Rupiah Melemah hingga Mendekati Rp 17.000 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya
“Pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global,” jelasnya.
Ringkasan Berita:
- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa meningkatnya tekanan di pasar keuangan global menjadi faktor utama melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
- Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, mengatakan tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik global
- Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik pada awal tahun.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa meningkatnya tekanan di pasar keuangan global menjadi faktor utama melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, mengatakan tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik global, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik pada awal tahun.
“Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (13/1/2026).
Akibat sentimen global tersebut, nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp 16.860 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/1/2026). Secara year to date (ytd), rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 1,04 persen.
Baca juga: Redenominasi Rupiah Kapan Diterapkan? Purbaya: Itu Urusan BI, Jangan Gue yang Digebukin
Namun demikian, Erwin menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan terjadi secara terisolasi.
Sejumlah mata uang regional juga mengalami tekanan serupa. Won Korea Selatan tercatat melemah sebesar 2,46 persen, sementara peso Filipina turun 1,04 persen secara tahunan.
“Pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global,” jelasnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui kebijakan stabilisasi yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan.
Langkah-langkah tersebut meliputi intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika Serikat, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic NDF (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Erwin menambahkan, BI akan terus berada di pasar untuk memastikan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.
Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen operasi moneter yang bersifat pro-market guna memperkuat transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas.
“BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dengan tetap mencapai sasaran inflasi,” katanya.
Sementara itu, pada perdagangan pasar spot Rabu pagi pukul 10.36 WIB, rupiah terpantau menguat tipis ke level Rp 16.863 per dolar AS, atau naik 0,08 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Baca juga: Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
Baca juga: 32.000 Pegawai SPPG Akan Diangkat Jadi PPPK pada Februari 2026, Segini Gajinya per Bulan
Baca juga: Serambi Indonesia Raih Adam Malik Award 2026 dari Kemenlu, Kategori Media Cetak Lokal Terbaik
Sumber: Kompas.com
| Rakyat tidak Pakai Dolar, Tapi Tetap Merasakan Getarnya |
|
|---|
| Akademisi Aceh Dr Hilmi Beri Pandangan Penyebab Rupiah Terus Merosot |
|
|---|
| Prabowo Sentil Mental Elite yang Dinilai Penakut: Takut Dollar hingga Krisis BBM |
|
|---|
| Rupiah Anjlok: Siapakah yang Paling Rentan? |
|
|---|
| Gawat! Dolar Amerika Sentuh Rp17.713, Publik Teringat Krisis Moneter 1998 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Karyawati-menunjukkan-mata-uang-rupiah-dan-dolar-Amerika-Serikat.jpg)