Opini
Mengapa Roblox Dilarang?
Dia tidak dapat serta-merta mengunduh fitur baru yang diinginkan, karena ada fitur parental
Demikian, beberapa hal yang selama ini terjadi pada anak-anak kita atau anak di sekitar kita. Tentu kita tidak menutup mata, bahwa ada juga anak-anak yang mendapat manfaat dari gim ini.
Kreativitas mereka meningkat, karena berlatih membuat gim dengan aplikasi yang ada, atau belajar dasar-dasar pemrograman. Saat bermain, anak juga menemukan cara menyelesaikan masalah, mengatur strategi bersama teman sepermainan dan membangun tim.
Menimbang berbagai hal, peran kita sebagai orang dewasa di sekitar anak tentu menjadi semakin penting dalam mendampingi agar anak-anak kita tumbuh merdeka, Sejahtera lahir dan batin.
Tidak Cukup Hanya Melarang?
Ada pepatah dalam budaya Afrika yang menyatakan, “It takes a village to raise a child.” Secara harfiah, dapat kita artikan, “membutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak.”
Artinya, ada tanggung jawab moral dan sosial dari setiap kita untuk membesarkan setiap bijeh Aceh mulia. Orang tua, guru, orang dewasa di lingkungan tempat tinggal, ulama, dan pemerintah, semuanya memiliki peran dan tugas masing-masing.
Melarang saja agar anak tidak main Roblox mungkin akan menimbulkan penolakan, jika tidak dibarengi dengan penjelasan dan dialog yang cukup terkait pelarangan tersebut. Selain alasan, menggunakan bahasa yang berpihak pada kepentingan mereka mungkin juga akan membantu.
Misalnya, “Ayah dan Ibu khawatir, kamu terlalu sering main Roblox sampai kurang istirahat, jadinya tidak fokus."
Orang tua tentu pihak yang paling mengerti, bagaimana menyampaikan hal ini kepada buah hati. Kita juga apresiasi adanya upaya Pemerintah untuk mengatur tentang perlindungan anak dari game online melalui peraturan presiden.
Menurut Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak (KPPA) Nahar, “Progress-nya sudah harmonisasi antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Sehingga tugas dan fungsi serta kewenanganannya tidak timpang tindih. Insyaallah tahun ini ditargetkan rampung," (detiknews, April 2025).
Di samping dua hal di atas, perlu juga dipikirkan upaya alternatif agar anak-anak generasi digital ini tetap mendapat media untuk menyalurkan bakat dan minatnya.
Upaya Pemerintah tidak cukup hanya dengan penetapan regulasi dan pengawasan platform digital. Perlu upaya berkelanjutan dalam edukasi digital untuk orang tua, anak dan masyarakat.
Melalui semangat perayaan kemerdekaan ke 80, kita tentu berharap anak-anak Indonesia akan tumbuh cerdas, merdeka berkreativitas dalam ruang tumbuh yang aman dan dilindungi. Tantangan kita menciptakan ruang aman ini semakin tidak mudah.
Sebagaimana dulu perjuangan menuju kemerdekaan ini tidak diperjuangkan sendirian, demikian pula hal ini. Mari peduli bersama.
*) PENULIS Fulbright Scholar, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh
email:
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dian-rubianty-mpa_20160430_090456.jpg)