Kamis, 23 April 2026

Kesehatan

Ingin Olahraga Saat Ramadhan? Perhatikan 3 Kunci Ini agar Tak Lemas dan Dehidrasi

Berpuasa bukan berarti harus berhenti berolahraga. Aktivitas fisik tetap boleh dilakukan selama bulan Ramadhan, asalkan tahu batasannya.

Editor: Amirullah
freepik/stockking
ilustrasi olahraga pagi hari, salah satu cara untuk meningkatkan energi di pagi hari (freepik/stockking) 

SERAMBINEWS.COM – Berpuasa bukan berarti harus berhenti berolahraga. Aktivitas fisik tetap boleh dilakukan selama bulan Ramadhan, asalkan tahu batasannya.

Tubuh sedang tidak mendapat asupan makan dan minum selama belasan jam, jadi cara berolahraganya pun perlu sedikit penyesuaian.

Bukan soal boleh atau tidak, tapi bagaimana melakukannya dengan aman agar tidak berujung lemas atau bahkan dehidrasi.

Berikut beberapa hal yang patut diperhatikan.

1. Peka terhadap tanda-tanda dehidrasi

Saat puasa, cadangan cairan jelas lebih sedikit dari biasanya. Jika dipaksa melakukan aktivitas berat tanpa memperhatikan kondisi tubuh, risiko dehidrasi bisa meningkat.

Karena itu, penting untuk mengenali sinyal yang diberikan tubuh. Mulai dari rasa lemas berlebihan, pusing, sakit kepala, mulut terasa kering, hingga sulit berkonsentrasi. Jangan abaikan tanda-tanda ini. Jika sudah muncul, sebaiknya segera hentikan aktivitas dan beristirahat.

Tubuh biasanya sudah “berbicara” lebih dulu sebelum benar-benar drop.

2. Turunkan intensitas, jangan samakan dengan hari biasa

Energi yang biasanya didapat dari makan siang atau camilan tentu tidak ada saat puasa. Artinya, kemampuan tubuh untuk berolahraga intensitas tinggi juga ikut menurun.

Tidak ada salahnya menurunkan tempo. Pilih olahraga ringan seperti jalan kaki, lari santai, bersepeda pelan, atau yoga. Yang penting tubuh tetap aktif tanpa dipaksa bekerja terlalu keras.

Jangan lupa pemanasan di awal untuk mengurangi risiko cedera, karena kondisi tubuh saat puasa bisa berbeda dari biasanya.

3. Cermat memilih waktu

Waktu olahraga juga berpengaruh besar. Berolahraga di siang hari saat cuaca panas tentu lebih menguras tenaga dan cairan.

Banyak orang memilih waktu menjelang berbuka atau ngabuburit. Keuntungannya, setelah selesai berolahraga, tubuh bisa segera mendapatkan asupan cairan dan energi saat azan magrib berkumandang.

Alternatif lain adalah setelah berbuka puasa. Tubuh sudah kembali terisi energi sehingga terasa lebih kuat untuk bergerak.

Intinya, dengarkan tubuh dan jangan memaksakan diri. Puasa tetap lancar, olahraga pun tetap jalan—asal tahu cara menyesuaikannya.

(TribunHealth.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved