Kupi Beungoh
Ketika Asap dan Moral Berkelindan
Ironisnya, narasi seperti ini tak hanya berkembang di ruang-ruang publik, tetapi juga menyusup ke lingkungan akademik—termasuk kampus—yang seharusnya
Oleh karena itu, persoalannya bukan terletak pada batang rokok di tangan seseorang, melainkan pada bagaimana ia hidup sebagai manusia yang berpikir, merasa, dan bertindak.
Moralitas tidak bersemayam dalam asap, tetapi dalam kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab yang nyata. Menata ruang merokok demi kenyamanan bersama adalah tindakan etis, bahkan bijak—sebuah bentuk tanggung jawab sosial yang penting dan patut didukung.
Bahwa merokok tak boleh dilakukan di ruang tertutup, ruang kelas, atau area publik tanpa zona khusus, itu adalah aturan yang adil dan logis. Tapi ketika kita melangkah lebih jauh—menyebut perokok sebagai tidak etis, tidak sopan, bahkan tidak beradab—maka kita tengah melanggengkan bentuk ketidakadilan sosial yang halus, tapi memiliki daya rusak nyata.
Demikian pula, membatasi martabat seseorang hanya karena ia merokok adalah tindakan yang tidak adil, tidak bijak, dan—yang paling penting—tidak manusiawi. Sebab pada dasarnya, setiap individu atau kelompok memiliki alasan dan narasi hidupnya sendiri.
Perokok pun berhak menafsirkan dirinya secara utuh, bukan sekadar menjadi objek tafsir sepihak dari kacamata gerakan anti-rokok. Ketika kita memaksakan satu tafsir tunggal atas gaya hidup orang lain, kita bukan sedang memperjuangkan etika, melainkan sedang membungkam keberagaman cara hidup yang sah secara sosial maupun eksistensial.
Alih-alih terus menyalahkan perokok karena gaya hidupnya, barangkali sudah saatnya kita bertanya lebih jujur kepada diri sendiri: seberapa peduli kita pada mereka yang benar-benar tertindas?
Seberapa sering kita terlibat dalam kerja sosial yang nyata, bukan sekadar unggahan simpatik di media sosial? Sudahkah kita bersikap adil pada para pekerja informal, petani, nelayan, tukang ojek, atau buruh pasar—yang sebagian dari mereka merokok bukan karena ingin tampil gaya, tetapi karena itu satu-satunya hiburan paling murah yang masih bisa mereka jangkau di tengah hidup yang semakin berat?
Kita sering lupa, bahwa di balik sebatang rokok, seringkali tersembunyi letih, sunyi, dan beban hidup yang tak pernah diberi ruang untuk didengar, apalagi dipahami.
Pada akhirnya, moralitas tidak lahir dari bersihnya paru-paru, tetapi dari mata hati yang tidak buta melihat sesama.
Seorang perokok yang tahu batas, tidak mengganggu ruang publik, dan peduli pada nasib orang lain, jauh lebih layak disebut bermoral ketimbang mereka yang tak pernah menyentuh rokok, tapi juga tak pernah menyentuh penderitaan orang lain.
Asap bisa lenyap ditiup angin, tapi stigma terhadap perokok yang dikukuhkan atas nama moral palsu akan menetap sebagai bentuk ketidakadilan struktural. Maka sudahilah upaya menyeret rokok ke ruang sidang etika.
Sebab yang seharusnya diuji bukan kebiasaan pribadi, tapi keberpihakan kita pada nilai-nilai kemanusiaan. Salam satu batang!
*) PENULIS adalah esais dan perokok santun yang berusaha untuk tidak mencemari ruang publik.
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
| Duka dan Air Mata Rakyat Aceh Dibalik Usaha Membersihkan Rumah Pasca Banjir Bandang |
|
|---|
| Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Khairil-Miswar-OKE.jpg)