Sabtu, 11 April 2026

Konflik Suriah

Suriah Tarik Pasukan dari Sweida, Israel Besumpah Bela Sekutu Druze

Pengumuman ini muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik sektarian yang telah berkecamuk

Editor: Ansari Hasyim
PressTV
Militan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah. 

SERAMBINEWS.COM - Suriah mengumumkan pihaknya menarik pasukan dari kota Sweida yang mayoritas penduduknya Druze pada Rabu malam setelah menyetujui gencatan senjata baru yang dikatakannya akan menghentikan sepenuhnya operasi militernya di sana.

Bahkan ketika beberapa pemimpin Druze menolak pengaturan tersebut dan Israel berjanji untuk melindungi kelompok minoritas yang menjadi sekutunya itu.

Pengumuman ini muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik sektarian yang telah berkecamuk sejak akhir pekan "telah menyepakati langkah-langkah spesifik" untuk gencatan senjata. 

Gencatan senjata sebelumnya yang diumumkan Selasa tampaknya hanya berdampak kecil di wilayah selatan, tempat lebih dari 300 orang tewas, menurut sebuah lembaga pemantau.

Menurut teks perjanjian gencatan senjata baru yang diterbitkan oleh Kementerian Dalam Negeri Suriah, akan ada "penghentian total dan segera terhadap semua operasi militer," serta pembentukan komite yang terdiri dari pejabat pemerintah dan pemimpin spiritual Druze untuk mengawasi pelaksanaannya.

Kementerian Pertahanan negara itu kemudian mengatakan bahwa pihaknya “telah mulai menarik diri dari kota Sweida sebagai pelaksanaan ketentuan perjanjian yang diadopsi setelah berakhirnya operasi penggerebekan kota tersebut terhadap kelompok-kelompok penjahat.”

Baca juga: Markas Militer Suriah di Damaskus Rusak Parah Pasca Dibombardir 100 Rudal Jet Tempur & Drone Israel

Pernyataan kementerian itu tidak menyebutkan penarikan pasukan keamanan pemerintah lainnya yang dikerahkan ke kota itu.

Para saksi di Sweida mengatakan pasukan pemerintah yang dikirim ke Sweida dengan tujuan untuk mengakhiri bentrokan antara pejuang Druze dan Badui sebenarnya bergabung dengan pasukan Badui untuk menyerang pejuang Druze dan warga sipil.

Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa, kepala mantan afiliasi al-Qaeda yang menggulingkan pemimpin lama negara itu Bashar al-Assad pada bulan Desember, mengutuk pelanggaran tersebut dan berjanji akan menghukum para pelaku.

"Tindakan kriminal dan ilegal ini tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun, dan sepenuhnya bertentangan dengan prinsip-prinsip yang mendasari berdirinya negara Suriah," ujarnya dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

Di tengah pembicaraan gencatan senjata, Israel terus membombardir pasukan pemerintah Suriah, bersumpah untuk membela kaum Druze, sementara sekitar 1.000 anggota komunitas tersebut di Israel bergegas melintasi perbatasan untuk bergabung dalam pertempuran. 

Pasukan IDF dan dua anggota parlemen Druze Israel memasuki Suriah untuk mencoba memulangkan warga sipil Israel.

Rubio mengatakan pada hari Rabu bahwa pihak-pihak yang bertikai di Sweida “telah menyepakati langkah-langkah spesifik yang akan mengakhiri situasi yang meresahkan dan mengerikan ini malam ini.”

“Hal ini mengharuskan semua pihak untuk memenuhi komitmen yang telah mereka buat, dan inilah yang sepenuhnya kami harapkan dari mereka,” tulis Rubio di X.

Rubio sebelumnya mengatakan bentrokan tersebut telah menyebabkan “kesalahpahaman” antara pemerintah Israel dan Suriah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved