Rabu, 6 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Bubur Asyura, Tradisi Masyarakat Aceh di Bulan Muharam

Bubur Asyura bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol. Simbol persaudaraan, kekeluargaan, dan juga penghormatan terhadap peristiwa sejarah.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mufti
IST
Cut Novrita Rizki, S. Pd., M. Sc.., Dosen Tadris Biologi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

Cut Novrita Rizki, S. Pd., M. Sc.., Dosen Tadris Biologi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Bulan Muharam (versi tak bakunya Muharram) selalu punya makna khusus bagi masyarakat Aceh. Selain sebagai bulan pertama dalam kalender hijriah, Muharam di Bumi Serambi Makkah juga diwarnai oleh tradisi yang begitu lekat dengan nilai kebersamaan. Salah satunya adalah lewat sajian yang disebut bubur Asyura atau dalam bahasa lokal disebut "bubur Asyura Muharam".

Setiap memasuki tanggal 10 Muharam, aroma rempah dan santan mulai tercium dari berbagai sudut kampung di Aceh. Biasanya, aktivitas ini dimulai sejak pagi. Kaum perempuan bergotong royong di dapur meunasah, sementara anak-anak dengan riang ikut membantu memotong pisang, singkong, dan umbi-umbian. Di tengah kesederhanaan, semangat untuk berbagi justru terasa begitu hangat.

Bubur Asyura bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol. Simbol persaudaraan, kekeluargaan, dan juga penghormatan terhadap peristiwa sejarah.  Dikisahkan bahwa bubur ini dulunya dibuat sebagai bentuk rasa syukur Nabi Nuh saat kapalnya selamat dari banjir besar, dan makanan yang ada saat itu dicampur jadi satu, lalu dimasak bersama-sama. Cerita ini dikenal luas di berbagai masyarakat muslim di Asia Tenggara dan diyakini sebagai akar dari tradisi memasak bubur Asyura setiap tanggal 10 Muharam.

Dalam artikel yang diterbitkan oleh kumparan.com, dijelaskan bahwa tradisi tersebut bermula dari peristiwa selamatnya Nabi Nuh dan pengikutnya, lalu mereka mengumpulkan bahan makanan yang masih ada seperti gandum, kurma, dan kacang-kacangan untuk dimasak sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan dari musibah banjir besar (Kumparan, 2021. Sejarah Bubur Asyura dan Filosofinya sebagai Tradisi 10 Muharram).

Namun demikian, tidak semua pandangan sepakat dengan asal-usul ini. Sebagian ulama menyebut kisah tersebut termasuk dalam kategori Israiliyat, yakni cerita dari tradisi Yahudi atau Kristen yang diserap ke dalam literatur Islam tanpa validasi kuat dari hadis nabi. Meski demikian, kisah ini tetap hidup dalam memori budaya masyarakat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Aceh, dan menjadi fondasi tradisi bubur Asyura yang diwariskan turun-temurun.

Naziz Nasr dalam bukunya The Heart of Islam (2006) menyatakan bahwa peringatan Asyura bagi kaum Syiah bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan telah berkembang menjadi atraksi politik dan simbol identitas komunitas.

Menariknya, di belahan dunia Islam lain, seperti Iran, Irak, dan sebagian komunitas Syiah di Indonesia, bulan Muharam juga identik dengan peringatan hari Asyura, tetapi dalam konteks yang berbeda. Bagi kaum Syiah, 10 Muharam adalah hari berkabung nasional untuk mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad saw, Sayyidina Husain bin Ali di Karbala.

Ritual Asyura di kalangan Syiah dipenuhi dengan suasana duka, prosesi jalan kaki, bahkan sampai melukai diri sebagai bentuk empati atas tragedi tersebut.

Berbeda dengan tradisi Sunni yang lebih menekankan syukur dan amal, tradisi Syiah justru membangun makna spiritual Asyura sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Oleh karena itu, meskipun sama-sama mengenal Asyura, tafsir dan praktiknya bisa sangat berbeda. Namun, keduanya memiliki nilai simbolik yang kuat dalam menyampaikan pesan sejarah dan spiritualitas umat Islam.

Ekspresi budaya

Untuk memperdalam pemahaman akan keragaman tradisi Asyura, penting pula untuk melihat bagaimana masyarakat lokal merefleksikan sejarah melalui bentuk kuliner. Bagi masyarakat Aceh, yang hidup dalam lingkungan sosial yang kuat dan religius, bubur Asyura menjadi wadah ekspresi budaya dan spiritualitas yang khas.

Hal ini membedakan tradisi mereka dari bentuk peringatan Asyura yang berkembang di daerah lain, seperti komunitas Syiah. Dari sinilah kita memahami bahwa meski memiliki akar sejarah yang sama, ekspresi tradisi dapat berkembang sesuai nilai dan konteks lokal masing-masing.

Kesadaran ini menjadikan masyarakat Aceh tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merayakannya dengan kekhasan tersendiri, termasuk dalam cara mereka meramu bahan dan menyajikan bubur Asyura. Uniknya, bahan-bahan dalam bubur Asyura di Aceh sangat beragam. Ada beras, jagung, ubi, labu, kacang-kacangan, pisang, santan, bahkan terkadang dimasukkan irisan manisan. Semua bahan ini melambangkan keberagaman dan kekayaan rezeki yang disatukan dalam satu periuk besar.

Di kampung suami saya di wilayah Pidie, tradisi memasak bubur ini masih dilestarikan hingga sekarang. Biasanya, acara dimulai dengan zikir bersama, lalu memasak bubur secara bergiliran. Tak ada yang dibayar atau menyuruh, semua berjalan alami. Yang tua menyumbang bahan, yang muda menyingsingkan lengan, ikut memasak.

Setelah matang, bubur dibagi dalam mangkuk-mangkuk atau bungkus daun pisang, lalu dibagikan ke tetangga dan anak-anak yatim. Ada kebahagiaan sederhana saat melihat senyum mereka yang menerima. Tradisi ini juga jadi sarana berbagi rezeki dan memperkuat silaturahmi antarwarga, di luar perbedaan status sosial.

Bubur Asura memiliki citarasa khas, manis, gurih dengan sedikit aroma jahe dan pandan. Namun, lebih dari rasa, yang paling melekat adalah kenangan tentang bagaimana semua orang terlibat. Tak ada yang merasa asing, semua bagian dari satu keluarga besar.

Kini, meskipun zaman telah banyak berubah, tradisi ini tetap dijaga oleh sebagian besar masyarakat Aceh. Bahkan, di kota-kota besar seperti Banda Aceh, bubur Asyura masih dimasak di masjid, meunasah, atau komunitas, biasanya disertai ceramah singkat tentang makna 10 Muharam atau dikenal juga sebagai Hari Asyura.

Beberapa kalangan muda mulai mendokumentasikan proses ini lewat media sosial, sebagai bentuk pelestarian budaya. Mereka sadar, jika tidak diwariskan dan diperkenalkan, bisa jadi generasi berikutnya hanya mengenal nama tanpa rasa, tradisi tanpa makna.

Yang membanggakan, meski tak lagi semasif dulu, semangat kebersamaan itu belum pudar. Bubur Asyura mengajarkan kita bahwa tradisi bisa jadi media dakwah yang lembut, ia menyentuh hati lewat rasa dan kebersamaan, bukan lewat kata-kata keras, apalagi indoktrinasi.

Sebagai orang Aceh, saya merasa beruntung tumbuh dalam tradisi ini. Di tengah gempuran modernitas dan budaya instan, bubur Asyura adalah pengingat bahwa kebaikan bisa hadir dalam hal paling sederhana. Semangkuk bubur, semangat gotong royong, dan doa-doa yang mengalir dari hati yang ikhlas.

Tradisi ini tak butuh panggung besar. Cukup ada api yang menyala, wajan yang mendidih, dan hati yang tulus ingin berbagi. Karena sesungguhnya, di sanalah letak kekuatan warisan budaya Aceh: tidak hanya pada apa yang dibuat, tapi bagaimana itu diwariskan dengan cinta.

Tradisi tentu bukanlah kewajiban agama yang harus dijalankan, tetapi ia menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga identitas dan harmoni sosial. Masyarakat Aceh telah membuktikan bahwa menjaga tradisi tidak harus berarti menutup diri dari perkembangan zaman, justru sebaliknya, nilai-nilai dalam tradisi bisa menjadi penguat dalam menghadapi tantangan modernitas.

Karena itu, menjaga tradisi seperti bubur Asyura bukan berarti memaksakan budaya harus seragam, melainkan menjaga ruang bersama, tempat nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan kepedulian tumbuh subur. Inilah warisan budaya yang tak ternilai: bukan sekadar resep, melainkan semangat hidup bersama yang patut kita jaga.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved