Breaking News

Konflik Iran vs Israel

Tadi Malam Iran Luncurkan Rudal Hipersonik Fattah, Target Israel Hancur Seketika: Iron Dome ‘Error’

IRGC mengatakan bahwa pengerahan rudal Fattah generasi pertama menandai "awal dari akhir" sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
RNTV/TangkapLayar
CEGAT RUDAL - Sistem pertahanan udara Iron Dome Israel menembak untuk mencegat rudal selama serangan Iran di Tel Aviv, Israel, pada Minggu (15/6/2025). Iron Dome Israel mengalami error dalam mencegat serangan Iran. 

Gelombang serangan kedua segera menyusul, saat sirene berbunyi di sejumlah pemukiman, termasuk di Tel Aviv, Netanya, dan Tepi Barat. 

Serangan itu terjadi sekitar pukul 1:30 dini hari, saat media Israel melaporkan bahwa dua rudal Iran menghantam target mereka di Tel Aviv dan wilayah utara.

Puing-puing dari pencegat juga menyebabkan kebakaran di beberapa wilayah, termasuk di Bnei Brak, di mana sekitar 20 mobil terbakar.

Tak lama kemudian, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan, 

"Kita tengah menyaksikan awal dari berakhirnya sistem pertahanan udara tentara Zionis."

Dalam pernyataan kesepuluhnya sejak dimulainya agresi Israel terhadap Iran dan serangan balasan Iran berikutnya, IRGC mengungkapkan bahwa gelombang serangan terbaru melibatkan rudal Fattah generasi pertama.

IRGC menyatakan, penempatan rudal Fattah mengirimkan pesan yang jelas tentang kekuatan Iran

"Kepada sekutu Tel Aviv yang delusi dan pemicu perang," merujuk pada Amerika Serikat.

Pernyataan itu menekankan bahwa serangan rudal terbaru "membuktikan tanpa keraguan sedikit pun bahwa langit di atas wilayah yang diduduki sekarang sepenuhnya berada di bawah kendali kita."

IRGC menyimpulkan dengan menekankan bahwa penduduk Tel Aviv "sekarang tidak berdaya menghadapi kemampuan rudal Iran."

Fattah (berarti "pembuka") adalah rudal berbahan bakar padat dua tahap berpemandu presisi dengan jangkauan 1.400 km dan kecepatan terminal Mach 13 hingga 15, yang diluncurkan pada Juni 2023.

Kecepatan ini, bersama dengan nosel bergerak yang memungkinkan rudal bermanuver ke segala arah baik di dalam maupun di luar atmosfer Bumi, membuatnya kebal terhadap intersepsi oleh semua sistem antirudal yang ada, menurut para ahli militer.

Mantan komandan kedirgantaraan IRGC Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh menggambarkan rudal itu sebagai "lompatan raksasa" pada upacara peluncurannya pada tahun 2023.

Sebelum Iran, hanya tiga negara yang menguasai teknologi pembuatan rudal hipersonik operasional, yaitu Rusia, Cina, dan India. 

Model-model mereka berbeda dalam hal platform peluncuran, jangkauan, muatan, dan teknologi hipersonik itu sendiri.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved