Korban Banjir Singkil
Banjir Masih Seleher, Korban Banjir Singkil Bertahan di Para-para
Banjir di permukiman penduduk Pea Bumbung, Ujung Bawang dan Pemuka serta Suka Damai, Kecamatan Singkil, masih seleher orang
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Ansari Hasyim
Ringkasan Berita:
- Lantaran banjir masih dalam warga, bertahan di pengungsian.
- Salah satu titik pengungsian di kawasan itu adalah jembatan Ujung Bawang.
- Sementara sebagai besar warga membuat pengungsian mandiri di teras rumah dengan membangun para-para.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Banjir di permukiman penduduk Pea Bumbung, Ujung Bawang dan Pemuka serta Suka Damai, Kecamatan Singkil, masih seleher orang dewasa, Minggu (30/11/2025).
Memang dibanding sehari sebelumnya sudah jauh surut.
Ketika puncak banjir, air mencapai dua meter di dalam rumah warga yang sudah dibangun tinggi dari tanah.
"Di rumah kami barusan dicek masih 1,5 meter," kata Khalikul warga Pea Bumbung.
Lantaran banjir masih dalam warga, bertahan di pengungsian.
Salah satu titik pengungsian di kawasan itu adalah jembatan Ujung Bawang.
Sementara sebagai besar warga membuat pengungsian mandiri di teras rumah dengan membangun para-para.
Baca juga: Beras Habis, Korban Banjir Singkil Makan Ubi
Para-para merupakan kearifan lokal yang dimiliki korban banjir di Aceh Singkil.
Para-para banguna darurat yang dibuat dari papan serta broti.
Banguna tersebut dibuat tinggi agar tidak terjangkau banjir.
Di para-para itu korban banjir bertahan, untuk memasak, menyimpan barang, tidur saling berhimpitan bersama anggota keluarga.
Berdasarkan pantauan Serambinews.com (Serambi Indonesia) korban banjir di Ujung Bawang, Pea Bumbung, Pemuka dan Suka Damai, masih bertahan di para-para.
Nahas setelah berhari-hari bertahan dalam kepungan banjir dengan listrik padam, gas elpiji untuk masak sudah habis.
"Gas habis. Masak menggunakan kayu tidak bisa," kata Sanah warga Ujung Bawang.
Haji Arus korban banjir lainnya mengatakan, saat puncak banjir dirinya sempat dua kali membuat para-para.
Namun tetap terendam banjir sebab saat puncak banjir, Rabu-Jumat (26-28) ketinggian air mencapai dua meter di rumahnya.
Akhirnya memilih mengungsi ke tempat anaknya yang masih bisa membuat para-para.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/korban-banjir-utht.jpg)