Konflik Suriah

Suriah Bersihkan Pejuang dari Kota Druze, Suwayda, Presiden Umumkan Gencatan Senjata

Sesaat sebelum klaim pemerintah, ada laporan tembakan senapan mesin di kota Suwayda serta penembakan mortir di desa-desa terdekat.

Editor: Ansari Hasyim
RNTV/TangkapLayar
TERAPKAN JAM MALAM - Pasukan rezim baru pemerintahan Suriah saat menangani kerusuhan yang terjadi di wilayah-wilayah yang menjadi basis pendukung Presiden terguling, Bashar Al-Assad, Kamis (6/3/2025). Pasukan Suriah dlaporan menerapkan jam malam di sejumlah wilayah pesisir negara tersebut. 

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Suriah mengatakan telah membersihkan pejuang Badui dari kota Suwayda yang mayoritas penduduknya beragama Druze dan menyatakan penghentian bentrokan mematikan di sana, beberapa jam setelah mengerahkan pasukan keamanan ke wilayah selatan yang bergolak.

Pengumuman pada Sabtu itu muncul setelah Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa memerintahkan gencatan senjata baru antara kelompok Badui dan Druze, menyusul kesepakatan terpisah yang ditengahi Amerika Serikat untuk mencegah intervensi militer Israel lebih lanjut dalam bentrokan tersebut.

Sesaat sebelum klaim pemerintah, ada laporan tembakan senapan mesin di kota Suwayda serta penembakan mortir di desa-desa terdekat.

Belum ada laporan langsung mengenai korban jiwa.

Nour al-Din Baba, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Sana bahwa pertempuran berakhir "setelah upaya intensif" untuk melaksanakan perjanjian gencatan senjata dan pengerahan pasukan pemerintah di wilayah utara dan barat provinsi Suwayda.

Ia mengatakan kota Suwayda, yang terletak di bagian barat provinsi tersebut, kini telah “dibersihkan dari semua pejuang suku, dan bentrokan di lingkungan kota telah terhenti”.

Intervensi Israel

Pertempuran pecah minggu lalu ketika penculikan seorang sopir truk Druze di jalan raya umum memicu serangkaian serangan balas dendam dan mengakibatkan pejuang suku dari seluruh negeri mengalir ke Suwayda untuk mendukung komunitas Badui di sana.

Bentrokan tersebut juga menarik pasukan pemerintah Suriah.

Israel juga ikut campur dalam konflik tersebut pada hari Rabu, dengan melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Suwayda dan ibu kota Suriah, Damaskus, dengan klaim bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk melindungi komunitas Druze setelah para pemimpin kelompok minoritas tersebut menuduh pasukan pemerintah melakukan pelanggaran terhadap mereka.

Pasukan pemerintah Suriah mundur dari Suwayda pada hari Kamis.

Setidaknya 260 orang tewas dalam pertempuran tersebut, dan 1.700 lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan Suriah. Namun, kelompok lain menyebutkan angka lebih dari 900 korban.

Lebih dari 87.000 orang juga mengungsi.

Pertempuran tersebut merupakan tantangan terbaru bagi pemerintahan al-Sharaa, yang mengambil alih kekuasaan setelah menggulingkan Presiden Bashar al-Assad pada bulan Desember.

Al-Sharaa, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada hari Sabtu, menyerukan semua pihak untuk meletakkan senjata dan membantu pemerintah memulihkan perdamaian.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved