Banjir Landa Aceh
Korban Banjir Bandang Aceh Timur, Masih Bertahan di Tenda Pengungsian
Korban banjir bandang Kabupaten Aceh Timur, Masih bertahan di tenda pengungsian yang berada di titik-titik pengungsian seluruh Wilayah
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Maulidi Alfata I Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Korban banjir bandang Kabupaten Aceh Timur, Masih bertahan di tenda pengungsian yang berada di titik-titik pengungsian seluruh Wilayah Kabupaten tersebut.
Pantauan Serambinews.com, di lapangan, pada Minggu (7/12/2025), masyarakat bertahan di tenda pengungsian lantaran mayoritas dari mereka rumahnya rusak dan hanyut dibawa banjir, sementara sebagian lagi bertahan karena rumahnya dipenuhi lumpur yang tebal hingga tak bisa masuk ke rumah.
Herman, salah satu pengungsi di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur menjelaskan bahwa, di Gampong tempat tinggalnya yaitu Grong-grong kerusakan mencapai 90 persen.
Seluruh masyarakat mengungsi di jalan lintas desa
"Kami mengungsi di jalan lintas desa, itupun di titik aman, karena beberapa ruas jalan desa juga amblas dan sangat parah, kerusakan di sini bahkan mencapai 90 persen, mulai dari rumah hingga jalan semua di telah banjir," paparnya.
Baca juga: Jembatan Pante Lhong Bireuen Putus, Warga Berjuang Bersihkan Lumpur
Ia menjelaskan bahwa, kerusakan parah di Desa Grong-grong disebabkan akibat jebolnya tanggul dan meluapnya air sungai.
Sehingga arus banjir yang mengalir sangat kencang dan menabrak semua yang ada.
"Kami kan dekat dengan sungai di sini, jadi air sungai meluap ditambah jebol tanggul, makanya banyak rumah yang disapu bersih, karana arus air sangat kencang," ungkapnya.
Ia menceritakan awal naik air Rabu (26/11/2025) malam, sekitar pukul 00.00 WIB, saat itu beberapa pemuda melihat air sungai sudah meluap keluar, kemudian mereka membuat pengumuman untuk siaga.
Tak berapa lama tanggul yang ada di dekat desa jebol, suasana evakuasi yang awalnya tenang berubah jadi panik, semua mencari tempat perlindungan.
"Semua panik, dan mencari tempat tinggi, jadi kami utamakan anak-anak dan perempuan untuk mengungsi ke tempat tinggi ke arah perbatasan desa dengan jalan lintas nasional, selanjutnya baru kami mengungsi, seluruh harta benda banyak yang enggak dapat kami selamatkan karena banjir begitu cepat," jelasnya.
Akses jalan antar desa Grong-grong dan Matang Peureulak terputus akibat banjir Bandang, kini warga harus berjalan di plantaran sungai atau naik rakit untuk bisa tetap terhubung antar desa.
Warga bertahan di pengungsian tidak hanya terjadi di Pante Bidari, tetapi juga di Simpang Ulim, Simpang Jernih, Birem Bayeun, Peunaron dan Peureulak.
Mayoritas yang masih bertahan di tenda pengungsian karena rumah sudah tiada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/banjir-8y90ol.jpg)