Jurnalisme Warga
Pesan Lara dari Alam
Pernahkan kita tersadar bahwa semua itu tidak sebatas karena kehendak alam.
Di sanalah pangkal kekeliruannya. Manusia kini banyak yang telah melampaui haknya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang sudah Allah Swt hadirkan.
Kini, saat alam menunjukkan laranya, manusia hanya dapat termenung meratapi semuanya.
Fenomena alam yang datang hanya sebagai pemantik dari terluapkannya ekspresi lara dari alam saat menatap sebagian manusia yang serakah dan tamak dengan kekayaan alam yang dikandungnya.
Saat kepunahan tidak memberi efek jera, maka bencana alam mungkin dirasakan dapat memaksa mereka untuk kembali introspeksi diri atas perbuatannya selama ini.
Manusia yang menggaungkan modernisasi, tetapi merampas hak alam untuk menjaga kekayaannya dan keseimbangan siklusnya kini berbuah bencana.
Di saat semua perangkat teknologi menggunakan listrik, kini saat aliran listriknya padam karena terdampak bencana alam seharusnya memberikan sebuah penyadaran yang paling mendasar dan bermakna. Manusia sejatinya hanyalah makhluk kecil di tengah alam yang luas ini.
Setelah semuanya mereda, coba bersama-sama kita kembalikan keseimbangan alam tersebut. Meskipun memerlukan waktu yang tidak sebentar, tetapi setiap langkah awal yang diambil tentu akan mendorong para perubahan yang berdampak jika dilakukan dengan konsisten. Mitigasi kebencanaan tetap dapat diterapkan, perbaikan pada alam yang dahulu rusak dapat dilakukan, hingga keseimbangan alam tampak kembali sebagaimana mestinya.
Harus dijaga
Keseimbangan yang dimaksud bukan juga menunda kemajuan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Namun, memastikan juga bahwa setiap pemanfaatan yang dilakukan tidak menganggu jaringan ekosistem yang lainnya.
Ikatan mutualisme yang terjalin harus berlandaskan pada sebuah perspektif bahwa segala kekayaan yang ada di alam ini adalah anugerah Allah Swt yang harus dijaga dan dikelola dengan bijak.
Kita harus kembali mengingat Surah Ibrahim ayat 32-34 yang artinya, “Allahlah yang telah menciptakan langit dan Bumi, menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Dia juga telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia pun telah menundukkkan sungai-sungai bagimu. Dia telah menundukkan bagimu Matahari dan Bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang. Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar zangat zalim lagi sangat kufur.”
Melalui perenungan yang mendalam akan makna dari surah tersebut, semoga kita semua dapat lebih bijaksana dalam memanfaatkan kekayaan alam. Juga mampu memitigasi potensi bencana yang sewaktu-waktu kembali menyapa.
Dari Jakarta, saya menyampaikan turut prihatin kepada saudara-saudara yang terdampak musibah di Pulau Sumatra, khususnya Aceh, tempat saya pernah kuliah, dan Sumatra Barat, asal muasal leluhur saya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Melinda-73jen.jpg)