Berita Bireuen
Kontingen Pidie ke Grand Final, Fahmil Kutub Sayembara Muharram MUDI Se-Aceh
Kontingen asal daerah penghasil kerupuk mulieng ini menyisihkan lawan-lawan kuat seperti Aceh Timur, Langsa, dan terutama Aceh Utara (Pase)
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Nur Nihayati
Kedua tim saling kejar skor dalam babak rebutan. Namun, jelang akhir, pasukan Pidie menunjukkan kecerdasan luar biasa, tidak hanya dengan kecepatan menjawab, tapi juga penguasaan taktik arena, mirip strategi perang yang dahulu pernah dipakai oleh pejuang-pejuang Pidie melawan kolonialisme.
“Pase memang rival utama kami, dan mereka tampil luar
biasa.
Tapi kami datang dengan semangat kebangkitan. Kami tak ingin
sekadar tampil, kami ingin menang dengan martabat,” tegas Tgk. Saidul Abrar, jubir utama tim Pidie.
Tgk Saidul menambahkan bahwa kemenangan bukan hanya buah dari latihan teknis, melainkan juga karena kekompakan, spiritualitas, dan rasa tanggung jawab sebagai santri.
"Keberhasilan ini juga berkat doa guru dan santri serta masyarakat sehingga mampu tembus babak final, " sambungnya.
Sejak babak pemerataan sebenarnya Pidie banyak poin yang
sudah diraih namun kurang ketelitian akhirnya ada poin yang terbuang, namun itu menjadi catatan untuk Fahmil Kutub Pidie nantinya babak final.
Meskipun demikian semangat pasukan Pidie tidak luntur, akhirnya
dengan menjawab tiga soal terakhir secara sempurna, Pidie berhasil
mengumpulkan total nilai 725 poin.
Pidie unggul tipis dari Pase yang terhenti di 700 poin sebagai Runner-up, Aceh Timur meraih poin 575 poin dan Langsa 650 poin, "paparnya.
Teriakan takbir dan aplus penonton baik masyarakat dan santri terutama dari tribun pendukung.
Para santriwan dan santriwati Pidie bersorak bangga, mengibarkan bendera kehormatan bahwa Pidie masih dan akan selalu ada dalam peta keilmuan Aceh.
“Kemenangan ini tidak lahir semalam. Mereka digembleng bukan
hanya untuk menjawab soal, tapi untuk memahami ruh dari ilmu itu
sendiri.
Kami membina dengan pendekatan ruhiyah, adab, dan kedalaman
kitab,” jelasnya.
Tgk Imam juga menegaskan bahwa apa yang dicapai hari
ini adalah kebangkitan intelektual berbasis tradisi.
“Mereka tampil bukan sebagai pelajar biasa, tapi sebagai santri yang mewarisi semangat ulama dan pejuang.
Apa yang dilakukan oleh Saidul Abrar dan kawan-kawan adalah cermin dari cita-cita besar Tgk. Chik Di Tiro yangdulu memimpin perlawanan bukan dengan amarah, tapi dengan ilmu dan
akhlak.”
Faperta UNIKI Bireuen Kerja Sama dengan FKA untuk Kembangkan Kakao di Aceh |
![]() |
---|
Polda Aceh Serahkan 2 Tersangka Tramadol ke Kejari Bireuen, BB dari Jakarta Hendak Diedar di Matang |
![]() |
---|
KLHK Lakukan Penilaian Adipura dan TPA di Bireuen, Sambangi 18 Titik Ini |
![]() |
---|
Demi Beras Murah, Ratusan Warga Gandapura Rela Panas-panasan Antri Panjang |
![]() |
---|
Puluhan Lansia Rambong Payong Bireuen Kembali Belajar di Sekolah Mutiara Senja |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.