Minggu, 17 Mei 2026

Liputan Eksklusif Aceh

Fakta-Fakta Populasi Buaya di Aceh Singkil Tinggi 

Salah satunya desakan datang dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil, Taufik

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
TERLILIT JARING: Mulut buaya terlilit jaring nelayan di sungai Lae Cinendang Desa Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, 9 Agustus 2025. 

Penulis: Dede Rosadi I Aceh Singkil 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Konflik manusia dengan buaya di Kabupaten Aceh Singkil, salah satu penyebabnya disinyalir akibat tingginya populasi buaya

Wilayah yang sebelumnya tak pernah ditemukan buaya. Belakangan sudah disatroni hewan predator tersebut. 

Hal itu muncul desakan agar populasi buaya di kabupaten berbatas samudera Hindia, dikurangi. 

Salah satunya desakan datang dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil, Taufik. 

Taufik mendesak pihak terkait serius menangani konflik manusia dengan buaya, sebelum kembali jatuh korban manusia.

Menurutnya penangan buaya harus segera dilakukan, sebelum masyarakat bertindak sendiri akibat pemerintah abai terhadap keselamatan warganya.

Penyelesaian konflik manusia versus buaya juga harus dilakukan sebelum kembali jatuh korban manusia. 

Jika sudah jatuh korban, makan tindakan reaktif yang terkadang tidak menjadi solusi jangka panjang.

"Jangan sampai korban terus bertambah, dikawatirkan masyarakat bertindak sendiri karena tidak ada penangan serius," tegasnya. 

Kepala Dinas Perikan Aceh Singkil, Saiful Umar, tidak membantah jika populasi buaya di daerahnya meningkat tanpa pengendalian. 

Penyebabnya ketersediaan predator alami seperti biawak berkurang, sehingga populasi buaya tidak terkendali. 

Faktor ini disebabkan perburuan biawak sebagai pemangsa telur dan anak buaya. 

Penyebab berikutnya kebiasaan buang bangkai ke sungai, menarik perhatiaan buaya ke area pemukiman atau lokasi aktivitas manusia.

Ia lantas membeberkan fakta-fakta lapangan populasi buaya sudah cukup tinggi. 

Antara lain pernyataan dari nelayan di sepanjang perairan sungai dan laut serta penggiat lingkungan tentang populasi buaya semakin meningkat. 

Baca juga: Demi Lihat Buaya Singkil, Petualang Eropa Rela Terbang Lintas Benua 

Hal itu ditunjukkan dengan adanya kecemasan terhadap jumlah buaya yang mulai berlebihan dan mengancam keselamatan masyarakat.

Selain itu sebutnya, pimpinan DPRK Aceh Singkil, telah mengeluarkan pernyataan agar BKSDA survei populasi buaya.

Apakah ratusan atau bahkan ribuan, sebagai dasar kebijakan penanganan seperti penangkapan atau penangkaran.

Kemudian selama periode Januari-Agustus 2025 tercatat lima kasus interaksi negatif (term welcoming dengan manusia).

Hal ini menjadi indikator nyata bahwa buaya sudah semakin sering berhadapan dengan manusia akibat meningkatnya populasinya.

"Kesimpulan berdasarkan pengamatan lapangan dan keterangan publik, terdapat sinyal kuat bahwa populasi buaya di Aceh Singkil telah meningkat secara signifikan, sehingga menjadi salah satu penyebab utama konflik antara manusia dan buaya," tegas putra Pulau Banyak tersebut.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved