Kupi Beungoh
Ketika Asap dan Moral Berkelindan
Ironisnya, narasi seperti ini tak hanya berkembang di ruang-ruang publik, tetapi juga menyusup ke lingkungan akademik—termasuk kampus—yang seharusnya
Mereka memang merokok, tapi mereka juga menyisihkan waktunya, tenaganya, dan kadang hartanya, untuk orang lain.
Jika ukuran moralitas adalah kepedulian dan aksi nyata terhadap sesama manusia, maka bukankah mereka jauh lebih layak disebut bermoral dibanding mereka yang tubuhnya sehat namun hatinya steril dari empati?
Seorang buruh yang merokok tapi tetap menyisihkan sebagian gajinya untuk tetangganya yang sakit, atau seorang mahasiswa perokok yang aktif dalam komunitas literasi dan advokasi sosial, jelas tidak kalah—jika bukan lebih—bermoral dibanding mereka yang menjalani hidup sehat tapi tak pernah peduli pada apa pun di luar dirinya.
Saya pikir, kita tak perlu terlampau sibuk merawat citra “sehat” jika di saat yang sama, kita tega mengorbankan martabat orang lain dengan menuduh mereka tidak bermoral hanya karena memilih gaya hidup yang berbeda.
Sebab pada akhirnya, moral bukan soal apa yang kita hirup, tapi siapa yang kita bantu ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.
Sejak Kapan Rokok Menjadi Indikator Moral?
Dalam konteks ini, patut kita pertanyakan secara kritis: dari mana sebenarnya muncul anggapan bahwa perokok identik dengan moralitas yang buruk?
Apakah ini semata produk kampanye kesehatan publik yang, tanpa sadar, disusupi tafsir nilai-nilai moral? Ataukah ada hasrat terselubung untuk menertibkan hidup orang lain lewat standar homogen yang dipaksakan—atas nama “kebaikan bersama”?
Mengaitkan rokok dengan moralitas, sejatinya, seperti menyalahkan sendok atas naiknya kadar gula darah. Ia keliru dalam logika, dan bisa kejam dalam konsekuensi sosial.
Sebab dari asumsi semacam itu, lahir kecenderungan untuk menghakimi secara buta, tanpa menyisakan ruang untuk empati atau pemahaman yang lebih dalam terhadap konteks dan latar belakang setiap individu.
Kita sering lupa bahwa dalam sejarah bangsa ini, sejumlah tokoh besar—pemikir, seniman, hingga pemimpin—adalah perokok.
Namun publik tak pernah mengingat mereka karena batang rokok di tangan, melainkan karena keberanian, karya, dan dedikasi mereka yang melampaui zamannya. Bung Karno merokok, tetapi yang ia kobarkan bukan asap, melainkan semangat kemerdekaan.
Chairil Anwar merokok, tapi yang tertinggal dari dirinya bukan aroma tembakau, melainkan getar puisinya yang masih menggugah jiwa hingga hari ini.
Pramoedya Ananta Toer pun merokok, namun ia dikenang karena buku-buku yang membentuk kesadaran kolektif bangsa—bukan karena abu rokok di ujung meja kerjanya.
Dari mereka kita belajar: yang menghidupkan puisi Chairil, gagasan Bung Karno, dan karya Pramoedya bukanlah nikotin, melainkan keberpihakan, keberanian, dan cinta yang tiada lawan untuk kemanusiaan.
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
| Duka dan Air Mata Rakyat Aceh Dibalik Usaha Membersihkan Rumah Pasca Banjir Bandang |
|
|---|
| Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Khairil-Miswar-OKE.jpg)