Meuseuraya Akbar 2025

MAPESA Peringatkan Warisan Sejarah Pidie Sedang Dijarah, Meuseuraya Akbar 2025 Jadi Tindakan Nyata

Pidie dipilih sebagai pusat kegiatan Meuseuraya Akbar tahun ini karena dinilai sebagai “laboratorium sejarah Aceh”.

|
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/FIRDHA USTIN
Tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) tengah membersihkan batu nisan kuno di komplek pemakaman tua yang berada di Cot Geunduek, Kab Pidie, Rabu (28/5/2025), agenda ini sebagai rangkaian Meuseuraya Akbar 2025. 

Laporan Firdha Ustin| PIDIE

SERAMBINEWS.COM, PIDIE – Komunitas Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengungkapkan keprihatinan serius terhadap maraknya penjarahan benda-benda bersejarah di Kabupaten Pidie. Hal ini menjadi salah satu alasan utama digelarnya Meuseuraya Akbar 2025 di Gampong Cot Geunduk, Pidie, Rabu (28/5/2025).

“Banyak yang tidak sadar, kita sebenarnya sedang dijarah. Barang-barang bersejarah di Pidie ini terus diburu dan dibawa keluar,” ujar Masykur Syafruddin, Wakil Ketua Mapesa dan peneliti senior Mapesa.

Pidie dipilih sebagai pusat kegiatan Meuseuraya Akbar tahun ini karena dinilai sebagai “laboratorium sejarah Aceh”.

Kabupaten ini masih menyimpan banyak tinggalan budaya seperti rumah adat, masjid tuha, manuskrip kuno, benda-benda etnografi dan nisan-nisan beraksara yang belum banyak terjamah. Namun, sebagian besar dari peninggalan tersebut kini dalam kondisi rentan karena minimnya perhatian dan maraknya penjarahan artefak.

"Tapi sayangnya tanpa disadari oleh masyarakat, kita sebenarnya sedang dijarah, barang-barang itu terus diburu di sini dan dibawa keluar. Nah karena itu kemudian kita ingin menjaga  di Pidie ini yang menjadi satu pusat yang harus kita jaga dari sekarang," imbuhnya.

Baca juga: Mapesa Canangkan Desa Cot Geunduek sebagai Gampong Warisan Sejarah Aceh, ini Alasannya

Kegiatan Meuseuraya Akbar 2025, yang difasilitasi oleh Dana Indonesiana dan didukung Kementerian Kebudayaan ini adalah untuk pembersihan makam tua, pendokumentasian situs, hingga penataan ulang kawasan situs, hingga pendokumentasian dan pembacaan inskripsi atau nisan beraksara Arab Melayu.

Agenda tersebut juga melibatkan masyarakat Pidie dan komunitas Beulangong Tanoh.

“Kalau Pidie hilang, Aceh ikut kehilangan. Karena ini adalah pusat kewarisan budaya yang sangat penting,” tegas Masykur.

Selain menjadi upaya pelestarian, kegiatan ini juga ditujukan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat lokal untuk lebih peduli terhadap situs sejarah di sekitarnya.

Mapesa juga membuka kemungkinan melaksanakan Meuseuraya Akbar di daerah lain pada tahun-tahun berikutnya.

“Tahun depan mungkin kita akan pilih daerah lain yang juga potensial dan membutuhkan perhatian serius untuk pelestarian,” tambahnya.

Baca juga: Temuan Baru Mapesa Dalam Kompleks Pemakaman di Cot Geunduek, Ternyata Penguasa Pelabuhan di Pidie

Kegiatan Meuseuraya yang awalnya rutin dilakukan di Banda Aceh dan Aceh Besar kini diangkat ke skala lebih besar dan strategis, dengan harapan memicu kesadaran publik akan pentingnya menjaga jejak sejarah, sebelum semuanya hilang tanpa jejak.

Agenda Meuseuraya Akbar ini ditutup dengan makan bersama sebagai bagian dari proses kanduri jeurat, usai kegiatan pembersihan kuburan, baca yasin di kuburan, berdoa bersama, memberi sedekah dan ziarah.

(Serambinews.com/Firdha Ustin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved