugil dan mengaku barusan melakukan
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Nur Nihayati
Kasus ini mengalami kenaikan drastis pada tahun 2021 dengan jumlah penderita 181 orang, tahun 2022 terdeteksi 277 kasus baru, 2023 tercatat 309 kasus, dan tahun 2024 melonjak jadi 348 kasus.
Tren kenaikan tersebut
menunjukkan bahwa angka tertinggi terjadi pada tahun 2024, yakni 348 kasus.
"Mereka terdiagnosis positif HIV berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 109.645 orang di seluruh Aceh," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM menjawab Serambinews.com di Banda Aceh, Sabtu (19/4/2025) petang.
Ia juga menyebutkan bahwa kasus tertinggi terjadi di Kota Banda Aceh, yakni mencapai 146 kasus.
Kemudian disusul Kabupaten Aceh Utara dengan 34 kasus, Kota Langsa 30 kasus, Kota Lhokseumawe 26 kasus, Bireuen 23 kasus, Pidie 15 kasus, Aceh Barat dan Aceh Tenggara masing-masing 15 kasus.
“Sedangkan wilayah yang tidak ada kasus HIV sepanjang tahun 2024 hanya Sabang, Gayo Lues, Aceh Selatan, dan Aceh Jaya,” kata dr Iman.
Ia mengungkapkan bahwa tingginya sebaran HIV di Aceh dipicu oleh hubungan seksual sesama jenis atau kelompok lelaki seks lelaki (LSL). Hampir 90 persen dari total penderita HIV/AIDS di Aceh disebabkan oleh LSL.
“Saat ini memang banyak terdeteksi para penyuka sesama jenis yang menjadi penderita HIV," ungkapnya.
Dengan demikian, terbuktilah asunsi bahwa dua kasus LSL yang melibatkan empat mahasiswa di Kota Banda Aceh itu hanyalah bagian kecil dari fenomena gunung HIV/AIDS di Aceh.
Lonjakan kasus pun terus bertambah. Tahun berganti, tapi laju kasus baru tak jua berhenti.
Data terbaru yang dihimpun Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan bahwa sejak Januari hingga Maret 2025 saja sudah 66 warga Aceh yang positif HIV.
Jika dirata-ratakan, per bulan 22 orang positif HIV. Malah pada bulan Januari mencapai 24 kasus.
Nyaris setiap hari satu orang Aceh kini terdeteksi positif HIV/AIDS.
Kalikanlah setahun yang terdiri atas 365 hari. Sangat mungkin, hingga akhir tahun ini sebanyak itulah orang Aceh yang terinfeksi virus mematikan ini.
Bukan saja LSL dan waria yang terinfeksi HIV,
calon pengantin wanita pun ada dua orang dalam tahun ini yang terinfeksi.
Sekarang di Aceh, kata Iman, sedang ada program cek kesehatan gratis bagi calon pengantin (catin) kerja sama antara puskesmas dan kantor urusan agama kecamatan (KUAkec).
Nah, dalam program ini ada pemeriksaan HIV-nya.
Dokter Iman bersaran, sebaiknya jangan hanya calon pengantin wanita yang diperiksa kemungkinan terinfeksi HIV, calon pengantin pria pun harus diperlakukan sama.
Soalnya, di Aceh justru lelaki seks lelaki yang lebih dominan positif HIV.
Apalagi, kata Iman, ada temuan bahwa terpidana kasus liwath yang sudah dicambuk pun, hanya dalam berbilang hari kembali lagi menekuni praktik seks menyimpang.
Ia juga menyatakan sangat sependapat dengan saran seorang dokter spesialis kulit kelamin di luar Aceh yang keturunan Aceh, dr Inong, Sp.KK.
Bahwa sudah saatnya di Aceh didirikan sebuah pusat rehabilitasi terpadu penderita HIV/AIDS.
Di pusat rehabilitasi itu dilibatkan psikolog, dokter spesialis kulit dan kelamin, ulama, pegawai dinas kesehatan dan dinas sosial, yang bahu-membahu menangani penderita.
Ini hanya salah satu ikhtiar agar penderita HIV/AIDS bisa ditolong, tak menularkan kepada orang lain, dan kemungkinan tsunami HIV/AIDS di Bumi Serambi Makkah ini dapat dicegah.
Perlu pula diingat bahwa HIV/AIDS tidak saja dapat ditularkan melalui hubungan seksual, tetapi juga melalui transfusi darah, atau jarum suntik yang terkontaminasi.
Banyaknya pengguna narkoba di Aceh yang menggunakan jarum suntik memperbesar peluang meningkatnya kasus HIV/AIDS.
Dalam tiga bulan terakhir, 25 LSL di Aceh positif HIV. Populasi umum yang terjangkit HIV 19 orang.
Sopir antarprovinsi pun termasuk kelompok berisiko tinggi terinfeksi HIV jika ia doyan "jajan" di luar Aceh. Oleh Dinas Kesehatan Aceh mereka dimasukkan ke dalam kategori "populasi umum" kasus HIV.
Harapan baru
Pengobatan antiretroviral kini menjadi harapan baru bagi penderita HIV/AIDS agar tak cepat mati.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jika penderita HIV/AIDS tidak mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) yang efektif, maka mereka dapat menularkan virus kepada orang lain melalui hubungan seksual.
Namun, jika penderita HIV/AIDS mendapatkan pengobatan ARV yang efektif dan memiliki viral load yang tidak terdeteksi, maka peluang penularan sangat rendah.
Bahkan, CDC menyatakan bahwa orang dengan HIV yang memiliki viral load tidak terdeteksi tidak dapat menularkan virus kepada orang lain melalui hubungan seksual.
Tapi, itu bukan berarti para LSL bisa terus melanjutkan kebiasaan menyimpangnya.
Setiap perilaku menyimpang, cepat atau lambat, pasti menimbulkan konsekuensi dan terkadang teramat berat.
Saat hendak ditangani pun terkadang sudah sangat terlambat. (*)
| Cegah Kecelakaan dan Tanpa Perlindungan Asuransi Penumpang, Dishub Aceh akan Tindak Angkutan Ilegal |
|
|---|
| Prof Humam Hamid Ungkap Peluang Revisi Kebijakan JKA Usai Bertemu Muzakir Manaf |
|
|---|
| Polda Aceh dan UTU Perkuat Kerja Sama Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat |
|
|---|
| Afdhal Serahkan LKPJ Wali Kota, Begini Kata Ketua DPRK Banda Aceh |
|
|---|
| UIN Ar-Raniry Percepat Implementasi Zona KHAS, Peluang Pengembangan Inovasi Riset Ekosistem Halal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bahaya-aids.jpg)