Citizen Reporter
Dinamika Spiritual dan Teknis dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji Modern
"Mereka tak hanya butuh ustaz, tapi sosok penuntun ruhani yang bisa menjadi pelayan sekaligus teman spiritual dalam perjalanan menuju Baitullah,"
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Muhammad Hadi
Kehadiran Prodi MHU UNISAI Samalanga dengan kapasitas alumni kampus dan dayah akan mampu memberikan pencerahan kepada jamaah haji baik selama manasik haji hingga pendampingan saat ibadah haji hingga pulang tanah air.
Baca juga: Mulai Jumat, Jamaah Haji Aceh Mulai Bergerak dari Mekkah ke Madinah
Ia menambahkan, penggunaan transportasi umum yang disediakan secara gratis oleh pemerintah Arab Saudi kerap tidak diketahui jamaah, atau bahkan sengaja tidak diinformasikan.
Padahal, pembimbing manasik seharusnya menjelaskan cara penggunaan layanan tersebut demi efisiensi
dan penghematan biaya jamaah.
"Jangan sampai ada pembimbing yang menutupi keberadaan fasilitas ini," tegasnya.
Demikian pula dengan penggunaan fasilitas kamar mandi, yang menjadi kebutuhan harian mendesak. Banyak jamaah kebingungan dalam mengoperasikan shower otomatis, tombol flush, atau cara membersihkan setelah buang air.
Akibatnya, tidak jarang timbul ketidaknyamanan dan kekotoran di fasilitas umum ujung-ujungnya mengganggu keabsahan ibadah dalam perspektif syariat Islam.
"Materi seperti ini harus masuk dalam sesi manasik. Jangan menganggap remeh. Ini bagian dari menjaga kebersihan, adab, dan kenyamanan jamaah lain juga keabsahan pelaksanaan ibadah dalam keseharian," tambahnya.
Sebagai salah satu kampus Islam berbasis dayah terbesar di Aceh, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga memiliki tiga modal penting yang dinilai sangat strategis untuk menjawab
tantangan tersebut:
Pertama, kader santri yang paham fiqih dan adab, santri-santri alumni dayah memiliki pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab klasik, termasuk fiqih haji dan manasik.
Mereka juga dibentuk dalam adab, keikhlasan, dan akhlak pelayanan.
Kedua, jaringan alumni dan praktisi keagamaan yang luas, UNISAI memiliki jaringan alumni yang tersebar di berbagai pelosok Aceh, bahkan nasional dan internasional. Ini menjadi modal kuat dalam membangun sinergi pelatihan dan pengabdian masyarakat di bidang haji dan umrah.
Ketiga, kedekatan sosial dengan jamaah haji lokal. Sebagian besar jamaah haji asal Aceh berasal dari latar belakang religius dan memiliki kedekatan historis dengan dunia dayah.
Hal ini membuat lulusan UNISAI lebih mudah diterima sebagai pembimbing maupun pengelola layanan haji.
"Ketika saya melihat para jamaah Aceh bingung menghadapi mutawif yang tidak bisa berbahasa Melayu, atau ketika mereka kelelahan tanpa arahan ruhani, saya teringat: andai alumni dayah kita dibekali manajemen
ibadah haji, mereka bisa menjadi pelayan terbaik tamu Allah," ujarnya lirih.
Melihat urgensi tersebut, Dr. Aminullah mengusulkan agar UNISAI segera membuka Program Studi Manajemen Haji dan Umrah (MHU) di bawah Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
| Di Bawah Langit Sanliurfa: Ketika Api Menjadi Dingin dan Iman Menjadi Nyata |
|
|---|
| Aceh Darussalam Aman: Dompet Hilang, Dikembalikan Utuh |
|
|---|
| Akademisi UIN Ar-Raniry Soroti Pentingnya Etika dan Kompetensi dalam Komunikasi Islam |
|
|---|
| Dari Sopir Truk Menjadi Pengusaha: Raja Khatami Berbagi Waktu untuk Bisnis Sambil Kuliah di UNIKI |
|
|---|
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Tgk-H-Muhammad-Aminullah-MA-Dosen-UNISAI-Samalanga-dan-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)