KUPI BEUNGOH
Pendidikan Memanggil, Gerakan Moral untuk Meningkatkan Kualitas SDM Negara
Pendidikan, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi instrumen formal pengajaran, tetapi juga panggilan moral
Oleh Dr. Iswadi, M.Pd*)
Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan revolusi industri 4.0 serta society 5.0, Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang tak dapat dielakkan: kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi penentu utama daya saing bangsa.
Pendidikan, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi instrumen formal pengajaran, tetapi juga panggilan moral.
Ia adalah kekuatan transformatif yang menggerakkan, membentuk karakter, dan menuntun arah masa depan bangsa.
Sejarah telah membuktikan bahwa negara-negara maju tidak terbangun karena kekayaan alam semata, melainkan karena kualitas manusia yang mendorong inovasi, etos kerja, dan tanggung jawab sosial.
Pendidikan merupakan poros utama yang membentuk kualitas ini. Namun, jika kita menilik kondisi pendidikan nasional saat ini, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Rendahnya indeks kualitas pendidikan di beberapa wilayah, ketimpangan akses pendidikan antar daerah, serta kurangnya penanaman nilai karakter dalam sistem pembelajaran menunjukkan bahwa kita membutuhkan sebuah gerakan besar,bukan hanya kebijakan teknokratis, tetapi sebuah gerakan moral.
Baca juga: Jalur Sutera Uzbekistan
Mengapa gerakan ini harus bermuatan moral? Karena pendidikan sejatinya bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi pembentukan manusia seutuhnya yang berpikir kritis, berintegritas, dan berjiwa sosial.
Kita tidak sedang berbicara tentang sekadar meningkatkan nilai ujian nasional atau akreditasi institusi, tetapi tentang membentuk manusia Indonesia yang berdaya saing tinggi sekaligus bermoral luhur.
Gerakan moral dalam pendidikan berarti mengajak seluruh elemen bangsa pendidik, siswa, orang tua, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk bersama-sama merevitalisasi nilai-nilai luhur dalam proses pembelajaran.
Guru bukan sekadar pengajar, tetapi menjadi teladan moral. Kurikulum tidak hanya mengajarkan logika, tetapi juga etika. Sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi menjadi rumah pembentukan karakter.
Dalam gerakan moral ini, guru memegang peran kunci. Guru adalah lokomotif perubahan yang akan membawa gerbong generasi muda menuju masa depan gemilang.
Namun, kita harus jujur bahwa kualitas guru di Indonesia masih sangat beragam. Masih banyak yang membutuhkan pelatihan berkelanjutan, motivasi, dan penghargaan yang layak.
Baca juga: Setelah Empat Tahun Kabur dari Lapas Lhoksukon, Napi Narkotika Ditangkap Warga Saat Mencuri di Kebun
Oleh karena itu, negara harus memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan guru, peningkatan kompetensi, serta dukungan moral dan material agar mereka dapat menjalankan peran strategis ini.
Guru yang sejahtera dan terlatih akan melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter.
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
| Carut Marut Kabel Optik dan Wajah Kota Banda Aceh |
|
|---|
| Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional |
|
|---|
| Regulasi Emosi: Mencegah Pelampiasan Stres Rumah Sakit ke Dalam Rumah Tangga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta.jpg)