Konflik Suriah

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa Tuduh Israel Inginkan Kekacauan dan Kehancuran

Dalam pernyataan pertamanya yang disiarkan di televisi setelah serangan udara Israel yang dahsyat di Damaskus pada Rabu, Sharaa berbicara kepada

Editor: Ansari Hasyim
Telegram resmi kantor berita Negara Suriah, SANA
PRESIDEN SURIAH- Foto yang diambil pada Kamis (30/1/2025) dari publikasi SANA pada Rabu (29/1/2025) memperlihatkan Panglima Tertinggi pemerintahan baru di Suriah, Ahmed Sharaa, berbicara pada hadirin selama konferensi Deklarasi Kemenangan Revolusi Suriah di Damaskus pada Rabu. Ahmed Al-Sharaa resmi ditunjuk sebagai Presiden Suriah selama masa transisi pemerintah setelah presiden Bashar al-Assad digulingkan pada 8 Desember 2024. 

SERAMBINEWS.COM - Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan bahwa melindungi warga Druze dan hak-hak mereka adalah prioritas setelah Israel berjanji untuk menghancurkan pasukan pemerintah Suriah yang menyerang Druze di Suriah selatan.

Dalam pernyataan pertamanya yang disiarkan di televisi setelah serangan udara Israel yang dahsyat di Damaskus pada Rabu, Sharaa berbicara kepada warga Druze dengan mengatakan, “Kami menolak segala upaya untuk menyeret Anda ke tangan pihak eksternal.”

"Kami tidak takut perang. Kami telah menghabiskan hidup kami menghadapi tantangan dan membela rakyat kami, tetapi kami mengutamakan kepentingan rakyat Suriah di atas kekacauan dan kehancuran," ujarnya dalam pidato yang ditujukan kepada Israel.

Ia menambahkan bahwa rakyat Suriah tidak takut perang dan siap berperang jika martabat mereka terancam.

Sharaa juga menuduh bahwa “entitas Israel melakukan penargetan besar-besaran terhadap fasilitas sipil dan pemerintah.”

Baca juga: Israel Kembali Serang Suriah, Klaim Dukung Suku Druze Lawan Pasukan Pemerintah

Hal ini menyebabkan komplikasi signifikan terhadap situasi dan mendorong masalah ke eskalasi skala besar, kecuali intervensi efektif dari mediasi Amerika, Arab, dan Turki, yang menyelamatkan kawasan tersebut dari nasib yang tidak diketahui, ujarnya.

Suriah Tarik Pasukan dari Sweida, Israel Besumpah Bela Sekutu Druze

Suriah mengumumkan pihaknya menarik pasukan dari kota Sweida yang mayoritas penduduknya Druze pada Rabu malam setelah menyetujui gencatan senjata baru yang dikatakannya akan menghentikan sepenuhnya operasi militernya di sana.

Bahkan ketika beberapa pemimpin Druze menolak pengaturan tersebut dan Israel berjanji untuk melindungi kelompok minoritas yang menjadi sekutunya itu.

Pengumuman ini muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik sektarian yang telah berkecamuk sejak akhir pekan "telah menyepakati langkah-langkah spesifik" untuk gencatan senjata. 

Gencatan senjata sebelumnya yang diumumkan Selasa tampaknya hanya berdampak kecil di wilayah selatan, tempat lebih dari 300 orang tewas, menurut sebuah lembaga pemantau.

Menurut teks perjanjian gencatan senjata baru yang diterbitkan oleh Kementerian Dalam Negeri Suriah, akan ada "penghentian total dan segera terhadap semua operasi militer," serta pembentukan komite yang terdiri dari pejabat pemerintah dan pemimpin spiritual Druze untuk mengawasi pelaksanaannya.

Kementerian Pertahanan negara itu kemudian mengatakan bahwa pihaknya “telah mulai menarik diri dari kota Sweida sebagai pelaksanaan ketentuan perjanjian yang diadopsi setelah berakhirnya operasi penggerebekan kota tersebut terhadap kelompok-kelompok penjahat.”

Pernyataan kementerian itu tidak menyebutkan penarikan pasukan keamanan pemerintah lainnya yang dikerahkan ke kota itu.

Para saksi di Sweida mengatakan pasukan pemerintah yang dikirim ke Sweida dengan tujuan untuk mengakhiri bentrokan antara pejuang Druze dan Badui sebenarnya bergabung dengan pasukan Badui untuk menyerang pejuang Druze dan warga sipil.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved