Jurnalisme Warga
Pesan Lara dari Alam
Pernahkan kita tersadar bahwa semua itu tidak sebatas karena kehendak alam.
Oleh: MELINDA RAHMAWATI, M.Pd., alumnus Pendidikan IPS Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, melaporkan dari Jakarta
BENCANA hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, badai, dan kekeringan bukan hal baru di Indonesia. Bumi yang dilintasi garis khatulistiwa ini tentu sangat rentan dengan perubahan siklus hidrologi yang berlangsung cepat.
Anugerah sebagai kawasan tropis dengan iklim yang cocok untuk makhluk hidup dan berbagai vegetasi yang menopang ekosistem, kini seolah sedang menumpahkan amarahnya.
Seakan berkata kepada kita semua, “Cukup! Sadarlah! Semua ini sedang tidak seimbang!”
Datangnya Siklon Senyar yang mengakibatkan status siaga cuaca ekstrem di sepanjang Pulau Sumatra, seketika menyebabkan bencana hidrometeorologi secara serentak di berbagai wilayah di sana.
Banjir yang memutus jembatan penghubung antardesa dan kota, tanah longsor yang meratakan bangunan bersamanya. Juga puting beliung yang merobohkan pohon besar dan menara transmisi listrik telah nyaris melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Kini, di antara kita banyak yang seolah menyalahkan alam. Air yang menggenang di permukiman dan nyaris menenggelamkan rumah serta menghanyutkan apa pun yang ditemuinya menyebabkan banyak kehilangan materi.
Pernahkan kita tersadar bahwa semua itu tidak sebatas karena kehendak alam. Saya teringat dengan Surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Penebangan hutan yang tidak terkendali, aliran sungai yang menyempit di hilir, daerah kawasan serapan air hujan yang semakin berkurang, dan banyak lagi perubahan lanskap alam yang terjadi untuk berbagai keperluan manusia yang kini menjadi lara bagi alam.
Ekosistem yang tidak seimbang tidak hanya berdampak bagi punahnya makhluk hidup di alam, tetapi juga turut berdampak kepada manusia secara langsung seperti yang terjadi saat ini.
Akumulasi lara yang selama ini ditanggung oleh alam, kini telah menunjukkan ekspresi nyatanya. Siklon Senyar sejatinya hanyalah fenomena alam yang tidak dapat dihindari. Namun, sejatinya fenomena alam tentu dapat kita mitigasi dan minimalisasi dampaknya.
Kekayaan alam yang selama ini telah tersedia dan menopang hidup manusia, telah berubah menjadi sebuah bencana yang mengisolasi dan memilukan. Kenikmatan yang selama ini hadir ini memberikan lara yang menyayat hati. Alam seakan tengah menceritakan laranya dan ingin menyadarkan bahwa keseimbangan alam adalah hal vital. Tanpa keseimbangan yang terjaga, semuanya akan sirna tak bertepi.
Tangis karena kehilangan harta benda dan materi lainnya kini terdengar lantang. Banyak masyarakat harus mengungsi ke tempat yang lebih aman, menunggu alam selesai menumpahkan lara yang selama ini ditanggungnya.
Mereka hanya duduk termenung menyaksikan kekuatan sangat besar dari alam lalu merenggut semua yang telah dimiliki.
Banyak daerah yang terisolir akibat jalan utama dan/atau jembatan penghubung yang selama ini menjadi akses utama terputus. Segenap bantuan tengah diupayakan untuk sampai kepada mereka yang terdampak. Masyarakat yang terdampak terus berupaya untuk bertahan di tengah kondisi yang belum kembali stabil. Kondisi tersebut mengingatkan saya pada Surah Al-Ankabut ayat 40 yang artinya, “Masing-masing (dari mereka) Kami azab karena dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan angin kencang (yang mengandung) batu kerikil, ada yang ditimpa dengan suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Tidaklah Allah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri.”
Selanjutnya, pada ayat ke-44 telah disampaikan, “Allah menciptakan langit dan Bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang mukmin.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Melinda-73jen.jpg)