Sejarah Aceh

Hari Ini 15 Tahun Kepergian Hasan Tiro, Deklarator GAM di Gunung Halimon, Ini 10 Fakta dari Sosoknya

Hasan Tiro dikenal luas sebagai deklarator GAM, sebuah gerakan yang ia proklamirkan pada 4 Desember 1976 di Gunung Halimon, Kabupaten Pidie.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBI/M ANSHAR
Hari ini, Selasa (3/6/2025), menandai 15 tahun kepergian Teungku Hasan Muhammad di Tiro atau Hasan Tiro, tokoh pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM).  

Dalam sejarah perjuangannya, sosok Hasan Tiro kerap dikaitkan dengan politik.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa tenyata selama masa hidupnya Hasan Tiro juga memiliki sisi hidup humanis yang menarik dan jarang diketahui publik.

Apa saja fakta yang tersembunyi dari sosok pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu? Simak rangkuman Serambinews.com berikut ini:

1. Lelaki Romantis dan Sastrawan

Semasa hidupnya Hasan Tiro sangat dekat dengan dunia sastra.

Bakat sastranya tercermin dalam bahasa yang ia gunakan dalam menulis.

Salah satunya lewat naskah drama epic berjudul “The Drama of Achehness History” menjadi sebuah bukti autentik yang menisbahkan Hasan Tiro sebagai seorang sastrawan handal, sekaligus seorang sutradara.

Naskah drama ini ia tulis semasa dalam perang gerilya di hutan Aceh sekitar Juli 1978.

Wali Nanggroe Tgk Hasan Muhammad Di Tiro atau Hasan Tiro menyapa massa yang memadati Alun-alun Kota Sigli, Pidie, Selasa (14/10/2008).
Wali Nanggroe Tgk Hasan Muhammad Di Tiro atau Hasan Tiro menyapa massa yang memadati Alun-alun Kota Sigli, Pidie, Selasa (14/10/2008). (Serambi Indonesia/Hari Teguh Patria)

Dalam masa itu, Menteri Pendidikan GAM Dr Husaini memutuskan mengangkat kisah sejarah perjuangan rakyat Aceh itu dalam bentuk sandiwara radio.

Selusin kaset tape recorder dibawa ke markas. Para perajurit GAM menjadi pemain memerankan berbagai tokoh dalam drama tersebut.

Sedangkan latar digunakan musik klasik karya komponis kelas dunia, seperti Antonio Vivaldi, Bach, Beethoven ditambah instrumen yang direkam dari stasiun radio internasional.

Butuh waktu satu minggu untuk merekam drama radio ini dan berhasil dengan sukses.

Kemudian Hasan Tiro memperbanyak kaset tersebut dan menyebarkannya ke seluruh Aceh.

2. Seorang Nasionalis dan Cinta Indonesia

Sosok Hasan Tiro tidak selamanya mengobarkan semangat perlawanan terhadap Pemerintah RI.

Ia ternyata juga sosok yang sangat nasionalis. Beberapa literatur menyebutkan, pada masa remajanya Hasan Tiro pernah menjadi penggerek bendera Merah Putih, di sebuah tempat di Lamlo (dulu bernama Lamulo), tak jauh dari rumahnya.

Setelah itu ia merantau ke Bireuen dan Yogyakarta. Ia sempat menjadi orang kepercayaan Waperdam Sjafruddin Prawiranegara, lalu dikirim Pemerintah Indonesia menjadi staf Atase Penerangan di Kantor Peroetoesan Tetap Pemerintah Republik Indonesia (PTRI) di New York, AS.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved