Selasa, 12 Mei 2026

Citizen Reporter

Dinamika Spiritual dan Teknis dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji Modern

"Mereka tak hanya butuh ustaz, tapi sosok penuntun ruhani yang bisa menjadi pelayan sekaligus teman spiritual dalam perjalanan menuju Baitullah,"

Tayang:
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Tgk. H. Muhammad Aminullah, MA, Dosen UNISAI Samalanga dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jamaah Haji Asal Pidie melaporkan dari Makkah, Arab Saudi 

Usulan ini bukan semata-mata mengikuti tren, melainkan menjawab kebutuhan riil di lapangan.

"Bayangkan jika UNISAI mampu mencetak lulusan yang paham manasik klasik seperti 'Manasikul Hajj' karya Imam Nawawi, sekaligus mahir dalam pengelolaan logistik, komunikasi lintas budaya, dan bimbingan
rohani. Ini akan menjadi revolusi layanan haji berbasis nilai dan profesionalisme," jelasnya.

Baca juga: Jamaah Haji Asal Banda Aceh Meninggal Dunia di Makkah

Prodi MHU di UNISAI dapat merancang kurikulum integratif: menggabungkan ilmu syariat, manajemen, teknologi informasi, kebahasaan (Arab-Inggris-Melayu), hingga etika pelayanan. 

Mahasiswa juga bisa menjalani praktik lapangan di Kemenag, biro travel syariah, serta lembaga pembimbing haji.

Tak hanya itu, lulusan prodi ini dapat menjadi solusi nyata atas minimnya SDM yang berkompeten di bidang pelayanan ibadah. 

Mereka bisa tampil sebagai konsultan manasik, mutawif bersertifikat, pengelola travel haji dan umrah, hingga pemikir kebijakan publik dalam bidang pelayanan haji. 

Dengan basis nilai dayah yang kuat, lulusan UNISAI diharapkan menjadi penyegar spiritual sekaligus profesional pelayanan yang tak tergantikan. 

Diakhir rilisnya, Tgk. Aminullah menyampaikan seruan khusus dari depan Ka'bah, "Kita sudah melahirkan para mufti dan dai dari Samalanga. 

Kini saatnya kita juga melahirkan para manajer ibadah haji dan umrah yang profesional, ruhani, dan terpercaya. 

Saya berdoa agar UNISAI menjadi pelopor pendidikan layanan ibadah haji yang bersih, syar’i, dan membumi," ungkapnya penuh harap.

Ia juga mengajak seluruh tokoh dayah, pimpinan kampus, ulama, hingga pemangku kebijakan
di Aceh untuk bahu-membahu mewujudkan prodi ini. 

“Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen jasa haji, padahal kita punya kapasitas besar menjadi penyedia layanan terbaik,” tegasnya.

Haji bukan lagi semata urusan koper, kuota, dan konsumsi. 

Ia adalah amanah peradaban. Ibadah yang menyentuh logistik, teknologi, diplomasi, hingga akhlak pelayanan.

Dunia Islam tak boleh lengah. Dan Aceh, sebagai Serambi Mekkah, memiliki tanggung jawab lebih.

Baca juga: Gangguan Pernapasan, Satu Jamaah Haji Asal Aceh Tamiang Meninggal Dunia di Makkah

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved