Salam
Percepat Salurkan Bantuan
BANJIR besar yang melanda hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh kembali menorehkan luka mendalam bagi masyarakat.
BANJIR besar yang melanda hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh kembali menorehkan luka mendalam bagi masyarakat. Lebih dari seratus jiwa dikabarkan telah meninggal dunia, sementara kerugian harta benda tak terhitung jumlahnya. Air bah yang datang tiba-tiba bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga memutus akses kehidupan warga di berbagai daerah. Rumah hanyut, sawah rusak, dan jalan-jalan utama tertutup lumpur. Aceh kini menghadapi ujian berat, bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk bangkit dari keterpurukan.
Bantuan sebenarnya sudah tersedia. Dari pemerintah, lembaga swadaya, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat luas, kepedulian mengalir dalam berbagai bentuk. Namun, masalah utama justru terletak pada pendistribusiannya. Jalan yang rusak, jembatan yang putus, serta akses ke daerah pegunungan yang terisolasi membuat bantuan sulit menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menegaskan bahwa kendala utama bukan pada ketersediaan barang, melainkan pada sarana transportasi. “Barangnya sudah ada. Kendalanya, tidak dapat kita salurkan ke pelosok-pelosok karena transportasi tidak ada. Kalau ada helikopter, mungkin secepat mungkin bisa kita salurkan, terutama untuk warga yang tinggal di kawasan pegunungan,” ujarnya saat meninjau distribusi bantuan, Minggu (30/11/2025).
Di lapangan, warga berusaha dengan segala cara. Di Bireuen, logistik ditarik menggunakan tali di jembatan yang terputus. Kreativitas warga memang patut diapresiasi, tetapi jelas tidak cukup untuk menjawab kebutuhan ribuan korban yang terjebak tanpa akses. Apalagi kondisi di wilayah tengah Aceh, yang kini sangat terisolir akibat musibah yang snagat menghancurkan itu. Upaya swadaya masyarakat hanya mampu menjangkau sebagian kecil korban, sementara ribuan lainnya masih menunggu uluran tangan.
Dimana-mana, distribusi selalu menjadi persoalan utama dalam setiap bencana besar. Karena itu, pemerintah harus bergerak cepat. Pemerintah memiliki sarana dan prasarana yang tidak dimiliki masyarakat: helikopter, peralatan berat, dan jaringan koordinasi. Semua itu harus segera dimobilisasi. Jangan sampai korban-korban baru bermunculan akibat kelaparan dan keputusasaan, hanya karena bantuan terlambat datang.
Bencana memang tak bisa dihindari, tetapi penderitaan bisa diminimalisir jika respons dilakukan dengan sigap. Percepatan distribusi bantuan adalah kunci. Aceh membutuhkan kehadiran negara, bukan sekadar janji. Kehadiran nyata pemerintah dalam bentuk tindakan cepat akan menjadi penentu apakah korban selamat atau justru bertambah.
Tragedi ini bukan hanya milik Aceh, milik Sumatera Utara, atau milik Sumatera Barat, yang saat ini sama-sama sedang berjuang bertahan hidup. Musibah banjir ini adalah milik kita semua sebagai bangsa. Saat saudara kita di pulau Sumatera berjuang bertahan hidup, seluruh elemen bangsa harus bersatu. Pemerintah wajib memastikan distribusi berjalan cepat dan tepat, sementara masyarakat di berbagai daerah dapat menunjukkan solidaritas dengan menggalang bantuan, doa, dan dukungan moral.
Aceh pernah menjadi simbol ketangguhan menghadapi bencana tsunami pada tahun 2004. Kini, dengan solidaritas nasional, kita bisa memastikan bahwa harapan tetap hidup di tengah genangan air dan endapan lumpur. Jangan biarkan keterlambatan distribusi menghapus semangat warga yang masih berjuang. Percepat salurkan bantuan, karena setiap menit yang hilang bisa berarti nyawa yang melayang.(*)
POJOK
Rumah-rumah di Blang Awe hilang bentuk tertimbun tanah
Semoga pemiliknya diberikan ketabahan dan kekuatan
Pusat kerahkan 3 unit helikopter di SIM untuk distribusi bantuan
Korban bencana menanti kedatanganmu!
Satpol PP amankan pasangan di hotel Peunayong, sekamar berempat
Astaghfirullah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pln_banjir-2.jpg)