Kupi Beungoh
Genosida Gaza dan Dosa Besar Amerika
WHO dan PBB memperingatkan bencana kelaparan dan penyakit yang meluas, sementara akses bantuan kemanusiaan terus diblokade.
Pemerintahan Trump memberi lampu hijau penuh pada Netanyahu untuk “membersihkan” Gaza, menyediakan senjata, intelijen, dan dana.
Ketika blokade total diberlakukan, Netanyahu menegaskan itu dilakukan dengan koordinasi penuh bersama Trump dan timnya.
Kongres AS, khususnya Partai Republik, bahkan lebih ekstrem: ada anggotanya yang terang-terangan menyerukan penghancuran total Gaza.
Partai Demokrat pun tak bisa lepas dari dosa besar ini. Selama 16 bulan pertama pembantaian massal, pemerintahan Biden memberikan segala yang dibutuhkan Israel: bom 1.000 ton untuk kamp pengungsi, veto di Dewan Keamanan PBB untuk menghalangi gencatan senjata.
Mayoritas anggota Kongres Demokrat terus-menerus memilih untuk tetap mengirim senjata dan dana, bahkan ketika bukti kejahatan perang sudah tak terbantahkan.
Media, Korporasi, dan Institusi Amerika Membungkam Kebenaran dan Meraup Untung
Dosa Amerika tidak berhenti di pemerintahan. Media arus utama AS, baik media liberal maupun konservatif seperti fox news berperan besar dalam menutupi kenyataan genosida.
Mereka membingkai Gaza sebagai “konflik dua pihak”, menghindari istilah “genosida” dan “pembersihan etnis”, serta jarang mengangkat suara korban Palestina.
Institusi elite AS seperti kampus Ivy League, firma hukum besar, hingga perusahaan teknologi seperti Microsoft, Alphabet (Google), Amazon, IBM, dan Palantir—ikut membungkam suara anti-genosida.
Mahasiswa dan pekerja yang bersuara dipecat, dibungkam, atau didiskriminasi.
Bahkan PBB menyoroti perusahaan-perusahaan teknologi ini yang diduga mengambil untung dari genosida.
Laporan terbaru PBB yang dirilis pada Juli 2025 menyoroti keterlibatan langsung puluhan perusahaan raksana amerika dalam mendukung dan mengambil untung dari genosida di Gaza.
Microsoft, Alphabet, Amazon, dan IBM telah memberikan akses luas kepada pemerintah Israel atas teknologi cloud, kecerdasan buatan, serta pengelolaan dan pelatihan data biometrik yang memperkuat sistem pengawasan dan kontrol terhadap warga Palestina.
Palantir Technologies bahkan diduga menyediakan teknologi prediksi otomatis dan kecerdasan buatan yang digunakan untuk pengambilan keputusan di medan perang, termasuk dalam penentuan target serangan.
Selain itu, platform sewa properti seperti Booking.com dan Airbnb juga diidentifikasi mengambil untung dari pendudukan dan perang di Gaza.
Laporan PBB ini menegaskan bahwa genosida di Gaza terus berlangsung karena menguntungkan banyak pihak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)