Opini
Dua Dekade Helsinki, Tiga Kado dari Aceh untuk Indonesia
Sejak saat itu peluru berhenti berbicara. Jalan-jalan yang pernah sunyi oleh curiga kembali diisi obrolan sepele yang
Memastikan bahwa pengalihan dana untuk program pemulihan tidak bocor di jalan. Dengan cara begitu, kata keadilan tidak hanya terdengar baik, tetapi juga terasa sampai ke meja makan.
Kado Ketiga. Kesejahteraan yang Bisa Dihitung dan Dirasakan
Kita sering terjebak pada dua kutub. Di satu sisi ada harapan yang besar. Di sisi lain ada angka yang kecil. Agar tidak habis oleh kekecewaan, kita perlu menjembatani keduanya. Kado ketiga adalah kesejahteraan yang bisa dihitung sekaligus dirasakan.
Ia bukan istilah indah, melainkan daftar kerja yang jelas. Masyarakat perlu melihat peta yang hidup, bukan rencana di lembar presentasi.
Kita bisa mulai dari tiga meja kerja yang sederhana. Meja laut, meja kebun, dan meja pasar.
Di meja laut, nelayan perlu akses bahan bakar yang wajar, pendingin yang terjangkau, dan jalur lelang yang adil. Di meja kebun, petani perlu bibit yang tahan cuaca, akses pupuk yang tidak mematahkan dompet, dan peralatan pascapanen yang bisa dipakai bersama. Di meja pasar, pelaku usaha kecil membutuhkan kepastian ruang berdagang yang bersih, biaya distribusi yang tidak menghisap, dan akses pembiayaan yang tidak menjerat.
Semua itu tidak akan terlihat jika angkanya tersembunyi. Karena itu, sudah waktunya kita menyalakan papan di balai desa yang memperlihatkan ke mana dana otonomi khusus pergi. Bukan angka total yang mengintimidasi, melainkan rincian yang bersahabat. Berapa untuk jalan tani. Berapa untuk koperasi nelayan.
Berapa untuk beasiswa. Berapa untuk layanan kesehatan jiwa. Papan sederhana seperti itu bisa mengubah rasa menjadi percaya. Ketika warga melihat namanya ada dalam daftar penerima manfaat dan bisa memantau progresnya, mereka merasa diajak ikut serta, bukan sekadar ditonton.
Kesejahteraan yang bisa dihitung juga butuh tenggat waktu yang manusiawi. Mari buat janji yang konkret. Seribu rumah nelayan yang layak dalam dua tahun. Seribu beasiswa anak keluarga korban tiap tahun. Peralatan pascapanen di seratus gampong dalam satu tahun anggaran. Mesin pendingin komunal di dua puluh pangkalan pendaratan ikan sebelum akhir musim barat. Ini bukan angka ajaib. Ini angka kerja. Jika kita gagal pada satu target, kita mengakui dan memperbaiki.
Transparansi membuat kegagalan menjadi pelajaran, bukan bahan malu. Di samping angka, ada rasa. Kesejahteraan juga berarti trotoar yang tidak bolong, air bersih yang mengalir tanpa drama, bus sekolah yang berangkat tepat waktu. Ia berarti ruang bermain yang aman agar anak bisa berlarian tanpa orang tua cemas.
Ia berarti ibu pulang dari puskesmas sambil tersenyum karena urusan beres dalam satu kunjungan. Hal-hal demikian kecil tetapi membuat hidup terasa ringan. Jika urusan kecil tertata, urusan besar lebih mudah diraih.
Kesejahteraan yang adil tidak melupakan yang di hulu. Para pekerja yang mengurusi data, administrasi, dan kebijakan perlu diberi pelatihan yang menumbuhkan kepekaan. Mereka bukan penjaga gerbang yang menolak, melainkan pemandu yang menolong orang menemukan jalannya.
Kita juga perlu merawat para pelaku budaya yang selama ini menjadi jembatan emosi. Seniman, peneliti, guru, jurnalis. Mereka adalah penjaga kata dan makna. Mereka memastikan agar angka dan kebijakan punya wajah dan suara.
Pada akhirnya, kesejahteraan yang adil akan menyalakan kebahagiaan kecil yang jujur. Tawa yang tidak dibuat-buat di warung kopi. Pujian yang singkat dari warga kepada petugas yang bekerja baik. Doa yang pelan di ruang keluarga. Kebahagiaan kecil ini menandai bahwa perdamaian sudah berubah menjadi kebiasaan. Ia tidak lagi menegangkan. Ia terasa wajar dan dekat.
Tiga kado ini sederhana. Kebenaran yang berani diucapkan. Keadilan yang menyentuh tubuh dan hati. Kesejahteraan yang bisa dihitung dan dirasakan. Di baliknya ada hormat yang dalam kepada semua yang pernah berhadapan dan kini memilih berjalan bersama.
Kepada para perunding yang mengalahkan amarahnya. Kepada keluarga yang memeluk kehilangan. Kepada masyarakat Aceh yang menjaga agar dendam tidak jadi kebiasaan. Kepada sahabat-sahabat di seluruh Indonesia yang mendoakan tanpa henti.
Kita memperingati dua dekade Helsinki bukan dengan mengulang slogan. Kita memperingatinya dengan mengirim tiga kado dari Aceh untuk Indonesia. Kado yang menghapus sedikit sedih, menyalakan harapan, dan menyisakan kegembiraan yang tenang.
Semoga doa yang dulu mengantar pertemuan itu terus memayungi kita sampai anak-anak yang hari ini berlari di halaman tumbuh menjadi orang dewasa yang tak lagi mengerti apa itu suara peluru. Yang mereka mengerti hanya satu hal. Indonesia yang adil terasa hangat di rumah, juga di Aceh.
*) PENULIS lahir dan tumbuh hingga SMA di Banda Aceh, melanjutkan bidang kompetensi seni dan kebudayaan di ISI Yogyakarta, University of Hawa’i at Manoa, dan Monash University. Email: teras.dr.ari@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ari-Palawi-83i3i.jpg)