Liputan Eksklusif Aceh
Siapa di Balik Maraknya Pencurian Sawit di Aceh Singkil?
Nahasnya maling tak hanya mencuri sawit matang. Tetapi sawit mentah pun digasak. Kondisi itu, membuat korban mengalami dua kali kerugian sekaligus.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Safriadi Syahbuddin
Pencurian kelapa sawit di Kabupaten Aceh Singkil, sudah meresahkan. Pelaku tak hanya sasar kebun perusahaan, tapi kebun sawit milik petani kecil turut digasak.
Laporan Dede Rosadi | Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Pencurian kelapa sawit merajalela di Kabupaten Aceh Singkil. Pelaku tidak hanya sasar kebun perusahaan, tetapi kebun masyarakat yang sebelumnya aman, kini turut menjadi sasaran maling.
Kondisi itu meresahkan warga, terutama kalangan petani kecil yang menggantungkan penghidupan dari kebun sawitnya yang tak seberapa luas.
Nahasnya maling tak hanya mencuri sawit matang. Tetapi sawit mentah pun turut digasak.
Kondisi itu, membuat korban mengalami dua kali kerugian sekaligus.
Pertama kehilangan sawit. Kedua tanaman sawit rusak, sebab panen sawit mentah membuat tanaman rusak, sehingga sulit kembali berproduksi normal.
Selain buah matang dan mentah, pencurian sawit juga menyasar brondolan. Brondolan merupakan buah kelapa sawit matang yang jatuh dari janjang.
Baca juga: Kabar Gembira Bagi Warga Aceh Singkil, Lidi Pelepah Sawit Laku Dijual, Segini Harga Per Kilogram
Awalnya pengambilan brondolan tidak dipermasalahkan oleh pemilik kebun. Seiring mahalnya harga brondolan dibanding tanda buah segar (TBS) kelapa sawit, petani tidak lagi izinkan pengambilan brondolan.
Khusus perusahaan kelapa sawit, memang sengaja memanen sawit setelah jatuh brondolan. Lantaran jatuh brondolan merupakan tanda sawit matang sempurna.
Perusahaan juga memilki pegawai khusus tukang mengumpulkan brondolan. Sehingga melarang pihak luar mengambilnya.
Pencurian brondolan lebih marak, dengan sasar kebun milik perusahaan. Sementara kebun masyarakat, bukan sasaran utama sebab sawit sudah dipanen sebelum jatuh brondolan.
Jikapun ada jumlahnya sedikit dan dikumpul langsung oleh para pemanen.
Maraknya aksi pencurian brondolan, hingga muncul stigma negatif ibu-ibu brondolan. Ibu-ibu brondolan dialamatkan kepada kaum perempuan yang suka ambil brondolan.
Walau dalam prakteknya lebih banyak laki-laki yang ambil brondolan.
Pengambilan brondolan juga kerap dijadikan alasan oleh pelaku pencurian.
Dalam aksinya pelaku mengaku mencari brondolan, akan tetapi sawit yang ada di batang ikut diambil.
Modus aksinya dilakuan dengan memanen sawit yang ada di batang dalam kondisi masak maupun mentah.
Setelah jatuh disembunyikan di semak belukar, setelah sawit rontok dari janjang barulah diambil dengan dalih mengambil brondolan.
"Pencurian sawit masih sangat marak dan jadi salah satu masalah di Kabupaten Aceh Singkil," kata Taufik pemilik kebun sawit di Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Senin (28/7/2025).
Separuh dari Kebun Hilang
Kebun sawit milik Taufik, sempat menjadi sasaran maling sawit. Tak tanggung-tanggung, ia pernah kehilangan hampir separuh dari produksi kebunnya.
Sementara itu Ketaren pemilik kebun kelapa sawit di Gunung Meriah, mengaku tidak semua wilayah perkebunan kelapa sawit masyarakat jadi sasaran maling. Sebab sebagian kebun petani masih banyak yang aman.
"Tidak semua sih ada berapa-berapa wilayah yang kadang rawan kehilangan yang meresahkan pada petani kelapa sawit," kata Ketaren.
Kebun petani aman maling biasanya yang dekat dengan rumah pemiliknya atau dijaga siang malam. Paling tidak jumlah sawit yang dicurinya tidak separah yang jauh dari rumah pemiliknya dan tidak dijaga.
Berdasarkan hasil penelusuran ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab maraknya maling sawit.
Pertama alasan ekonomi. Alasan klasik ini, bisa jadi pembenar karena Aceh Singkil, menyandang status sebagai kabupaten termiskin di Provinsi Aceh.
Walau belum tentu sepenuhnya benar. Faktanya mencuri sawit membutuhkan fisik kuat serta keahlian memanen. Apa lagi, pencurian dilakukan pada malam hari.
Tentu hanya seseorang yang memilki keterampilan yang bisa panen sawit malam hari. Idealnya jika memiliki fisik kuat dan keterampilan memanen, bisa ikut menjadi buruh papen di kebun warga atau perusahaan.
Memang upah panen sawit, boleh jadi tidak sebanyak dan semudah mendapatkan uang dari mencuri. Namun dengan bekerja, tidak merugikan orang lain serta berisiko bagi pelakunya manakala tertangkap.
Laki, Perempuan, bahkan Anak-anak
Khusus pelaku pengambil brondolan sawit yang sasar kebun milik perusahaan, menurut sejumlah sumber pemainnya bukan hanya laki-laki. Tetapi kaum perempuan dan anak di bawah umur disebut-sebut ada yang ikut terlibat.
Pelaku berdalih bukan mencuri, melainkan hanya mengambil buah sawit jatuh (brondolan) yang tidak diambil oleh pemiliknya.
Pekerjaan mengambil brondolan sawit tidak butuh tenaga ekstra dan keterampilan seperti mencuri TBS kelapa sawit. Pelaku hanya bermodal karung lalu berjalan dari satu tanam ke tanam sawit untuk mencari buah jatuh.
Sementara mencuri tandan sawit dari tanaman perlu menggunakan dodos atau egrek jika tanaman sawit tinggi.
Hal itu membutuhkan keterampilan serta mengundang perhatian, sehingga acap dilakukan malam hari serta lokasinya menyasar kebun jauh dari keramaian.
Masalah lain yang jadi penyebab maraknya pencurian kelapa sawit adalah menjamurnya ram sawit yang menerima buah sawit mentah. Ram merupakan istilah warga Aceh Singkil, untuk menyebut tempat pengepul sawit.
"Salah satu pemicu angka pencurian meningkat ram (penampung sawit mentah) menjamur di setiap desa," ujar Taufik yang juga anggota DPRK Aceh Singkil.
Penyebab berikutnya adanya ram sawit yang beroperasi malam hari. Analoginya tidak mungkin melakukan transaksi jual beli buah sawit pada malam hari. Kecuali karena alasan tertentu seperti kendaraan pembawa hasil produksi sawit dadi kebun petani terkendala di jalan.
Pencurian brondol juga dipicu harga jualnya yang lebih tinggi dibanding TBS kelapa sawit. Harga brondolan di Aceh Singkil, melejit pasca ada pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (PMKS) yang menerimanya.
Per kilogram brondol dibeli pengepul Rp 2.700 sementara TBS kelapa sawit dikisaran Rp 2.270 per kilogram.
Sebelumnya brondolan sawit hanya bisa di jual ke wilayah Sumatera Utara. Sehingga harganya tidak semahal ketika sudah ada PMKS khusus penampung brondolan di Aceh Singkil.
Bandingkan pendapatan buruh harian lepas (BHL) di Kabupaten Aceh Singkil dengan pendapatan dari mencuri brondol. Per hari BHL hanya Rp 100 ribu sementara mencuri brondolan sawit bisa mencapai Rp 200 ribu, bahkan lebih.
Baca juga: Upah Kuli Panen Sawit di Aceh Singkil Rp 200 Per Kilogram, Begini Cara Mengetahui Pemanen Terampil
Kebun sawit perusahan dan masyarakat bukan tidak dijaga. Namun seketat apapun penjagaan pencuri, lebih lihai. Ini sesuai dengan anekdot yang acap diucapkan para pemilik kebun sawit di Aceh Singkil.
Bahwa pencuri yang menjaga pemilik kebun, begitu lengah langsung digasaknya.
Plasma dan Ram
Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil, Juliadi mengatakan ekonomi merupakan salah satu faktor utama merajalelanya pencarian sawit.
Pihaknya yang membidangi perkebunan usulkan program plasma segera direalisasikan. Ia yakin jika plasma dilaksanakan oleh perusahaan maka, persoalan ekonomi bisa teratasi, sehingga pencurian sawit berkurang.
Kebun plasma merupakan perkebunan yang dibangun oleh perusahaan (inti) dan dikelola oleh masyarakat sekitar (plasma).
"Dalam hitungan kami, jika plasma dilaksanakan maka tiap keluarga miskin di Aceh Singkil, bisa dapat minimal 2 hektar kebun sawit," kata Juliadi.
Sementara itu Taufik, salah satu pemilik kebun kelapa sawit berharap Pemerintah Aceh Singkil dan aparat terkait melakukan penertiban ram atau pengepul sawit yang terima buah mentah.
"Kami berharap Pemkab Aceh Singkil, memastikan legalitas ram penampung sawit dan yang belum legal ditutup," ujar Taufik.
Kebijakan lain yang harus harus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil, mendorong perusahaan kelapa sawit lebih gencar lagi dalam melakukan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat di sekitar perusahaan.
Sementara itu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Aceh Singkil, mengakui kasus pencarian sawit cenderung meningkat. Kendati melakukan penjagaan dengan menempatkan petugas keamanan.
Dalam penanganan kasus pencurian, perusaan lebih banyak menyelesaikannya di tingkat desa yang difasilitasi aparat kemanan.
Salah satunya, pelaku membuat surat perjanjian tidak lagi melakukan pencurjan. Proses hukum baru dilakukan perusahaan bila pelaku mengulangi perbuatannya.
Nomor 2 Terluas di Aceh
Kepala Dinas Perkebunan Aceh Singkil, Junaidi mengakui bahwa kasus pencurian kelapa sawit marak di daerahnya.
Pihaknya telah mengambil sejumlah langkah untuk menekan meningkatnya pencurian sawit.
Salah satunya menggencarkan sosialisasi penerbitan surat tanda daftar budidaya (STDB) kebun kelapa sawit rakyat.
STDB sebagai bukti bahwa seseorang memiliki kebun sawit. Sehingga kedepan pengepul atau ram dan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (PMKS) hanya boleh membeli TBS kelapa sawit yang ada STDB-nya.
Dengan demikian pelaku pencuri sawit tidak bisa lagi jual sawit hasil curiannya. "Logikanya tidak punya kebun kok bisa jual sawit, makanya yang punya kebun harus ada STDB-nya. Sehingga STDB kedepan jadi syarat penjualan produksi sawit," kata Junaidi.
Pencurian kelapa sawit merupakan kasus paling dominan ditangani Polres Aceh Singkil, sepanjang tahun 2024. Tercatat ada 39 kasus pencurian kelapa sawit yang ditangani.
Berdasarkan Data Dinas Perkebunan Aceh Singkil, luas areal kelapa sawit mencapai 75.834,12 hektar (Ha).
Tak mengherankan perkebunan sawit Aceh Singkil, merupakan nomor 2 terluas di Provinsi Aceh.
Dari luas perkebunan kelapa sawit tersebut, lebih dari 50 persennya merupakan milik 14 perusahaan pemegang hak guna usaha (HGU).
Data Dinas Perkebunan Aceh Singkil, luas perkebunan kelapa sawit perusahaan pemegang HGU 44.483,12 Ha.
Sementara luas kebun sawit rakyat mencapai 31.351 Ha.(*)
Pencurian Sawit
Sawit Aceh Singkil
Pancurian Sawit di Aceh Singkil
Siapa Pencuri Sawit di Aceh Singkil
kelapa sawit
Aceh Singkil
| Di Kota Langsa, Mobil Berplat BK Diperkirakan Capai 70 Persen |
|
|---|
| Bupati Aceh Barat Serukan Warganya Pakai Plat BL, Agar Pajak tak Lari keluar Daerah |
|
|---|
| Begini Penjelasan PLN Aceh Terkait Pemberian Kompensasi Dampak Pemadaman Listrik |
|
|---|
| Bikin Gaduh! YaPKA Minta PLN Aceh Berikan Kompensasi kepada Konsumen, Terkait Listrik Padam |
|
|---|
| PLN Dituntut Berikan Kompensasi Bagi Pelanggan Atas Pemadam Listrik di Aceh Jaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kebun-Sawit-di-Aceh-Singkil.jpg)