Opini

Gampong Mandiri Pangan

Gagasan ini mencerminkan kepedulian terhadap kualitas gizi generasi muda, sekaligus upaya menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas SDM seja

Editor: mufti
IST
DR IR AZHARI MSC, Dosen Departemen Agribisnis-Fakultas Pertanian USK, dan Tim Penulis Buku Pertanian, Kehutanan dan Kemakmuran Petani (2021) 

Rantai pasok

Untuk memperkuat peran gampong, pemerintah daerah perlu melakukan pemetaan potensi pangan lokal secara menyeluruh. Data mengenai komoditas unggulan di tiap gampong, jumlah produksi rata-rata, serta kesiapan kelompok tani atau pelaku usaha desa harus tersedia sebagai dasar dalam menyusun rantai pasok MBG. Di sisi lain, dana desa dapat dialokasikan sebagian untuk membangun kapasitas produksi pangan lokal.
Program budidaya sayur, penggemukan ternak, atau budidaya ikan air tawar skala rumah tangga bisa dikembangkan agar pasokan bahan baku MBG berasal dari desa sekitar.

Pemerintah juga perlu memperkuat kelembagaan ekonomi gampong, seperti BUMG dan koperasi, yang dapat menjalankan fungsi agregator.

Lembaga ini bisa menjadi penghubung antara petani, peternak, atau nelayan dengan pengelola dapur MBG di sekolah-sekolah atau puskesmas. Di sisi hilir, perlu disusun skema pembelian berbasis komunitas yang memberi prioritas pada bahan pangan lokal daripada produk luar daerah. Selain itu, program pelatihan dan pendampingan juga penting agar pelaku usaha desa mampu memenuhi standar keamanan dan mutu pangan. Program MBG bukan hanya soal memberi makan, tapi memastikan anak-anak Indonesia mengonsumsi pangan yang aman, bergizi, dan diproduksi secara adil. Di sinilah letak pentingnya kolaborasi antara dinas pertanian, dinas pendidikan, dinas kesehatan, dan pemerintahan gampong.

Dalam konteks Aceh, program ini dapat dikembangkan sebagai model percontohan nasional. Provinsi ini memiliki keunggulan sumber daya, keberagaman komoditas, serta tradisi gotong royong yang kuat. Apabila gampong-gampong di Aceh berhasil menjadi tulang punggung pasokan MBG, maka ini bukan hanya memberi dampak ekonomi, tetapi juga mengangkat marwah desa sebagai penjaga ketahanan pangan bangsa.

Penutup dari gagasan ini adalah ajakan untuk menempatkan desa sebagai pusat perubahan. Ketahanan pangan tidak bisa dibangun dari atas ke bawah. Ia harus tumbuh dari gampong-gampong yang mandiri dan berdaya. MBG adalah peluang besar, namun hanya akan berarti jika desain program membuka ruang partisipasi yang luas bagi masyarakat desa. Saatnya kita berhenti melihat desa sebagai objek bantuan dan mulai memandangnya sebagai mitra pembangunan.

Dengan begitu, bukan hanya gizi anak-anak yang terpenuhi, tetapi martabat petani, nelayan, dan peternak kita pun ikut terangkat. Kita tidak hanya membangun sistem pangan yang berdaya tahan, tetapi juga merevitalisasi peran desa dalam pembangunan bangsa dari akar yang paling dalam.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved