Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Mengapa Roblox Dilarang?

Dia tidak dapat serta-merta mengunduh fitur baru yang diinginkan, karena ada fitur parental

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
DIAN RUBIANTY MPA, Fulbright Scholar, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh. 

Roblox yang diciptakan oleh Roblox Corporation, bukan sekedar sebuah game online biasa. Selain diciptakan sebagai sebuah platform permainan online, gim yang pertama kali dirilis pada tahun 2006 ini juga dikembangkan sebagai sistem pembuatan game (game creation system). 

Keistimewaan Roblox memungkinkan ia dapat digunakan tidak saja untuk bermain game online. Penggunanya juga dapat membuat permainan sendiri dengan menggunakan Roblox Studio dan bermain dengan gim yang diciptakannya. Selain itu, ia bisa membagi permainan ciptaannya pada siapa saja di seluruh dunia. 

Selanjutnya, gim ini juga dapat membangun  komunitas sosial imajiner. Anak dapat bermain bersama dan berinteraksi dengan pemain lain. Mereka dapat membangun strategi permainan, bernegosiasi, berbagi, sebagaimana layaknya interaksi di dunia nyata. 

Ada pula aktivitas ekonomi virtual, dimana penggunaan mata uang bernama Robux dapat digunakan para pemain untuk membeli berbagai perlengkapan bagi pemain. Robux dapat juga digunakan untuk membeli gim berbayar. 

Kemudian pada permainan Roblox ini ada avatar,  yang dapat memakai berbagai aksesoris sesuai selera pengguna (sumber: roblox website, 2023).

Saat ini terdapat beberapa game Roblox yang digemari para pemain. Misalnya, Brookhaven, sebuah game online tentang roleplay (bermain peran) tentang kehidupan sehari-hari. Anak-anak juga suka bermain Adopt Me! dimana mereka bisa mengadopsi hewan peliharaan dan membangun rumah. Ada permainan Blox Fruits. 

Gim ini merupakan sebuah permainan pertarungan dan petualangan, yang mungkin terinspirasi dari anime One Piece. 

Lantas, jika berbagai permainan dalam platform Roblox terlihat demikian asik, kenapa Mandikdasmen sampai melarang anak-anak bermain gim ini? Berdasarkan pemberitaan media, ada beberapa pertimbangan yang mendasari munculnya larangan tersebut. 

Pertama, berawal dari kekhawatiran karena beberapa konten Roblox tidak sesuai untuk anak-anak di bawah umur. Pada beberapa permainannya ada yang mengandung kekerasan, unsur seksual terselubung, atau interaksi sosial terbuka yang tidak sesuai untuk anak-anak.

Pakar pengasuhan dan psikolog anak banyak yang mendukung pembatasan atau pengawasan konten yang belum terjamin aman atau sesuai untuk tahapan perkembangan anak.

Pertimbangan berikutnya adalah kemungkinan anak berinteraksi secara daring, tanpa mekanisme keamanan diri yang cukup.

Roblox membuka peluang anak-anak berinteraksi dengan orang asing, karena memiliki fitur chat online. Jadi bisa saja informasi pribadi akan tersebar, bahkan grooming atau cyberbullying pun dapat dialami anak. 

Selain itu, kita tentu kerap mendengar bahkan mengalami sendiri, bagaimana anak bisa saja mengalami kecanduan, yang akhirnya beresiko pada terjadinya gangguan perilaku.

Gejala awal dapat dilihat dari kesulitan anak berkonsentrasi saat belajar, emosi yang mudah berubah, atau anak kurang istirahat sehingga terlihat lesu dan tidak bersemangat bangun pagi. 

Tidak jarang saat acara keluarga atau kegiatan bersama, anak-anak terlihat tidak bahagia karena ingin cepat-cepat pulang, “Ayo Yah. Ditunggu teman untuk lanjut main niy.”

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved