Kesehatan
Ini Bahaya Obat Diabetes Dipakai untuk Diet Instan
Penggunaan obat suntik diabetes tipe 2 untuk menurunkan berat badan secara instan dinilai berbahaya jika dilakukan tanpa pengawasan dokter.
Ringkasan Berita:
- Obat diabetes tertentu memang bisa membantu menurunkan berat badan karena menekan rasa lapar, namun penggunaannya hanya untuk indikasi medis tertentu.
- Banyak orang memakai obat ini secara mandiri dan menaikkan dosis tanpa arahan dokter, sehingga memicu mual, muntah, gangguan lambung, hingga radang pankreas.
- Penyalahgunaan makin marak karena obat keras mudah dibeli di marketplace online tanpa resep dan pengawasan ketat.
SERAMBINEWS.COM - Penggunaan obat suntik diabetes tipe 2 untuk menurunkan berat badan secara instan dinilai berbahaya jika dilakukan tanpa pengawasan dokter.
Meski dapat menekan nafsu makan dan menurunkan berat badan, penyalahgunaan obat ini berisiko menimbulkan efek samping serius hingga kerusakan organ.
Tren penurunan berat badan atau diet instan belakangan ini diwarnai oleh fenomena medis yang cukup berbahaya, lantaran menggunakan obat suntik untuk terapi diabetes tipe 2.
Banyak masyarakat tergiur dengan klaim tubuh langsing tanpa menyadari besarnya risiko jangka panjang yang mengintai kesehatan organ dalam mereka.
Fenomena ini mencuat setelah beberapa jenis insulin terbukti memiliki efek samping berupa memangkas angka timbangan secara drastis.
"Ada obat-obat baru yang menyebabkan seseorang itu menjadi turun berat badannya, lemaknya berkurang karena faktanya obat itu menutupi pusat lapar dan pusat kenyang," jelas Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM dalam sesi media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Baca juga: Dijenguk Relawan Psikososial, Anak Penyintas Banjir di Aceh Tamiang Menangis Haru
Mekanisme kerja insulin pada dasarnya memang menekan nafsu makan secara ekstrem.
Penggunaannya yang praktis, yakni hanya dengan satu suntikan setiap minggu, membuatnya sangat diminati oleh kalangan urban yang sibuk.
Penderita diabetes melitus yang memiliki masalah kelebihan berat badan sangat terbantu karena asupan kalori harian mereka dapat ditekan.
"Jadi, begitu orang itu dikasih obat ini, dia setiap saat tuh merasa kenyang. Kalau dihitung sampai enam bulan, itu bisa turun 20 kilogram," ucap Prof. Yunir.
Ia melanjutkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebenarnya telah memberikan izin penggunaan obat penekan rasa lapar tersebut untuk indikasi penanganan obesitas tingkat lanjut.
Namun, regulasi medis yang ketat mengharuskan pasien mencoba program penurunan berat badan alami terlebih dahulu sebelum beralih ke obat keras.
Baca juga: VIDEO Kapal Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz Bersiap Balik ke Indonesia
"Kami sudah bikin panduannya obesitas level berapa. Yang levelnya masih ringan suruh olahraga dulu tiga bulan, kalau enggak capai target baru masuk ke obat itu," tutur Prof. Yunir.
Bahaya dosis mandiri
Sayangnya, obsesi terhadap bentuk tubuh ideal di kalangan kaum muda membuat banyak orang mengambil jalan pintas dengan menyuntikkan obat tersebut tanpa indikasi medis yang jelas.
Dosis yang digunakan pun sering kali dinaikkan secara sepihak dengan harapan lemak menyusut jauh lebih cepat daripada anjuran dokter.
| Masuk Usia 50 Tahun? Ini 7 Tips Kardio Agar Jantung Tetap Sehat |
|
|---|
| Diabetes di Indonesia Bak Gunung Es, Jutaan Orang Belum Terdeteksi |
|
|---|
| 4 Cara Mengatasi Bau Kaki, Ampuh Hilangkan Bau Tak Sedap dan Tingkatkan Percaya Diri |
|
|---|
| 10 Manfaat Buah Nanas untuk Kesehatan, Bisa Turunkan Kolesterol hingga Jaga Imun |
|
|---|
| 7 Bahaya Konsumsi Karbohidrat Berlebih, Bisa Picu Diabetes hingga Penyakit Jantung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/obat-diabetes1.jpg)