Selasa, 28 April 2026

Video

VIDEO - Melihat Proses dari Dapur Kecil Kue Arafik Menjadi UMKM Ikonik

Kue Arafik adalah sejenis bakpia, kue berbentuk bulat pipih dengan kulit tipis yang lembut, sedikit renyah dan gurih

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Teuku Raja Maulana

SERAMBINEWS.COM - Di sebuah desa kecil bernama Pulo Pisang, di Kota Sigli, Provinsi Aceh, aroma manis dari dapur sederhana menguar sejak pagi hari.

Di sinilah tempat sebuah kisah inspiratif bermula, kisah tentang ketekunan, warisan budaya dan kekuatan perempuan. Inilah cerita tentang Kue Arafik, kue khas yang telah menjadi ikon oleh-oleh dari Sigli dan melintasi batas negara berkat tangan dingin seorang ibu bernama Kak Rosni.

Kue Arafik adalah sejenis bakpia, kue berbentuk bulat pipih dengan kulit tipis yang lembut, sedikit renyah dan gurih, berisi pasta kacang merah manis yang legit.

Baca juga: VIDEO - Kisah Sukses UMKM Kue Arafik Sigli: Tembus Ekspor ke Kanada hingga Australia

Di Sigli, kue ini lebih dikenal dengan nama “Arafik”, nama yang sudah melekat sejak lama.

Usaha UMKM Kue Arafik ini dimulai pada tahun 2003, ketika Kak Rosni atau yang akrab disapa K’Ni memutuskan untuk membuat kue ini secara mandiri.

Berbekal resep dari mertuanya yang berdarah Tionghoa, seorang ahli masak rumahan yang dulunya memiliki usaha katering, Kak Rosni mulai membuat kue Arafik dari rumah, dengan modal seadanya.

Hanya sekitar satu juta rupiah, cukup untuk membeli oven dan sebotol gas.

Dari sana, ia mulai memproduksi adonan dari dua kilogram tepung setiap harinya dan menjajakannya di sekitar Sigli dan Pidie.

Baca juga: Kisah Sukses UMKM Kue Arafik Sigli: Resep Warisan Mertua Tionghoa, Dibawa ke Kanada hingga Australia

Tekstur dan rasa kue Arafik sangat khas.

Kulitnya tipis, dibuat dari campuran tepung terigu, air dan minyak

Sementara penggunaan kuning telur digunakan hanya bagian atas untuk memberi warna keemasan setelah dipanggang.

Rasanya gurih dan renyah tipis saat digigit.

Bagian dalamnya diisi selai kacang merah yang diolah dengan penuh ketelatenan, kacang direndam, direbus, digiling, lalu dimasak dengan gula dan minyak selama delapan jam dalam mesin pengaduk otomatis.

Baca juga: Gurihnya Kue Arafik, Pembangkit Perekonomian

Selai ini biasanya disiapkan semalam sebelumnya, agar dingin saat dimasukkan ke dalam kulit kue keesokan harinya.

Kini, dari yang dulunya hanya menggunakan dua kilo tepung, dapur produksi Kue Arafik menghabiskan dua hingga tiga sak tepung segitiga biru setiap hari, tergantung permintaan.

Bahkan saat hari-hari besar, omzet harian bisa mencapai empat hingga lima juta rupiah.

Produksinya tetap dilakukan secara manual, dari menakar adonan dengan genggaman tangan hingga mencetak satu per satu kue, sebuah kekonsistenan tradisi yang dipertahankan dengan sepenuh hati.

Namun, yang paling membanggakan dari kisah ini bukan hanya soal rasa dan omzet.

Baca juga: Perhelatan MTQ XXXVI Aceh Selatan Bawa Berkah bagi Pelaku UMKM

Usaha rumahan ini kini telah menghidupi 14 karyawan, semuanya warga lokal.

Di antara mereka adalah Ekawati, warga Pulo Pisang yang telah bekerja selama lima tahun.

Ia adalah ibu dari empat anak, yang kini mampu membantu suaminya, memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, semua berkat penghasilannya dari membuat kue.

Kue Arafik dijual seharga Rp15.000 per bungkus untuk agen, dan dijual kembali dengan harga Rp25.000.

 Pasarnya kini tak lagi terbatas di Sigli. Pesanan datang dari Meulaboh, Takengon, hingga luar negeri.

Baca juga: Bank Aceh Genjot Pembiayaan UMKM, Salurkan Rp 2,53 Triliun Hingga Juni 2025

Meski belum diekspor resmi, tak jarang wisatawan asing dan warga Aceh diaspora membawa pulang kue ini ke Malaysia, Kanada, bahkan Australia.

Banyak wisatawan datang langsung ke rumah produksi, hanya untuk merasakan sensasi kue Arafik yang baru keluar dari oven.

Mereka bukan sekadar membeli oleh-oleh, tapi juga menyaksikan langsung proses produksinya, sebuah pengalaman yang menghubungkan rasa dengan cerita.

Dari dapur sederhana di sebuah desa kecil di Sigli, aroma kesuksesan Kak Rosni telah menguar ke belahan dunia lain.

Kue Arafik bukan sekadar kue.

Ia adalah simbol ketekunan, keberanian memulai dari nol, warisan lintas budaya, dan bukti bahwa dari tangan seorang ibu, rasa manis bisa menjangkau dunia. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved