Kamis, 23 April 2026

Berita Lhoksemawe

Mahasiswa Unimal Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Aceh, Sumut, & Sumbar

Dengan kondisi kritis seperti sekarang, saya berharap pemerintah pusat melihat ini bukan sebagai isu politik wilayah,

|
Penulis: Zaki Mubarak | Editor: IKL
Dok. pribadi
KETUM HIMA-AP: Revo Bayu Erlangga Saragih. 

Dengan kondisi kritis seperti sekarang, saya berharap pemerintah pusat melihat ini bukan sebagai isu politik wilayah, tetapi sebagai krisis kemanusiaan. Semua warga negara berhak atas perlindungan yang sama. Indonesia tidak boleh menunggu lebih lama.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zaki Mubarak | Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM,LHOKSEUMAWE - Rangkaian banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat sejak November 2025 telah memasuki fase yang benar-benar kritis. 

Dampaknya tidak lagi bersifat lokal, tetapi telah menjelma menjadi krisis kemanusiaan besar yang mengguncang tiga Provinsi sekaligus. 

Laporan BNPB daerah dan pemberitaan nasional menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah korban meninggal, warga hilang, serta gelombang pengungsian yang terus membesar.

Namun hingga kini, pemerintah pusat belum menetapkan bencana ini sebagai bencana skala nasional, padahal seluruh indikator yang disyaratkan sudah terlampaui.

“Ribuan rumah rusak, lahan pertanian terendam, jaringan listrik terputus, dan akses transportasi di banyak titik lumpuh total. 

Di sejumlah lokasi pengungsian, pasokan makanan dan air bersih mulai menipis, meningkatkan risiko kesehatan dan memperdalam penderitaan masyarakat. 

Korban jiwa terus bertambah, puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal, dan pemerintah daerah kelelahan menghadapi situasi ini. Jika bukan ini, lalu apa yang layak disebut bencana nasiona," ujar Ketua Umum HIMA-AP, Revo Bayu Erlangga Saragih, yang juga mahasiswa Administrasi Publik FISIP Unimal, Minggu (30/11/2025).

Menurut Revo, penetapan status bencana nasional bukan sekadar urusan administratif. 

Status tersebut akan membuka akses penggunaan sumber daya negara secara menyeluruh: pengerahan penuh TNI, koordinasi lintas kementerian, mobilisasi logistik nasional, hingga dukungan relawan dari berbagai wilayah.

Kerusakan rumah, gagal panen, dan minimnya layanan kesehatan di lokasi pengungsian menjadi potensi ancaman baru yang dapat memicu, krisis kesehatan di tenda-tenda pengungsian.

Kemudian, lonjakan stunting akibat kurangnya pemenuhan gizi darurat, kelangkaan air bersih, terhentinya aktivitas pendidikan, melambatnya roda ekonomi daerah, dan potensi gelombang pengungsian lanjutan jika situasi tidak membaik.

Semua ini menunjukkan bahwa krisis tidak berhenti pada hari ini. Ada bayang-bayang masalah jangka panjang yang harus diantisipasi negara.

Revo menegaskan bahwa bencana ini bukan hanya milik Sumatera Utara, Aceh, atau Sumatera Barat. Krisis ini mencerminkan betapa rapuhnya banyak wilayah di Indonesia ketika bencana terjadi secara simultan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved