Citizen Reporter
Warisan Dunia di India, Bukan Cuma Taj Mahal
Udara dingin Dehradun menyambut saya ketika menjejakkan kaki di India. Perjalanan ini bukan sekadar kursus, melainkan juga sebuah eksplorasi
TEUKU MUKHLIS, S.T., M.T., Penyelidik Bumi Ahli Muda pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh, peserta Certificate Course in Natural Heritage Management, melaporkan dari India
Udara dingin Dehradun menyambut saya ketika menjejakkan kaki di India. Perjalanan ini bukan sekadar kursus, melainkan juga sebuah eksplorasi lintas budaya, ilmu, dan spiritualitas.
Saya datang untuk mengikuti Certificate Course in Natural Heritage Management, sebuah program yang kami ikuti melalui ITEC (Indian Technical and Economic Cooperation).
Program ini adalah inisiatif Pemerintah India yang sejak lama membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk mengirimkan peserta mengikuti pelatihan jangka pendek.
Bagi saya, kesempatan ini sangat berharga, karena relevan dengan pekerjaan saya di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) Aceh, khususnya dalam pengembangan warisan alam, ‘geoheritage’ dan rencana pengembangan ‘geopark’ di Aceh.
Kursus ini berlangsung empat minggu penuh, diselenggarakan oleh Wildlife Institute of India – Category 2 Centre (WII-C2C). Lembaga ini berada di bawah naungan UNESCO dan berfokus pada pelatihan serta penelitian warisan alam dunia.
Kota Dehradun, yang terletak di kaki pegunungan Himalaya, menjadi lokasi pelatihan kami. Suasana dingin pegunungan membuat pengalaman belajar semakin berkesan, kontras dengan hangatnya Aceh.
Peserta kursus berjumlah 19 orang dari 16 negara yang tersebar di Asia, Afrika, pulau-pulau di Amerika Utara, hingga Eropa. Suasana kelas menjadi sangat berwarna, penuh pertukaran pengalaman lintas budaya.
Duduk berdampingan dengan peserta dari Afrika dan Eropa, saya merasakan betapa isu warisan alam adalah persoalan global, meski konteks lokal berbeda.
Materi yang kami pelajari mencakup pengelolaan warisan alam, warisan budaya, Outstanding Universal Value (OUV), keanekaragaman hayati, hingga perubahan iklim. Semua disampaikan dengan cara interaktif, membuat setiap sesi terasa hidup.
Setiap akhir pekan, kami diajak keluar kelas untuk ‘field visit’. Kunjungan lapangan pertama kami adalah ke Forest Research Institute (FRI), sebuah kompleks museum dan penelitian kehutanan dengan bangunan kolonial megah. Di sana saya melihat hubungan manusia dan alam yang dipamerkan di museum, mulai dari sejarah hidup pohon purba, kerumitan sistem biologis hutan, hingga kesadaran akan nilai hutan sebagai “apotek hidup” yang esensial.
Perjalanan berlanjut ke Rajaji Tiger Reserve, kawasan konservasi yang menjadi habitat harimau dan satwa liar lainnya. Melihat bagaimana kawasan tersebut dikelola dengan sistem zonasi yang
jelas dan pelibatan masyarakat sekitar, saya belajar bahwa konservasi membutuhkan komitmen jangka panjang.
Akhir pekan berikutnya, kami menyaksikan langsung bagaimana masyarakat India mengelola Sungai Gangga. Di Rishikesh, kami melihat pertunjukan di tepi sungai, dengan cahaya lampu dan nyanyian yang menciptakan suasana religius.
Semua pengalaman ini membuka mata saya bahwa warisan alam tidak hanya soal konservasi, tetapi juga keterhubungan dengan Masyarakat dan budaya.
Salah satu kunjungan yang paling berkesan adalah ke Wadia Institute of Himalayan Geology.
Sebagai seorang geologist, kunjungan ini terasa sangat relevan. Saya semakin memahami dinamika pembentukan Himalaya, proses tektonik tumbukan dua lempeng raksasa yang terus
berlangsung hingga kini. Kondisi tektonik ini mengingatkan saya pada Aceh. Bukankah kita juga hidup di wilayah tektonik aktif? Bukankah jejak gempa dan tsunami adalah bagian dari warisan geologi kita?
Saya melihat bagaimana penelitian geologi di India mendukung pengelolaan warisan alam, sekaligus memberi inspirasi bagi rencana pengembangan Geoheritage dan Geopark Aceh.
Geopark bukan sekadar label, melainkan sebuah konsep yang menghubungkan ilmu pengetahuan, konservasi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Aceh, dengan kekayaan geologi dan budayanya, memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari jaringan geopark dunia.
Puncak eksplorasi kami adalah tur penuh ke berbagai situs UNESCO World Heritage. Dari Keoladeo National Park yang kaya burung migran, hingga Taj Mahal yang megah dan penuh makna sejarah. Kami juga mengunjungi Humayun’s Tomb dan National Museum di Delhi.
Di Keoladeo, saya merasakan keajaiban alam yang menjadi rumah bagi ratusan spesies burung.
Di Taj Mahal, saya terpesona oleh keindahan arsitektur yang menjadi simbol cinta abadi.
Marmer putih yang menghiasi Taj Mahal terbentuk melalui proses geologi yang sangat panjang: metamorfosis batu gamping di lingkungan laut dangkal selama jutaan tahun. Melihatnya, saya merasa seolah ilmu geologi dan seni arsitektur berpadu dalam satu karya agung.
Di Humayun’s Tomb dan National Museum, saya belajar bagaimana warisan budaya dipelihara dan ditafsirkan untuk generasi masa depan. Semua kunjungan ini memberi pelajaran baru: bahwa warisan dunia adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pengalaman di Dehradun
Selain belajar, saya juga merasakan pengalaman religius yang unik. Saat shalat Jumat di salah satu masjid di Dehradun, saya mendapati perbedaan tradisi dengan Aceh. Di sana, setelah masuk
waktu zuhur, imam memberikan ceramah sekitar 45 menit. Baru kemudian khatib naik mimbar, azan dikumandangkan, khutbah Jumat disampaikan singkat sesuai rukun, lalu shalat dimulai.
Bagi saya, ini adalah pengalaman spiritual yang memperkaya pandangan tentang keberagaman praktik Islam. Islam memang satu, tetapi cara umat melaksanakan ibadah bisa berbeda sesuai dengan tradisi dan budaya setempat.
Refleksi untuk Aceh
Saya pulang dengan kesadaran baru. Aceh memiliki kekayaan geologi yang luar biasa: zona subduksi aktif, patahan lempeng, gunung api, panas bumi, karst, dan jejak tsunami yang diakui dunia. Semua itu bukan hanya potensi sumber daya, melainkan juga warisan Bumi yang membutuhkan pengelolaan.
Belajar di India membuat saya semakin yakin bahwa warisan tidak akan lestari tanpa sistem, tanpa partisipasi masyarakat, dan tanpa komitmen kebijakan. Pengelolaan yang baik bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari perencanaan dan disiplin.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa belajar tidak selalu tentang mendapatkan jawaban, tetapi juga tentang menemukan pertanyaan yang lebih dalam. Yakni, apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga warisan Bumi Aceh? Bagaimana kita mengelola lanskap yang menyimpan sejarah gempa dan tsunami? Sudahkah kita mempersiapkan generasi mendatang untuk memahami nilai tanah tempat mereka berpijak?
Dari dinginnya Dehradun hingga hangatnya tanah Aceh, saya membawa pulang satu keyakinan: warisan Bumi adalah amanah. Ia harus dijaga, dikelola, dan diwariskan dengan bijak. Kursus ini bukan sekadar menambah pengetahuan tentang warisan alam dan budaya. Lebih dari itu, ia
adalah sebuah eksplorasi: belajar di kelas, menjelajah alam, menyelami budaya, dan merasakan spiritualitas di negeri orang.
Semua pengalaman ini saya bawa pulang sebagai bekal untuk menguatkan pengelolaan warisan alam dan budaya di Aceh, khususnya dalam rencana pengembangan geopark pertama di Aceh. Semoga!
Penulis Citizen Reporter
Citizen Reporter
Penulis CR
Warisan Dunia di India Bukan Cuma Taj Mahal
TEUKU MUKHLIS
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TEUKU-MUKHLIS-OKE.jpg)