Kupi Beungoh

Strategi Membangun Aceh Maju

Indikator yang paling umum digunakan untuk mengukur kemajuan suatu daerah itu "maju" atau "tidak", dilihat dari sisi ekonomi

Editor: Amirullah
For Serambinews
Dr. Ainal Mardhiah, S Ag, M.Ag, Dosen Pascasarjana UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Oleh : Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, MAg

Mengutip data dari BPS  bahwa penganggguran di Aceh tahun 2024 sebanyak 4.000  ribu orang dari jumlah penduduk yang sudah masa kerja ada sebanyak 4,1 juta orang. Jumlah penduduk miskin tahun 2024 sebanyak 718,96 ribu jiwa dari jumlah penduduk Aceh sebanyak 5.623.454 jiwa, angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. 

Kondisi lainnya saat ini kita lihat pendidikan mahal, sampai-sampai lembaga pendidikan harus mencari dana sendiri untuk memenuhi kebutuhan  biaya operasional kegiatan belajar anak didik.

Beasiswa pendidikan minim,  pelayanan kesehatan mahal-sulit dan rumit, Askes ada tapi tidak bisa berfungsi maksimal,  listrik mahal,  jalan-jalan masih banyak yang rusak dan becek, lowongan kerja sulit, yang sudah ada pekerjaan malah di PHK karena efisiensi disana sini. Yang jadi ASN pun, harus mencari kegiatan sampingan untuk mendapatkan tambahan uang  buat keperluan anak, keluarga dan diri. 

Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan, rakyat Aceh sedang tidak baik-baik saja ditengah kabar bahwa Aceh kaya dengan Sumber Daya Alam,  tapi rakyatnya banyak yang miskin dan pengangguran. Sedih dan mengkhawatirkan. 

Bahaya Kemiskinan 

Kekhawatiran ini, perlu menjadi perhatian bersama, terutama pemerintah yang punya tanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya.  Seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. 

"Tanggung jawab pemerintah terhadap fakir miskin diatur dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945, yang berbunyi "fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara". 
  
Mengapa ini harus menjadi perhatian bersama terutama pemerintah? Karena  Rasulullah SAW  mengingatkan, betapa mengerikan akibat yang bisa ditimbulkan oleh kemiskinan. Kemiskinan bisa membuat seseorang menjadi kufur bahkan menjadi kafir, bisa-bisa seseorang itu menjual agama, untuk bisa mendapatkan sesuap nasi buat diri dan keluarganya. 

“Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran” (Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi.) 

Ada dua macam bentuk kemiskinan yang sering kita lihat  terjadi dalam masyarakat. Pertama, Miskin Jiwa. Akibat miskin jiwa kita lihat di banyak pemberitaan, para penguasa, pejabat negara, pemimpin, mereka menjual atau menggadaikan aset negara kepada orang asing dalam berbagai bentuk dan berbagai cara.

Dalam berita lain kita membaca dengan kekuasaannya ia menyerahkan Sumber Daya Alam negerinya kepada orang asing untuk dikelola semana-mena tanpa memperdulikan hak rakyat disekitarnya.  Ada banyak korupsi terjadi dimana-mana. Kita juga membaca, dengan jabatan mereka mengambil sesuatu yang bukan haknya, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, untuk memenuhi tuntutan, kebutuhan dan standar hidupnya yang tinggi.  Semoga mereka tidak menjual negara dan rakyat ini. 

Kedua, Miskin Harta. Sementara rakyat kecil, karena miskin harta akan memilih jalan kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketika kriminalitas sudah terjadi, negara tidak aman, kehidupan bernegara akan tidak nyaman, perampokan, pencurian, pembunuhan, begal pasti akan merajalela  akibat rakyat butuh makan. 

Indikator Kemajuan Sebuah Daerah 

Indikator yang paling umum digunakan untuk mengukur kemajuan suatu daerah itu "maju" atau "tidak", dilihat dari sisi ekonomi, dilihat dari  pendapatan rakyat perhari, peningkatan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu daerah. Indikator lainnya dapat dilihat dari kemajuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan standar hidup. 

Darimana Memulai Membangun Aceh Maju

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved